Simulasi Disaster Nursing di Pantai Babatoa Polman
Foto : Pelaksanaan simulasi disaster nursing di pantai babatoa, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman, Minggu (03/05/2026).

Simulasi Disaster Nursing di Pantai Babatoa Polman

POLEWALI MANDAR,- Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIKes) Bhayangkara Makassar menggelar simulasi penanganan korban kecelakaan kapal laut di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Tujuannya untuk melatih kesiapsiagaan, prosedur evakuasi dan koordinasi tim dalam menghadapi situasi darurat nyata.

“Perlu kami sampaikan bahwa kegiatan ini merupakan muatan lokal dari STIKes Bhayangkara Makassar, kita laksanakan setiap akhir tahun ajaran, karena kegiatan ini merupakan pembulatan dari Tri Dharma perguruan tinggi khususnya untuk keperawatan forensik,” kata Ketua STIKes Bhayangkara Makassar, Kompol Dardin kepada wartawan, Minggu (03/05/2026).

Simulasi berlangsung di pantai wisata Babatoa, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Minggu siang (03/05). Simulasi disaster nursing ini mengambil tema “Sinergi dan kolaborasi memperkuat pondasi mitigasi dalam menumbuhkan jiwa Sipamandaq mahasiswa STIKes Bhayangkara Makassar yang tangguh dan tanggap bencana”.

Simulasi disaster nursing adalah pelatihan berbasis skenario untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons perawat dalam penanganan bencana, mencakup triage, pertolongan pertama, dan manajemen evakuasi.

Dalam simulasi, digambarkan skenario penyelamatan korban kecelakaan kapal laut melibatkan Tim SAR gabungan.

Petugas memperagakan upaya pertolongan terhadap sejumlah korban yang ditemukan mengapung di laut dan terdampar di pantai. Para korban, baik yang selamat maupun meninggal dunia lalu evakuasi ke rumah sakit untuk jalani perawatan dan proses identifikasi.

Menurut Dardin, simulasi penanganan bencana merupakan program unggulan STIKes Bhayangkara Makassar melalui STIKes Siaga Bencana. Dia menyebut Indonesia merupakan miniatur bencana, sebab hampir semua bencana terjadi di Indonesia.

“Yang mana kita ketahui bahwa Indonesia ini merupakan miniatur bencana. Hampir seluruh bencana ada di Indonesia, baik kecelakaan pesawat, kapal laut, lalu lintas maupun bencana alam,” ujarnya.

Diakui Dardin, pelaksanaan simulasi melihatkan berbagai stakeholder. Diantaranya TNI-Polri, BPBD, Basarnas, PMI, dokter, perawat dan unsur terkait lainnya.

Skenario umumnya mencakup pencarian korban (SAR), penyelamatan di air, triase, hingga pertolongan pertama, guna memastikan personel siap menghadapi keadaan darurat nyata

“Jadi kita berkolaborasi dan berkoordinasi dengan seluruh elemen, bagaimana caranya melakukan penanganan jika terjadi bencana,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, Dandin berharap mahasiswa paham tugas dan tanggung jawab jika menghadapi situasi bencana.

“Harapan kami misalnya kalau ada bencana di kemudian hari, mereka sudah tahu tugas dan tanggung jawab khususnya untuk keperawatan forensik,” pungkasnya. (thaya)

__Terbit pada
04/05/2026