Bendera..
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 12 Desember 2022 18:52 WITA
520 tayangan
4 menit baca
M Danial
BERAWAL dari obrolan soal Piala Dunia 2022 yang kini menunggu semifinal. Setelah babak penyisihan hingga perempatfinal yang diwarnai sejumlah kejutan. Timnas Arab Saudi yang mengalahkan Argentina 2-1 pada fase grup mengejutkan dunia persepakbolaan. Timnas Maroko melaju hingga semifinal setelah mengalahkan beberapa tim unggulan: mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi, tim berjuluk Singa Atlas itu hanya satu kali kebobolan sejak babak penyisihan. Itupun lantaran keteledoran pemain sendiri saat berhadapan dengan Kanada. Gol bunuh diri.
Demam Piala Dunia 2022 di Qatar sejak 20 November, terasa sebulan sebelumnya di berbagai tempat. Di Pambusuang, misalnya. Desa berjarak 50 kilometer dari Polewali, ibukota Kabupaten Polewali Mandar itu disulap menjadi "Kampung Bola" oleh para maniak bola setempat. Pambusuang yang dikenal juga sebagai kampung santri, semarak dengan bendera dan pernak-pernik Piala Dunia sebelum perhelatan sepak bola paling bergengsi sejagad itu dimulai. Bendera menjadi identitas mereka sebagai pendukung tim Piala Dunia.
Mereka seolah berlomba menunjukan tim unggulannya dengan bendera di depan rumah atau tempat-tempat strategis. Mereka menyiapkan bendera berbagai ukuran secara sukarela. Semarak bendera serta pernak-pernik Piala Dunia nyaris melebihi semarak merah putih di bulan Agustus. Namun disyukuri, bendera Timnas Piala Dunia di beberapa tempat terlihat berdampingan dengan bendera kebangsaan Kira: merah putih.
Seiring perjalanan Piala Dunia 2022, bendera tim yang kandas di setiap putaran turun satu-persatu. Makin berkurang setelah putaran 16 besar, lalu putaran berikutnya. Itu merupakan bentuk sportifitas para penggila bola menjagokan unggulannya, namun tetap kompak merawat kebersamaan. Bendera hanya sebatas simbol menyemarakan Piala Dunia, walau hanya disaksikan melalui layar televisi atau android. Bendera masih terlihat lengkap di sejumlah lokasi yang sejak awal sebagai "markas" nonton bareng.
Tidak terasa perjalanan Mamuju ke Polman hampir separuh dengan obrolan Piala Dunia. Laju mobil pelan lalu berhenti di belakang antrean di daerah Tubo, Sendana, Kabupaten Majene. Perhatian saya dan penumpang lain beralih ke dinding tebing bekas longsor dan bebatuan yang rawan berjatuhan menutup jalan saat hujan deras. Hampir separuh permukaan jalan Trans Sulawesi poros Majene-Mamuju itu dipenuhi tumpukan material. Beberapa peralatan berat tengah bekerja, para petugas juga sibuk mengatur kelancaran buka-tutup jalan di lokasi tersebut.
Seorang penumpang di kursi belakang tiba-tiba bersuara soal bendera juga. Tidak ada kaitannya dengan Piala Dunia, melainkan dengan perekrutan penyelenggara adhoc Pemilu 2024 yang tengah berporses di KPU. Begitupun pada perekrutan Panwascam, beberapa waktu lalu.
Adakah hubungannya dengan bendera? Menurutnya, sejak pendaftaran calon PPK (Petugas Pemilihan Kecamatan) merebak isu bahwa yang lebih berpeluang lulus adalah yang diback-up organisasi yang kadernya kini berkiprah atau punya hubungan emosional dengan organisasi tertentu yang memiliki pengaruh dan "power". Lantaran isu tersebut, beberapa peminat menjadi penyelenggara adhoc kehilangan semangat karena tidak punya siapa-siapa untuk memback-up. Rasa pessimisnya dicoba dilawan dengan semangat dan kompetensi, serta mengandalkan integritas yang selalu terjaga.
"Isu itu terdengar sejak pengumuman pendaftaran calon (penyelenggara) adhoc, benar-tidaknya akan kelihatan siapa saja yang nanti lulus dan dilantik," celetohnya, bernada menggugat.
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Heddy Lugito pada rapat Evaluasi Kinerja Penegakan Kode Etik Penyelenggara Pemilu 2022 yang dilaksanakan di Garut, mengingatkan pentingnya kehati-hatian dan kerja profesional Penyelenggara Pemilu Akan menentukan keberhasilan Pemilu dan Pilkada 2024. Menurut Heddy, kehati-hatian dan kerja profesional dimulai dari rekruitmen penyelenggara adhoc, baik itu KPU maupun Bawaslu.
"Pemilu nanti bukan Pemilu biasa, tapi Pemilu yang sangat luar biasa, oleh karenanya jangan sampai Pemilu hasilnya membuat masyarakat kecewa," tegas Ketua DKPP, dikutip dari situs dkpp.go.id (7/12). Yang dikatakan Ketua DKPP merupakan warning bagi lembaga Penyelenggara di semua tingkatan untuk bekerja profesional, netral, independen dalam balutan integritas yang tangguh.
Perekrutan penyelenggara adhoc jangan melenceng dari regulasi yang ditetapkan untuk hal tersebut. Pemilu membutuhkan penyelenggara adhoc yang berintegritas, jujur dan Advil, memiliki kompetensi dan kemampuan terkait tugas dan kewajiban sebagai penyelenggara Pemilu terdepan. Siap pula menghadapi tantangan, termasuk yang berupa godaan dan rayuan, bahkan intimidasi dari pihak-pihak tertentu dalam urusan Pemilu. Pun dari pemilik bendera yang menjadi naungan sebagai organisasi kader. (*)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
