Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

RANDIS

Penulis / Redaksi: admin
Selasa, 24 Agustus 2021 07:14 WITA 866 tayangan 4 menit baca
RANDIS
Foto ilustrasi / Dokumentasi Opini - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
Oleh M Danial Para pejabat pemerintah sejak dulu disediakan fasilitas untuk kelancaran tugasnya. Mengurus pemerintahan untuk kepentingan rakyat. Salah satunya berupa kendaraan dinas alias randis. Sejarah randis pejabat di Indonesia pun mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sesuai era pemerintahan yang sedang berkuasa sesuai levelnya. Di tingkat pusat maupun daerah. Provinsi dan kabupaten/kota. Randis para pejabat, mulai merek Amerika Serikat sampai Jepang. Dikutip dari berbagai sumber. Pada era pemerintahan Soekarno, randis para menteri pada tahun 1960-an adalah Dodge Dart. Mobil merek tersebut diproduksi pada 1958 oleh Dodge di bawah naungan Chrysler. Dilirik Presiden Soekarno karena ruang di dalamnya memiliki kesan unik. Eksklusif. Dianggap menunjukan status dan kewibawaan yang menungganginya. Pada era Presiden Soeharto, mobil dinas menteri berganti dengan merek Volvo. Mobil tunggangan para menteri itu jenis sedan seri 264 GL. Konon merupakan varian paling tinggi dari mobil pabrikan Swedia. Selain memiliki kesan mewah dan eksklusif, juga jaminan keamanan yang handal. Diklaim dapat memudahkan mobilitas para menteri dalam melaksanakan tugasnya. Karena harganya terbilang mahal, Volvo bertahan sebagai tunggangan menteri hingga era Presiden Megawati Soekarnoputri. Di era pemerintahan SBY, Presiden keenam RI itu lebih memilih mobil buatan Jepang sebagai randis para menteri. Periode pertama Presiden SBY bersama Wapres Jusuf Kalla. Toyota Camry V6 dipilih sebagai randis para menteri dan pejabat setingkat menteri. Dinilai sangat cocok dan eksklusif untuk para pejabat level tersebut. Pada masa itu, Toyota Camry per-unit dibandrol dengan harga Rp425 Juta. Pada periode kedua Presiden SBY, randis menteri diganti dengan Toyota Crown Royal Saloon. Dikutip dari Liputan6.com, Toyota Crown Royal Saloon merupakan mobil paling mewah produksi Toyota Jepang. Harganya Rp1,3 Miliar. Disebut-sebut sekelas mobil mewah lainnya, seperti BMW seri 5, Audi A6, Volvo S80, Jaguar Tipe S dan X, atau Mercedez Benz seri E. Karena harganya terbilang mahal, bahkan dua kali lipat dari harga mobil dinas yang lama, sempat menjadi polemik. Toyota Crown Saloon menjadi tunggangan para menteri hingga era pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama. Pada periode pemerintahan Jokowi - Ma'ruf Amin, para menteri menunggangi randis Toyota Crown 2.5 Executive. Mobil tersebut, merupakan salah satu varian elektrifikasi Toyota yang memiliki keunggulan spesifik dan ferforma tinggi. Pengadaan randis pejabat, selevel Gubernur atau Bupati/Walikota sangat sering menuai polemik. Uang rakyat yang tidak sedikit untuk kemewahan individu. Sangat tidak pantas dan melukai perasaan rakyat yang kesulitan mempertahankan hidup karena beban ekonomi makin berat. Apalagi dimasa pandemi Covid-19 yang entah kapan berakhirnya. Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat menuai sorotan, beberapa hari lalu. Lantaran membeli randis baru dan tergolong mobil mewah di tengah pandemi Covid-19. Harganya mencapai Rp2 Miliar. Mitsubishi Pajero untuk Gubernur dan Hyundai Palisade untuk Wagub. Disorot karena dinilai tidak memiliki sense of Cristian sebagai pemimpin di tengah kesulitan hidup rakyat. Setelah mobil Pajero Sport dan Hyundai Palisade itu menjadi kontroversi dan sorotan publik. Pengadaan randis baru Gubernur dan Wagub dengan alasan randis yang lama sudah tidak layak pakai. Belakangan, Gubernur dan Wagub Sumatera Barat menyerahkan mobil dinas mewah itu kepada Satgas Covid-19 untuk penanganan pandemi. Randis baru Bupati Polewali Mandar juga menuai polemik dan sorotan publik. Meski dengan alasan untuk kelancaran tugas Bupati. Membeli randis seharga Rp2,5 Miliar dianggap berlebihan. Terlebih, di tengah kesulitan rakyat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari gegara himpitan pandemi covid-19. Pihak Pemkab Polman beralasan juga, sudah tujuh tahun Bupati Andi Ibrahim Masdar menjadi bupati belum pernah membeli randis. Tapi, alasan itu tak mampu mengobati kekecewaan publik. Kekecewaan juga dialamatkan kepada para wakil rakyat di DPRD Polman. Dianggap tidak peka dan kehilangan empati kepada rakyat. Polemik randis itu terus viral dan medsos. Seorang teman mengirim WhastApp ke saya. Mengenai kemungkinan ujung polemik randis Mercedez Benz GLS Class tersebut. Ia tidak menjelaskan ujung polemik dimaksud. Saya hanya membayangkan polemik itu pada akhir akan reda. Bupati Polman akan berjiwa besar dan dengan bijak, mengambil sikap merespon sorotan publik soal mobil Mercy tersebut. Pada saatnya nanti, Ia akan menjelaskan sikap resminya. Terbayang, ia menyatakan telah mendengar, membaca, dan memerhatikan berbagai komentar mengenai persoalan tersebut. Dan sangat memahaminya. Sehingga akan mengambil sikap resmi untuk mengakhiri polemik agar tidak berkepanjangan. Untuk mengatasi kekecewaan publik. Ia tentu butuh juga pertimbangan dari aspek hukum. Dan pertimbangan lain mengenai opsi terbaik untuk masalah tersebut. Mengenai pertimbangan hukum, tentu sangat penting. Saya bermaksud mengambil alat tulis dan rekaman. Untuk merekam pernyataan penting itu. Tetiba saya terjaga, sadar bahwa saya barusan mimpi. Semoga saja mompi saya menjadi kenyataan. (*)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman