Sinyal Perjuangan di Gardu Sunyi
Penulis / Redaksi:
admin
Selasa, 22 September 2026 19:30 WITA
164 tayangan
4 menit baca
Catatan M Danial
MELINTAS di daerah Labuang, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Pandangan saya tertuju pada sebuah bangunan tua. Terlihat kusam. Berdiri sejak lebih dua dekade yang lalu. Di belakangnya terdapat dua menara rangka baja: Tower seluler. Di bagian atas tower terdapat peralatan berupa antena pemancar dan penerima sinyal.
Bagi Gen Z. Yang jemarinya akrab dengan keypad HP, android, layar sentuh dan sinyal internet yang serba cepat. Bangunan berarsitektur masa lalu yang tampak tak terawat. Akan dianggap tak lebih dari sekadar infrastruktur usang. Apalagi sekeliling bangunan terlihat hampir separuh tertutup rumput liar.
Tidak banyak yang menyadari. Bangunan tua itu adalah gardu PT Telkom. Keberadaannya cukup krusial menyertai perkembangan daerah di kawasan ini dari waktu ke waktu. Mulai akhir dekade 1990-an melintas ke awal 2000-an. Ketika perjuangan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Sulawesi Barat masih di persimpangan takdir. Ketika semangat para tokoh dan masyarakat makin membara pasca Deklarasi Galung Lombok, November 1999. Ibarat sumbu yang mengobarkan api semangat untuk segera mewujudnya lahirnya provinsi baru di Tanah Mandar.
Kabupaten Polewali Mandar (Polman) masih bernama Polewali Mamasa (Polmas). Sebelum Mamasa terbentuk menjadi kabupaten pemekaran dari Polmas. Kala itu, komunikasi masih sangat bergantung pada jarak, waktu, dan kesabaran. Kabar dari keluarga di rantau. Atau relasi di daerah lain. Hanya bisa tersampaikan melalui surat dan jasa pos. Prosesnya lama. Kerap berhari-hari, bahkan minggu. Telepon masih berupa barang mewah. Mahal pula. Tak mudah digunakan sembarang orang. Hanya terdapat di kantor-kantor tertentu. Atau di segelintir rumah tertentu pula.
Perubahan perlahan terjadi pada akhir dekade 1990-an menuju awal 2000-an. Ketika PT Telkom membangun gardu dan menara tower di Labuang. Menara itu menjadi penanda awal kehadiran telepon tanpa kabel di daerah ini. Hadir untuk menjangkau antar wilayah hingga melintasi pulau. Telepon seluler menjadi simbol kemewahan. Hanya dimiliki kalangan terbatas. Pejabat dan pegawai tertentu, pengusaha, dan segelintir orang yang punya akses lebih. Bentuknya besar. Berat pula untuk dibawa-bawa. Antenanya mencuat. Tarif pulsanya tak ramah bagi kebanyakan penggunanya.
Suatu ketika. Seorang pengendara motor mengalami kecelaaan karena sibuk dengan HP saat berkendara. Perhatiannya terbagi, hingga nyaris menabrak bendi di depannya. Ada pula pemotor yang terperosok ke parit di pinggr jalan. Penyebabnya, ia berusaha mengambil HP yang terus berdering di kantongnya. Mungkin panggilannya dianggap sangat penting. Belum sempat menjawab panggilan, justru lebih dahulu “menjawab” parit.
Kisah-kisah itu mungkin terdengar lucu. Namun menjadi catatan kecil yang memiliki kesan tersendiri. Tentang bagaimana teknologi baru perlahan mengubah kebiasaan manusia. Dulu HP adalah barang mewah. Yang membuat orang masih rela berhenti untuk menerima telepon. Kini sebaliknnya, banyak orang sulit berhenti menggunakan HP, bahkan ketika sedang berkendara.
Geografi wilayah Mandar yang terdiri pesisir, dataran rendah hingga pegunungan. Dahulu dikenal sebagai wilayah Pitu Ulunna Salu – Pitu Ba’bana Binanga bukanlah medan yang mudah ditaklukkan. Kala itu, jarak antar kabupaten terasa begitu jauh. Dipisahkan oleh infrastruktur jalan yang terbatas. Dan saluran komunikasi yang terisolasi oleh alam. Saat itulah kehadiran teknologi komunikasi dan takdir politik saling berkelindan. Gardu Telkom dan menara nirkabel menjadi saksi bisu era seluler generasi pertama di Tanah Mandar. Melalui sinyal nirkabel yang dipancarkan melalui instalasi di Gardu Labuang. Denyut nadi perjuangan pembentukan Provinsi di Tanah Mandar terus mengalir.
Komunikasi, saling berbagi informasi untuk penguatan semangat dan konsolidasi perjuangan. Petunjuk, arahan, bahkan instruksi penting, awalnya semua tersampaikan melalui pesan singkat short massage service (SMS). Belakangan muncul fitur baru black barry messenger (BBM) di awal dekade 2000-an. Pesan perjuangan melesat dalam hitungan detik. Menembus batas kecamatan hingga desa. Progres lobi-lobi politik dengan anggota DPR RI dan tokoh-tokoh kunci di pusat kekuasaan dan gedung parlemen, Jakarta dapat diketahui dan tersampaikan secara real-time di kalangan para pejuang. Sinyal seluler memangkas jarak. Menyatukan frekuensi perjuangan. Dan meleburkan ego geografis demi tujuan yang sama: Sulawesi Barat. Dengan sinyal seluler, wartawan lokal Tanah Mandar yang dikirim redaksinya menyertai dan meliput di Jakarta. Dengan mudah pula mengirimkan hasil liputan terbaru ke medianya.
Ketika Provinsi Sulawesi Barat resmi disahkan dengan UU Nomor 26 Tahun 2004 pada 5 Oktober 2004. Pekik kesyukuran membahana di Bumi Malaqbi’. Provinsi ke-33 ini lahir tidak hanya dari tetesan keringat diplomasi dan pergerakan dengan semangat yang masif. Tidak terlepas pula dari lompatan teknologi komunikasi yang merajut suara yang terfragmentasi. Menyatukan semangat dan mengokohkan kebersamaan seluruh elemen masyarakat di daerah ini.
Setelah 22 tahun momen bersejarah itu berlalu. Sulawesi Barat terus bertransformasi untuk mengatasi berbagai permasalahan; perekonomian, kemiskinan, pendidikan, kualitas SDM, ketenagakerjaan, infrastrukrut, dan sebagainya. Jaringan seluler yang pertama kali dipancarkan dari Labuang, telah bertranformasi menjadi jaringan internet. Terus mengalirkan informasi yang tak terhitung banyaknya ke perangkat HP setiap warga provinsi ini.
Gardu Telkom Labuang kini mulai terlindas modernitas. Tetapi ia seolah menolak runtuh. Tetap berdiri sebagai pengingat bahwa Sulawesi Barat hari ini tidak terlepas dari rintisan sinyal-sinyal awal seluler. Yang telah berkontribusi menyambung lidah dan semangat perjuangan. Mengantarkan suara “kemerdekaan” bekas Afedeling Mandar menjadi provinsi, dari sudut sunyi gardu tua di dekat perbatasan Kecamatan Campalagian – Kecamatan Balanipa. Selamat ulang tahun ke-22 Provinsi Sulawesi Barat. (*)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
