
PKL Tuntas, Mahasiswa STIKes Bhayangkara Makassar Gelar Malam Ramah Tamah di Polman
POLEWALI MANDAR,- Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang diikuti 130 Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bhayangkara Makassar angkatan XVII Tahun Akademik 2025-2026 di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) resmi berakhir.
Sebelum meninggalkan lokasi PKL, para mahasiswa dan jajaran pengurus STIKes Bhayangkara terlebih dahulu menggelar malam ramah tamah di lapangan Desa Rappang Barat, Kecamatan Mapilli, Rabu (06/05). Malam ramah tamah ini sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian program kerja para mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan emosional bersama warga setempat.
Malam ramah tamah ini dirangkaikan dengan penyerahan cendramata Kepala Camat Mapilli. Kasubsektor Mapilli, Danramil 1402-02/Wonomulyo, Kepala Puskesmas Mapilli, Kepala Desa Kurma, Kepala Desa Rappang Barat dan sejumlah pihak yang telah berkontribusi aktif menyukseskan kegiatan mahasiswa STIKes Bhayangkara.
Selain itu, juga dilakukan penyerahan bingkisan dan rompi STIKes Bhayangkara Makassar dari Ketua STIKes kepada para kepala Dusun di Desa Kurma dan Desa Rappang Barat.
Ada juga penyerahan hadiah kepada yang telah mengikuti kegiatan lomba olahraga dan seni digelar mahasiswa PKL.
Acara diakhiri dengan pemutaran video aktivitas mahasiswa STIKes Bhayangkara Makassar selama berkegiatan di Desa Kurma dan Desa Rappang Barat.
Ketua STIKes Bhayangkara Makassar, Kompol Dardin berharap, para mahasiswa lebih bijak dalam berfikir dalam menerapkan ilmu yang diperoleh dari lingkungan kampus ketika berada di lapangan. Sebab, kondisi di lapangan kerap dipengaruhi kebiasaan dan kearifan budaya lokal.
“Sesuai dengan tujuan pelaksanaan PKL ini, tentu diharapkan semua mahasiswa mampu menerapkan apa yang telah didapatkan di kampus selama ini. Karena teori dan praktek itu kadang ada perbedaan, disitulah perlunya kebijakan dalam berfikir, mengedepankan yang rasional karena kegiatan di lapangan itu sedikit dipengaruhi oleh kebiasaan dan kearifan budaya lokal,” terang Dardin.
Dardin mengaku bersyukur, sebab masyarakat setempat baik dari Desa Kurma maupun Desa Rappang Barat, sangat mendukung seluruh program yang dilakukan mahasiswa peserta PKL.
Bahkan diakui, banyak warga yang menghadiri malam ramah tamah tak kuasa menahan air mata, lantaran sedih harus berpisah dengan para mahasiswa yang sudah dianggap seperti keluarga.
“Alhamdulillah kegiatan PKL selama kurang lebih 21 hari ini, menurut keterangan dari masyarakat, mereka cukup puas dengan kehadiran mahasiswa STIKes Bhayangkara Makassar di dua desa yaitu Desa Kurma dan Desa Rappang Barat,” ujarnya.
“Kami lihat pada saat penutupan, waktu malam ramah tamah, tidak ubahnya antara kakak dengan adik, antara saudara dengan keluarga yang lain, banyak cucuran air mata pertanda bahwa rasa haru dan gemira itu secara bersama-sama hadir,” sambungnya.
Dardin juga mengungkap harapan pemerintah setempat, agar tahun mendatang mahasiswa STIKes Bhayangkara Makassar dapat kembali melaksanakan PKL di daerah ini.
“Animo masyarakat sungguh luar biasa. Harapan masyarakat kalau kita mendengar sambutan dari pak camat (Mapilli), meminta agar tahun depan dilaksanakan lagi PKL di Mapilli,” ucapnya
Sementara salah satu warga, Mansur mengungkap program yang dilaksanakan mahasiswa PKL STIKes Bhayangkara Makassar memberi banyak manfaat bagi warga setempat. Dia juga mengaku bersedih, lantaran harus berpisah dengan para mahasiswa yang dianggap sudah seperti keluarga sendiri.
”Tentunya sangat banyak hal positif yang dirasakan masyarakat dengan hadirnya para mahasiswa yang melaksanakan berbagai program di desa kami. Kami betul-betul merasa sedih, merasa kehilangan, apalagi para mahasiswa ini sangat berbaur dan bersahabat dengan seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Mansur. (thaya)







