Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Menghajikan Ego

Penulis / Redaksi: admin
Selasa, 26 Mei 2026 03:05 WITA 255 tayangan 3 menit baca
Menghajikan Ego
Foto ilustrasi / Dokumentasi Opini - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
Oleh, M Danial JUTAAN jemaah haji dari seluruh penjuru dunia. Hari ini berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan puncak ibadah haji: Wukuf. Mereka adalah umat muslim yang telah lama memendam impian menunaikan rukun islam kelima. Mereka telah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun menunggu, menabung, mempersiapkan diri. Hingga akhirnya mendapat panggilan menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Mereka telah menjalani rangkaian ibadah haji. Memperbanyak amalan sunah. Berzikir dan berdoa memohon keberkahan, ampunan dan keridhaan Allah di tempat-tempat yang dimuliakan. Di Arafah seluruh jemaah hadir dengan status yang sama sebagai hamba Allah. Hadir dalam kesederhanaan. Jabatan, kedudukan, kekayaan, gelar, dan status sosial ditanggalkan. Semua hadir sebagai hamba yang berharap rahmat dan pengampunan dari Allah Swt. Dilansir Kompas (23/5), jumlah jemaah haji tahun ini hampir mencapai 2 juta orang. Khusus jemaah dari luar Arab Saudi sebanyak 1,5 juta (1.518.153 orang). Jumlah tersebut melampaui tahun 2025 dan merupakan peningkatan yang dinilai luar biasa di tengah perang Amerika Serikat – Israel lawan Iran. Makna utama haji sesungguhnya bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Melainkan perjalanan batin untuk menyucikan diri. Berhaji adalah momentum untuk membersihkan hati dari kesombongan. Kerakusan. Iri. Dengki. Dan keinginan untuk selalu menempatkan diri melebihi orang lain. Berhaji semestinya tidak dimaknai hanya sebagai pencapaian sosial atau formalitas untuk memperoleh predikat haji. Kemabruran atau haji mabrur tidak diukur dari tambahan gelar di depan nama. Melainkan pada perubahan sikap, akhlak, atau cara memandang dan memaknai kehidupan. Sejatinya berhaji adalah menghajikan ego. Mengubah rasa selalu ingin menang sendiri menjadi kebiasaan berempati. Mengubah keinginan dipuji menjadi semangat untuk memberi manfaat. Menggeser orientasi kepentingan pribadi dan kelompok menjadi kemaslahatan bersama. Berjaji juga bukan sekadar untuk validasi diri. Dengan gelar yang sejatinya menuntut kerendahan hati. Gelar haji hanya pantas ditasbihkan kepada mereka yang selalu tawadhu’. Selalu sederhana dan berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Semakin tinggi penghormatan yang diberikan masyarakat, harus dusadari semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat dan harus diwujudkan. Predikat haji bukan pula sekadar status sosial untuk mendapat penilaian tersendiri di tengah masyarakat. Gelar haji adalah amanah dan akhlak yang terpuji. Karena itulah harus menjadi pengingat bahwa seorang yang bergelar haji semestinya selalu menjadi teladan dalam kejujuran, kepedulian, dan integritas sosial. Haji mabrur yang diharapkan setiap jemaah. Semestinya menjadi pendorong untuk selalu menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan. Terhadap penderitaan sesama. Menjauhi perbuatan zalim. Tidak mengambil yang bukan haknya. Bagi pejabat, tidak memanfaatkan jabatan dan kedudukan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Melainkan berani menjadi pelopor untuk mencegah perbuatan yang merugikan orang lain dan kepentingan masyarakat. Korupsi, pelanggaran hak asasi, dan semacamnya. Predikat haji seharusnya menjadi rem moral untuk menghindari perbuatan yang dilarang agama dan hukum negara. Gelar haji harus selalu menjadi pengingat ketika godaan datang. Ketika kekuasaan dimiliki. Ketika amanah diberikan. Ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan publik. Ujian berhaji untuk meraih mabrur tidak berhenti di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau sa’i. Ujian sesungguhnya dimulai ketika jamaah kembali ke masyarakat. Ke lingkungan kerja. Atau kembali menjalankan peran sosial. Predikat haji harus selalu dijaga agar tidak menciderai citra sebagai muslim. Jangan sampai gelar haji kehilangan makna karena perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai ibadah haji itu sendiri. Berhaji bukan pula sekadar perjalanan panjang, melelahkan, dan biaya yang tidak sedikit menuju Baitullah. Berhaji adalah perjalanan untuk menata hati. Perjalanan untuk menghajikan ego. Mengubur kesombongan. Meningkatkan empati. Dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga seluruh jemaah haji meraih predikat mabrur yang menghadirkan keberkahan, keteladanan, dan kebermanfaatan. (*)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman