Pembenaran Semu
Penulis / Redaksi:
admin
Selasa, 10 Januari 2023 14:22 WITA
576 tayangan
3 menit baca
M Danial
SEKELOMPOK warga berbincang soal perkembangan kampungnya. Berlangsung tidak hanya di kedai tempat berkumpul saban waktu. Menjadi topik pula di grup WhastApp komunitas yang memiliki aneka latar belakang, termasuk kepentingan sebagai warga.
Perbincangan selalu berlangsung seru. Semua memiliki hak yang sama untuk berpendapat. Melontarkan pandangan dengan perspektif dan kapasitas berpikir masing-masing individu. Dari yang menyoal kondisi kampung dengan menyebut nihil untuk dibanggakan, sampai yang memuji kepemimpinan dan menghasilkan kemajuan kampung.
"Dimana majunya, apa yang bisa dibanggakan?," pendukung statusquo, berseru lantang.
"Anda harus belajar obyektif (memberi penilaian), jangan menafikan progres yang nyata ada karena kepentingannya tidak kesampaian," tukas yang berpendapat kontra. Yang lain mengklaim kemajuan dengan menyodorkan data sebagai alat ukur yang jelas. Penghargaan yang diterima pemimpin kampung disebut pula sebagai indikator kemajuan.
Menyimak perbincangan hingga perdebatan yang kerap menjadi debat kusir, saya tetiba teringat "Kisah 1001 Malam" dalam Hikayat Abu Nawas yang layak menjadi renungan.
Aliksah, suatu hari Abu Nawas berjalan di tengah kampung sambil melihat terus ke dalam topinya.
Orang yang melihat tingkah Abu Nawas keheranan. Mereka berpikir Abu Nawas sudah gila. Melihat ke dalam topinya sambil tersenyum. Seorang warga berinisiatif menghampiri dan bertanya kepada Abu Nawas.
"Wahai saudaraku, apa yang kamu lihat di dalam topimu yang membuatmu tertawa sendiri."
“Saya melihat surga dalam topi ini lengkap dengan barisan bidadari,” jawab Abu Nawas.
"Boleh saya melihat juga?," kata orang itu.
"Boleh saja, tapi yang bisa melihat surga dan bidadari dalam topi ini hanya orang bariman dan soleh," jawab Abu Nawas. Orang itupun bergegas melihat ke dalam topi.
Sejenak dia berkata, “Benar. Saya melihat surga di topi ini dan juga bidadari,” orang itu berteriak dan di dengar orang banyak. Abu Nawas tersenyum puas.
Banyak warga yang kemudian tergoda untuk melihat surga dan bidadari dalam topi Abu Nawas. Tapi, Abu Nawas kembali mengingatkan, bahwa yang bisa melihat hanya orang beriman dan soleh. Yang tidak beriman tidak akan melihat apa pun. Satu demi satu warga berdatangan melihat ke dalam topi Abu Nawas.
Ada warga yang membenarkan cerita Abu Nawas, ada pula juga yang mengatakan Abu Nawas berbohong. Namun Abu Nawas tetap tenang sambil menebar senyum.
Salah seorang yang tidak melihat surga dalam topi itu melapor kepada Baginda Raja. Bahwa Abu Nawas membual, menyebarkan kebohongan. Akhirnya Raja memerintahkan pengawal menghadapkan Abu Nawas untuk mempertanggungjawabkan kelakuannya yang membuat kegaduhan.
“Abu Nawas benarkah kamu bilang, orang dapat melihat surga di dalam topimu?” tanya sang Raja.
“Benar, baginda. Tapi yang bisa melihat hanya orang yang beriman dan soleh. Yang tidak bisa melihat artinya dia tidak beriman dan tidak soleh,” jawab Abu Nawas, tenang.
“Oh begitu? Coba saya akan buktikan, apakah benar ceritamu itu,” kata Raja, lalu melihat ke dalam topi. Setelah melihat ke dalam topi, Raja terdiam.
Dalam hati sang Raja berkata “Benar, tidak tampak surga di dalam topi ini. Tetapi, kalau aku bilang tidak ada surga, orang banyak akan menganggap aku sebagai Raja tidak beriman. Ini akan menghancurkan reputasiku.”
Lalu Raja berkata, “Benar, Abu Nawas, Aku sebagai saksi melihat sendiri di dalam topimu kelihatan surga dengan deretan bidadari.”
Pernyataan Sang Raja tersebar ke seluruh penjuru, menyebabkan warga turut mengamini. Mereka tidak ingin berbeda dengan Raja, apalagi akan dicap tidak beriman.
Bersenjatakan “surga dan bidadari” dalam topinya, Abu Nawas berhasil membuat banyak orang takut kehilangan. Kehilangan jabatan, kehilangan kekuasaan, tidak populer, dan dianggap tidak beriman. Mereka kehilangan akal sehat dengan turut serta membuat pembenaran semu. (*)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
