Menolak Lupa
Penulis / Redaksi:
admin
Selasa, 15 November 2022 14:31 WITA
727 tayangan
3 menit baca
M Danial
Pekan lalu di Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat di Buttu Ciping, Tinambung, Polewali Mandar berkumpul banyak kalangan. Mereka menghadiri persamuhan yang dikemas dengan nama sarasehan dengan tema Visi Malaqbi Sulawesi Barat menurut Husni Djamaluddin. Acara itu digelar mengenang 88 tahun putra Mandar yang dikenal sebagai budayawan dan Panglima Puisi.
Dalam banyak referensi, kata malaqbi dalam bahasa Mandar memiliki makna sangat dalam mengenai tutur kata, tindakan, atau perilaku yang baik sebagai orang Mandar. Malaqbi pau (tutur kata yang baik), malaqbi gau (tingkah laku yang baik), malaqbi kedzo (perilaku yang baik) harus menjadi karakter setiap individu masyarakat dan semua pihak dalam interaksi dan pergaulan sehari-hari. Malaqbi merupakan ikon pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat.
Malaqbi seharusnya tidak sekedar menjadi slogan yang bertebaran dimana-mana. Malaqbi harus menjadi pilosofi kerja para pejabat dan aparat pemerintah, maupun oleh setiap individu penyelenggara pemerintahan di lembaga legislatif dan institusi. pemerintahan lainnya di Sulawesi Barat dalam melaksanakan tugas untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. Malaqbi jangan sekedar slogan yang dikemas untuk pencitraan. Melainkan terimplementasi secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, menjadi penyemangat untuk bekerja sesuai aturan bagi kepentingan rakyat. Malaqbi atau amalaqbiang merupakan alarm agar tidak berbuat korupsi atau perbuatan lain yang merugikan orang lain dan masyarakat banyak.
Budayawan Suradi Yasil sebelum closing seluruh rangkaian acara sarasehan, membacakan puisi Husni Djamaluddin "Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah". Tidak satupun kata malaqbi dalam puisi tersebut. Tapi, Suradi Yasil menemukan makna malaqbi atau amalaqbiang dalam puisi yang terangkum dalam Kumpulan Puisi "Bulan Luka Parah" Husni Djamaluddin.
Suradi Yasil mengatakan, Husni Djamaluddin sebagai penyair melukiskan dengan indah dan lembut amalaqbiang kedzo (keagungan dan kemuliaan sikap) Rasulullah Saw pada saat-saat terakhir kepulangannya menghadap Allah Swt. Nabi Muhammad Saw telah mempraktikkan amalaqbiang sejak kecil sampai menjelang tutup usia.
"Di penghujung hidupnya (Rasulullah Saw) memperlihatkan cinta dan sayang kepada orang miskin, yang merupakan jiwa malaqbiq. Ungkapan-ungkapan yang ditulis Husni Djamaluddin berhubungan dengan amalaqbiang kedzo," jelas Suradi Yasil.
Petikan puisi "Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah" yang dibacakan Suradi Yasil: " ... betapa sabar kau terbaring di selembar tikar / di bawah tikar / masih tersisa sembilan dinar / tolong sedekahkan / sesegera mungkin / kepada fakir miskin // mengapa yang sembilan dinar / mengapa itu b / yang membuatmu gelisah / ya Rasulullah // ... tugasku tidak hanya menyampaikan pesan / tugasku ialah juga sebagai teladan // miskin aku datang / biarlah aku miskin pulang / bersih aku lahir / biarlah bersih hingga detik terakhir / dari kamarmu yang sempit / kamarmu yang amat sederhana / bergegas melangkah ke lolos-lorong sempit / di atas jalan-jalan pasir tanah Madinah / menyedekahkan / dinar yang sembilan / kepada orang-orang / yang sangat kau sayangi / orang-orang miskin seperti kau / orang-orang yatim seperti kau."
Suradi Yasil yang juga penulis buku "Republik Korupsi" melontarkan pertanyaan yang terkait dengan para pemimpin di Republik Indonesia, di provinsi, di kabupaten, di kecamatan, dan di desa. Apakah telah meneladani amalaqbiang kedzo dalam tugas pemerintahan? Apakah juga menyayangi orang-orang miskin?
"Apakah perilaku korupsi yang bertentangan dengan perilaku malaqbiq kedzo sudah tidak ada lagi di negeri kita, di provinsi kita, di kabupaten kita, di kecamatan kita, di desa kita?" tambahnya.
Bagi Suradi Yasil, menyandang julukan malaqbiq adalah amanah yang berat. Julukan malaqbiq bagi Provinsi Sulawesi Barat disematkan oleh Husni Djamaluddin. Tapi, apakah Itu tidak malah menjadi bahan olok-olok, cemoohan, dan ditertawai dunia ketika perbuatan para pemimpin dan para pemangku kekuatan yang tak juga malaqbiq? "Mari kita renungkan bersama," tutup Suradi Yasil.
Selepas acara tersebut, saya sebagai awam berpikir bahwa acara Mengenang 88 tahun Husni Djamaluddin, merupakan acara "Melawan Lupa" tentang malaqbi dan amalaqbiang. Agar sungguh-sungguh terimplementasi dalam kehidupan semua pihak di Sulawesi Barat. Pengingat agar malaqbi jangan sebatas slogan, jargon atau sejenisnya.
"Malaqbi artinya jangan Mallawiq (mengambil yang bukan haknya)," sentil Tamalele, seorang budayawan setempat. (*)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
