FOTO : Jejeran ukiran sketsa wajah pada media daun kering karya pria bernama Iskandar di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman, Rabu (08/10/2025).[/caption]
Meski tampak sederhana, proses mengukir sketsa wajah pada media daun kering dikerjakan Iskandar dengan sangat hati-hati dan teliti. Ukiran pada media daun dikerjakan bermodalkan pisau cutter.
Rata-rata proses pengerjaan setiap ukiran membutuhkan waktu 2 sampai 4 jam, tergantung tingkat kerumitan. Dia mematok biaya ukir sebesar Rp 100 ribu - Rp 200 ribu.
"Rata-rata proses pengerjaan 2 sampai 4 jam untuk semua ukuran. Tergantung detail dan tingkat kerumitan," ucap Iskandar.
Agar bertahan lama, setiap karya ukirnya disemprot menggunakan cat bening, lalu diberi figura sehingga terlihat lebih menarik.
Iskandar menyebut tidak semua daun dapat digunakan sebagai media ukir. Dia hanya menggunakan daun nangka dan daun jati karena bentuknya lebar dan mudah diukir.
"Pakai daun jati sama daun nangka. tapi tidak sembarangan, harus yang masih lentur," terangnya.
Setidaknya dalam sebulan Iskandar menerima 10 orderan warga yang ingin fotonya diukir pada media daun kering. Iskandar mempromosikan karyanya melalui media sosial sehingga orderan berdatangan dari sejumlah wilayah.
"Biasanya kalau normal kita kerjakan sampai 10 gambar (ukiran) biasa juga kurang, biasa juga lebih. Orderan, sampai ke Kalimantan, banyak pemesan dari sosmed," pungkas Iskandar. (thaya) Kreatif, Pria Pambusuang Polman Sulap Daun Kering Jadi Karya Seni
Penulis / Redaksi:
admin
Sabtu, 11 Oktober 2025 09:20 WITA
452 tayangan
2 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Pria bernama Iskandar (26) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), sukses menyulap daun kering menjadi karya seni. Daun kering itu dimanfaatkan sebagai media untuk mengukir sketsa wajah yang bernilai rupiah.
"Kan kemarin tidak ada kerjaan, saat scrolling sosial media muncul kerajinan tangan (ukiran pada daun kering) akhirnya saya terpikir untuk mencoba," kata Iskandar kepada wartawan, Rabu (08/10/2025).
Iskandar merupakan warga Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa. Diakui, mengukir sketsa wajah pada media daun kering dipelajari secara otodidak dan telah dikuasai sejak 10 bulan terakhir.
"Sudah jalan 10 bulan, belajar secara otodidak di sosmed," ungkapnya.
Iskandar mengaku banyak melakukan kesalahan saat pertama kali belajar mengukir sketsa pada media daun kering. Meski begitu, setiap kesalahan itu tidak membuatnya menyerah.
Dia mengaku semakin termotivasi untuk lebih baik hingga akhirnya akhirnya mahir mengukir sketsa wajah memanfaatkan media daun kering.
"Belajar kurang dari sebulan. Meski selalu salah, kita selalu belajar untuk lebih baik, akhirnya ada peminat," ujar Iskandar meyakinkan.
[caption id="" align="alignnone" width="1600"]
FOTO : Jejeran ukiran sketsa wajah pada media daun kering karya pria bernama Iskandar di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman, Rabu (08/10/2025).[/caption]
Meski tampak sederhana, proses mengukir sketsa wajah pada media daun kering dikerjakan Iskandar dengan sangat hati-hati dan teliti. Ukiran pada media daun dikerjakan bermodalkan pisau cutter.
Rata-rata proses pengerjaan setiap ukiran membutuhkan waktu 2 sampai 4 jam, tergantung tingkat kerumitan. Dia mematok biaya ukir sebesar Rp 100 ribu - Rp 200 ribu.
"Rata-rata proses pengerjaan 2 sampai 4 jam untuk semua ukuran. Tergantung detail dan tingkat kerumitan," ucap Iskandar.
Agar bertahan lama, setiap karya ukirnya disemprot menggunakan cat bening, lalu diberi figura sehingga terlihat lebih menarik.
Iskandar menyebut tidak semua daun dapat digunakan sebagai media ukir. Dia hanya menggunakan daun nangka dan daun jati karena bentuknya lebar dan mudah diukir.
"Pakai daun jati sama daun nangka. tapi tidak sembarangan, harus yang masih lentur," terangnya.
Setidaknya dalam sebulan Iskandar menerima 10 orderan warga yang ingin fotonya diukir pada media daun kering. Iskandar mempromosikan karyanya melalui media sosial sehingga orderan berdatangan dari sejumlah wilayah.
"Biasanya kalau normal kita kerjakan sampai 10 gambar (ukiran) biasa juga kurang, biasa juga lebih. Orderan, sampai ke Kalimantan, banyak pemesan dari sosmed," pungkas Iskandar. (thaya)
FOTO : Jejeran ukiran sketsa wajah pada media daun kering karya pria bernama Iskandar di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman, Rabu (08/10/2025).[/caption]
Meski tampak sederhana, proses mengukir sketsa wajah pada media daun kering dikerjakan Iskandar dengan sangat hati-hati dan teliti. Ukiran pada media daun dikerjakan bermodalkan pisau cutter.
Rata-rata proses pengerjaan setiap ukiran membutuhkan waktu 2 sampai 4 jam, tergantung tingkat kerumitan. Dia mematok biaya ukir sebesar Rp 100 ribu - Rp 200 ribu.
"Rata-rata proses pengerjaan 2 sampai 4 jam untuk semua ukuran. Tergantung detail dan tingkat kerumitan," ucap Iskandar.
Agar bertahan lama, setiap karya ukirnya disemprot menggunakan cat bening, lalu diberi figura sehingga terlihat lebih menarik.
Iskandar menyebut tidak semua daun dapat digunakan sebagai media ukir. Dia hanya menggunakan daun nangka dan daun jati karena bentuknya lebar dan mudah diukir.
"Pakai daun jati sama daun nangka. tapi tidak sembarangan, harus yang masih lentur," terangnya.
Setidaknya dalam sebulan Iskandar menerima 10 orderan warga yang ingin fotonya diukir pada media daun kering. Iskandar mempromosikan karyanya melalui media sosial sehingga orderan berdatangan dari sejumlah wilayah.
"Biasanya kalau normal kita kerjakan sampai 10 gambar (ukiran) biasa juga kurang, biasa juga lebih. Orderan, sampai ke Kalimantan, banyak pemesan dari sosmed," pungkas Iskandar. (thaya) admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
