Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Pemuda Polman Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Budidaya Semangka Cuan Puluhan Juta

Penulis / Redaksi: admin
Jumat, 11 September 2026 16:55 WITA 203 tayangan 4 menit baca
Pemuda Polman Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Budidaya Semangka Cuan Puluhan Juta
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
POLEWALI MANDAR- Ribuan buah semangka siap panen menghampar di atas lahan pertanian di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Tampak sejumlah warga yang sibuk memetik buah semangka kemudian mengumpulkannya untuk dipasarkan. Kebun budidaya buah semangka itu terletak di Desa Mambu, Kecamatan Luyo. Dikelola seorang pemuda setempat bernama Muhammad Shiddiq Shaleh (24). Budidaya semangka telah ditekuni pria yang akrab disapa Shiddiq ini sejak tahun 2024 lalu. Memanfaatkan lahan seluas lebih kurang 30 are yang sempat terbengkalai. Sebelumnya, lahan tersebut merupakan area perkebunan yang kemudian dialihfungsikan menjadi persawahan untuk mendukung program swasembada pangan. Namun, rencana tersebut tidak berjalan optimal lantaran saluran irigasi yang tersedia tidak memadai untuk mendukung aktivitas pertanian padi. Alih-alih dibiarkan kembali menjadi lahan tidur, Shiddiq kemudian mencari alternatif pemanfaatan lahan tersebut. Hingga akhirnya, lahan itu disulap menjadi kebun budidaya semangka. “Awalnya saya prihatin banyak lahan tidur di sekitaran rumah. Saya lalu terpikir untuk manfaatkan lahan tersebut agar bisa menjadi produktif,” kata Shiddiq kepada wartawan, Sabtu (05/09/2026). Diakui Shiddiq, proses budidaya semangka dipelajari secara otodidak. Bermodal ketekunan, serta kemauan untuk terus belajar, usaha yang dirintisnya perlahan mulai membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar dua bulan sejak proses menanam hingga panen, tanaman semangka sudah dapat dipetik dan dipasarkan. Meski memiliki potensi menjanjikan, Shiddiq mengaku tidak melakukan penanaman secara terus-menerus. Dia mengaku berupaya memberikan jeda di antara masa tanam. Jeda masa tanam itu bertujuan menjaga kondisi dan kesuburan tanah sehingga lahan tetap produktif dan dapat kembali digunakan untuk budidaya pada musim berikutnya. “Saya belajar secara otodidak, masa panen kami menyesuaikan, kami tidak terus menerus, kalau memungkinkan menanam kami menanam. Saya juga beri masa jeda untuk menjaga kesuburan tanah,” ungkapnya meyakinkan. Menurut pria yang yang hobi mengendarai motor Vespa itu, dalam sekali masa panen kebun budidaya yang dikelolanya bisa menghasilkan delapan ton buah semangka.  Omsetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung harga jual dan kondisi pasar. “(Hasil) sebelumnya bisa sampai 8 ton,” ucapnya. [caption id="" align="alignnone" width="1600"] Foto : Muhamamd Shiddiq membuat konten promosi hasil panen semangka di kebun budidaya miliknya di Desa Mambu, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polman.[/caption] Diakui Shiddiq, hasil panen semangka di kebun budidayanya tidak hanya dijual langsung kepada masyarakat. Sebagian hasil produksi juga dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk memperluas pasar sekaligus mempercepat penjualan, pemuda ini memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Dia mengemas promosi dengan gaya yang kocak dan pola komunikasi yang khas. Konten-konten yang dihasilkan menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga mudah dikenal dan menarik perhatian warga termasuk calon pembeli buah semangka. “Saya manfaatkan media sosial sebagai pemasaran juga, lebih efektif. Saya lempar langsung ke konsumen akhir, mereka juga langsung datang ke rumah,”  terangnya. Dalam proses budidaya, dia juga berupaya menerapkan teknik yang dianggap mampu meningkatkan hasil produksi. Selain memberikan pupuk sesuai takaran, permukaan tanah yang ditanami semangka juga dilapisi plastik mulsa untuk membantu menekan pertumbuhan gulma sekaligus menjaga tanaman dari gangguan tertentu. Meski seluruh teknik budidaya dipelajari secara otodidak, dia terus berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Baginya, keberhasilan panen tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga ketekunan dalam merawat tanaman sejak awal hingga memasuki masa panen. Diakui Shiddiq, sebelum fokus membudidayakan semangka, dia bersama keluarganya juga sempat menekuni budidaya tanaman cabai. Dia memilih beralih dan lebih serius mengembangkan budidaya semangka karena dianggap lebih mudah dan efisien untuk dibudidayakan. “Sebelumnya saya sempat mencoba budidaya cabai, saya mau coba komoditi lain, makanya saya coba semangka. Ternyata lebih efektif, harganya juga menjanjikan,” pungkas pria berkumis khas ini. Dari lahan yang sebelumnya terbengkalai, usaha tersebut kini menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka peluang bagi pemanfaatan lahan kosong agar lebih produktif. Kisah ini menunjukkan bahwa keterbatasan sarana tidak selalu menjadi penghalang untuk mengembangkan sektor pertanian. Dengan kreativitas, kemauan belajar, dan ketekunan, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat disulap menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. (thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman