Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Kemarau BBM

Penulis / Redaksi: admin
Minggu, 13 September 2026 18:53 WITA 126 tayangan 4 menit baca
Kemarau BBM
Foto ilustrasi / Dokumentasi Opini - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
Oleh, M Danial KEMARAU tahun ini berlangsung hampir lima bulan sejak April lalu. Terasa makin berat. Bukan hanya karena panas terik matahari yang terasa membakar dan ancaman kekeringan. Tetapi juga karena berbagai persoalan kebutuhan dasar masyarakat yang hampir bersamaan. BBM sulit diperoleh. Bahkan makin sulit sejak beberapa waktu terakhir. Antrean kendaraan mengular panjang di SPBU. Sepeda motor dan mobil, pun truk 10 roda. Para sopir truk harus bertahan berjam-jam, bahkan sehari semalam, demi mendapatkan solar. Angkutan umum, mobil pribadi dan sepeda motor pun berjibaku dalam antrean panjang. Pegawai, karyawan, pelajar hingga ibu rumah tangga harus membuang waktu. Hanya untuk mengisi tangki BBM. Yang lebih menyakitkan, sudah mengantre berjam-jam dan kendaraan sudah dekat ke nozel, stok keburu habis. Pulang tanpa BBM setelah kehilangan waktu dan tenaga tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. "Sangat menyakitkan saat kita sudah dekat nozel, beberapa motor lagi di depan stoknya habis," gerutu Afdal, mengungkapkan rasa kecewa. "Kita hanya bisa pasrah, sudah nasib, protes tidak guna juga," keluhnya, meninggalkan SPBU Wonomulyo. Anteran BBM di SPBU Polman sudah tahunan. Tapi hampir sebulan terakhir kondisinya makin parah. Kelangkaan BBM hampir menyeluruh di Sulbar. Di Makassar, Sulsel pun terjadi hal yang sama. Makin parah sejak beberapa hari terakhir. Kondisi ini sudah hampir sebulan. Dan keluhan warga semakin banyak. Ironisnya, pemerintah dan Pertamina menyatakan pasokan berjalan normal dan BBM dipasok setiap hari ke SPBU. Stok aman. Kalau pasokan normal, mengapa terjadi antrean. Di mana masalahnya? Faktabnya hari ke hari antrean makin berjam-jam? Mengapa selalu terjadi stok habis belum seluruh pengantre terlayani? Apakah persoalan kuota, lonjakan kebutuhan, atau faktor distribusi? Sinyalemen publik, bukan tidak mungkin terjadi kebocoran. Dan praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi. Pertanyaan tersebut butuh pihak berwenang menjawab secara terbuka dan transparan. Bukan untuk menyudutkan siapa-siapa. Tetapi masyarakat berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bagi masyarakat, “stok aman” bukan sekadar pernyataan di atas kertas. Atau sebatas statemen untuk menenangkan. Ibarat membagi permen kepada anak-anak. Stok dipercaya aman ketika masyarakat dapat memperoleh BBM secara wajar. Tanpa harus menghabiskan separuh hari, bahkan harus bermalam di SPBU. Yang ironis pula, ketika BBM sulit, harga di tingkat pengecer melonjak drastis. Namun karena kebutuhan tidak bisa ditunda, sebagian warga terpaksa membeli dengan harga mahal. Warga menjadi serba salah: antre berjam-jam dengan risiko kehabisan, atau membeli lebih mahal di pengecer. Antrean secara langsung berpengaruh pada kelancaran pasokan berbagai kebutuhan masyarakat. Akhirnya bukan hanya harga BBM di pengecer yang naik. Sopir angkutan umum dan para pedagang pun menaikkan harga. Alasannya logis; biaya distribusi makin mahal. Ada yang menarik di tengah antrean BBM. Beberapa pedagang kecil "hadir" mengais rezeki. Mereka menjajakan makanan dan minuman kepada para pengantre. Bagi mereka, antrean panjang adalah peluang bertahan hidup. Tetapi kita berharap. Jangan sampai karena antrean BBM menjadi sumber rezeki. Apalagi masalah yang dhadapi warga tidak hanya BBM. Di tengah kemarau panjang sekarang, warga mengeluhkan pula pemadaman listrik bergiliran sejak beberapa pekan ini. Tanaman pertanian dan perkebunan pun terancam kekeringan. Air bersih PDAM juga makin sering macet. Lebih lama tidak mengalir. Sumur gali di rumah-rumah warga pun mulai terancam kering. BBM sulit. Listrik padam. Air bersih lebih banyak macet. Tanaman kekeringan. Apa lagi yang harus ditunggu? Dipahami, bahwa pemerintah menghadapi banyak persoalan dan keterbatasan. Tetapi kesabaran masyarakat juga terbatas. Antrean di BBM yang makin panjang. Yang berlangsung terus-menerus tidak hanya menghabiskan waktu. Antrean sangat berpotensi pula memicu emosi dan perselisihan antar-pengantre. Lebih dari itu. Sangat mungkin berkembang menjadi keributan dan tindakan kriminal. Ketika terjadi kehilangan kesabaran karena kebutuhan yang mendesak. Karena itu, jangan tunggu persoalan kelangkaan dan anteran BBM semakin viral. Baru kemudian mendapat perhatian serius. Pemerintah dan Pertamina perlu membuka persoalan ini secara terang benderang: berapa kuota setiap SPBU, berapa pasokan setiap hari, berapa kebutuhan riil masyarakat. Perlu kejelasan juga bagaimana pola distribusi BBM, dan langkah yang dilakukan terhadap dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi. Masyarakat tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap kebutuhan dasarnya terpenuhi secara adil, wajar, dan mudah diakses. Kemarau panjang sudah cukup membuat masyarakat berusaha tidak kehilangan berjuang keras menghadapi kekeringan. Namun jangan sampai terjadi harus juga menghadapi “kemarau” pelayanan publik: BBM sulit, listrik padam, sumber air mengering, pendapatan kian menipis, penjelasan terkait berbagai persoalan tak kunjung terang. Para pemangku kebijakan jangan tunggu rakyat marah. Jangan pula menunggu viral di medsos, lalu kemudian menjadi hal yang dianggap biasa. Masalah yang kini dirasakan masyarakat seharusnya tidak membutuhkan viral untuk membuat pemerintah, Pertamina, dan pihak berwenang lebih peduli. Harus bergerak serius. Rakyat menunggu itu !!! (*)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman