Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

MANUSIA EKOLOGI

Penulis / Redaksi: admin
Senin, 15 Juni 2020 15:37 WITA 929 tayangan 3 menit baca
MANUSIA EKOLOGI
Foto ilustrasi / Dokumentasi Parlemen - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
Oleh : Usman Suhuriah Wakil ketua DPRD Sulbar Fakta pengrusakan alam ternyata berhubungan dengan sudut pandang manusia terhadap alam. Hal ini ditujukan dari mentalitas manusia dengan menganggap diri sebagai pusat  alam semesta. Pandangan inilah kemudian menciptakan paradigma yang disebut dengan antroposentrisme. Paham antroposentrime selain menganggap manusia sebagai pusat dari alam semesta juga melihat bahwa alam adalah wadah bagi pemenuhan hasrat manusia dengan segala kepentingannya. Alam harus “mengabdi” kepada manusia sebagaimana kedudukan manusia sebagai pusat kepentingan. Adalah paham antroposentrisme ini terungkap lewat pandangan seperti Aristoteles, Thomas Aquainas, Rene Descartes dan Immanuel Kant. Para filsuf ini menyatakan bahwa manusia lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya. Itu karena manusia adalah makhluk bebas dan rasional (the free and rational being). Lewat paham inilah secara tanpa batas memberi penguatan bagi cara pandang manusia dalam relasinya dengan alam. Sehingga dalam hal tertentu pengrusakan alam sepertinya mendapatkan legitimasi lewat antroposentrisme ini. Kerusakan alam dengan segala akibatnya, kemudian berlanjut menjadi bencana, sedikitnya bersumber pada cara pandang ini terhadap alam. Atau pandangan inilah seakan sebagai “sokongan” kepada manusia dalam melakukan kejahatan ekologi dan pengrusakan lingkungan. Dari hal tersebut lalu muncul perhatian yang lebih fundamental, lebih holistik dan mengajak untuk melakukan perombakan pikiran terhadap sikap dan prilaku manusia dalam memperlakukan alam agar berubah bagaimana seharusnya. Adalah Arne Naess filsuf asal Norwegia (1973), memperkenalkan serta membela konsep etika lingkungan yang diistilahkan dengan deep ecology. Hal ini sebagai cara pandang baru  yang bertumpu pada perubahan dari antroposentrisme menuju ke pembelaan lingkungan murni. Dari sini menjadi pijakan bagi lahirnya pandangan baru dinamakan dengan ekosentrisme. Pandangan ekosentrisme adalah antitesis atau sebagai kontra ideologi dari pada cara berpikir manusia sebelumnya terhadap alam. Ekosentrisme versi ini melihat entitas kehidupan di alam ini mulai yang terbesar hingga  yang terkecil tidak terkecuali kehidupan alam abiotik yang selama ini dianggap sebagai benda mati, adalah sebagai nilai, dan karena itu harus ditakar dalam kepentingan moral  manusia. Kepentingan nilai maupun moral sejatinya sebagai kesadaran puncak terhadap manusia. Versi ini sangat menentang superioritas manusia yang memposisikan diri sebagai pusat segalanya dan menganggap keterciptaannya untuk mengeksploitasi ciptaan lain. Karena itu berharap nilai, moral (etika) diterapkan terhadap semua komponen ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Itu karena secara ekologis makhluk hidup dan kehidupan abiotis lainnya adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Tidak terlepas dengan pandangan yang disebutkan, dengan memperhatikan krisis ekologi  saat ini, berikut akibatnya terhadap bencana alam, bencana non alam termasuk dengan wabah penyakit, tampak pada manusia memerlukan perenungan lagi lewat perubahan pandangan dan diikuti penerapannya khususnya dalam relasi yang dibangun dengan alam selama ini. Dengan melihat pola produksi dan konsumsi yang sangat tidak ekologis. Pola produksi maupun konsumsi dihubungkan dengan perlunya menerapkan Ekosentrisme, tentunya bisa dijadikan sebagai refleksi kritis bagi kita sebagai manusia. Bahwa sebagaimana entitas lain yang ada di alam termasuk eksistensi ekologi yang tak nampak oleh mata adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai bagian dari eksistensi ekologis dari kehidupan manusia. Untuk menjadikan pandangan ekologi (manusia ekologi) maka sepantasnya pandangan ekosentrisme hadir menggugat kesadaran ekologis. Bahwa persoalan kehidupan atau kepentingan manusia bukan sebatas pada pemenuhan serta pencapaian kebutuhan ataupun kepentingan manusia, namun juga berhubungan dengan persoalan yang lebih kausalitas mutual yakni terkait keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia juga  kebutuhan alam. Untuk menempatkan diri sebagai manusia ekologi saatnya kita ditantang untuk berjuang agarkeberadaannyatidaksebagaipenjahatekologi.DiMandarSulawesiBarat masasilam pun lewat referensi sejarahnya telah mendengungkan dengan meletakan pandangan manusia ekologi ini lewat statemen : alang kaiyyang membolong di alang kenje, alang kenje membolong di alang kaiyyang.
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman