
Pengusaha Tempe di Polman Meradang Imbas Lonjakan Harga Kedelai – Plastik
POLEWALI MANDAR,- Sejumlah pengusaha tempe di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) meradang imbas lonjakan harga kedelai dan plastik kemasan. Agar tidak merugi, mereka mengurangi volume tempe kemasan daripada menaikkan harga jual.
Seperti diungkapkan Musiyem (47), pengusaha tempe asal Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo, Kamis (9/4). Menurutnya, kenaikan harga bahan baku kedelai dan juga plastik kemasan memaksanya memutar otak agar tidak merugi.
“Sangat memberatkan, harga kedelai dan plastik kemasan semua naik. Paling parah plastik kemasan yang harganya naik seratus persen,” kata Musiyem saat dijumpai wartawan di rumahnya, Kamis (09/04/2026).
Wanita satu anak itu menuturkan, kenaikan harga kedelai mulai dirasakan sejak dua bulan terakhir. Sedangkan harga plastik kemasan baru sepekan mengalami kenaikan.
“Kalau harga kedelai mulai naik sejak dua bulanan, sebelum ramadan perlahan naiknya. Kalau plastik kemasan mungkin kenaikannya baru seminggu ini, naiknya drastis,” ungkapnya.
Jika sebelumnya, sekarung kedelai impor ukuran 50 kilogram dihargai Rp 500 ribu naik menjadi Rp 575 ribu. Sedangkan plastik kemasan yang sebelumnya dijual seharga Rp 35 ribu sekilo melonjak menjadi Rp 60 ribu sekilo.
“Kita terpaksa siasati, salah satu caranya isinya kita kurangi. Jumlahnya kita kurangi, kalau biasanya sepuluh ribu isi 16 sekarang jadi 15 karena semua bahan harganya naik,” jelas Musiyem.
Diakui Musiyem, usaha tempe ini telah dijalankan sejak tahun 2020 lalu. Dia berharap, pemerintah melakukan upaya untuk menstabilkan harga kedelai dan plastik kemasan, karena dapat berdampak pada harga barang kebutuhan lainnya.
“Sehari bisa buat 35 kilo, karena namanya kebutuhan jadi warga pasti beli. Mudah-mudahan harga bisa segera stabil, karena semua akan naik,” pungkasnya. (thaya)







