Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Kisah Penyuluh KB di Polman Sukses Beternak Kambing di Tengah Pemukiman, Cuan Jutaan

Penulis / Redaksi: admin
Sabtu, 10 Oktober 2026 15:30 WITA 406 tayangan 5 menit baca
Kisah Penyuluh KB di Polman Sukses Beternak Kambing di Tengah Pemukiman, Cuan Jutaan
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
POLEWALI MANDAR,- Seorang pria bernama Juliadi (45) sukses beternak kambing di tengah pemukiman padat penduduk dengan omset jutaan per bulan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Dia juga mampu mengatasi masalah bau kandang sekaligus menyiasati keterbatasan pakan di musim kemarau memanfaatkan limbah dedaunan yang difermentasi. Juliadi merupakan warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Wonomulyo. Sejak 2022, dia konsisten mengembangkan usaha peternakan kambing di sela-sela kesibukannya menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). “Awal mulanya tahun 2022,” kata Juliadi kepada wartawan, Sabtu (10/10/2026). Ayah tiga anak yang akrab disapa Mas Jul ini mengungkapkan, ketertarikannya pada dunia peternakan berawal dari kebiasaan orang tuanya membawa pulang pakan ternak setelah bekerja di sawah. Kebiasaan tersebut kemudian menginspirasi dirinya untuk memanfaatkan limbah pertanian tersebut menjadi peluang usaha. “Kalau cerita awal mula sebenarnya dari orang tua. Kita kan dari petani, biasa kalau dari sawah atau dari kebun kita bawa sedikit makanan untuk ternak baik kambing maupun sapi, daripada tebuang percuma akhirnya saya terpikir untuk beternak kambing,” ungkapnya. Diakui Juliadi, pada awal merintis usaha, banyak warga yang meragukan keseriusannya dalam beternak kambing. Selain harus membagi waktu dengan pekerjaan sebagai ASN, lokasi kandang yang berada di tengah pemukiman padat penduduk juga dikhawatirkan menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu lingkungan sekitar. “Awalnya tidak ada yang percaya bagaimana saya bisa membagi waktu. Apalagi lokasi yang saya manfaatkan untuk beternak berada di tengah pemukiman, dikhawatirkan mengganggu masyarakat kalau berbau,” tuturnya. Namun, bermodal tekad dan keyakinan, Juliadi perlahan mampu menjawab keraguan tersebut. Usaha yang awalnya hanya bermula dari skala kecil kini berkembang menjadi peternakan dengan populasi puluhan ekor kambing. “Jadi awalnya saya itu berusaha mengatur waktu. Sabtu sama minggu kan berdekatan, jadi saya mencoba memaksimalkan dua hari itu untuk mengumpulkan pakan,” ujarnya. “Awalnya sedikit, hanya 10 ekor indukan, sekarang sudah 30 ekor indukan. Total populasinya lebih 56 ekor,” sambungnya meyakinkan. Menurut Juliadi, salah satu tantangan dalam beternak kambing adalah memastikan ketersediaan pakan, terutama ketika musim kemarau tiba. Berkurangnya pasokan hijauan kerap menyulitkan peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan harian ternak. Meski begitu, dia berhasil menyiasati persoalan tersebut dengan mengumpulkan berbagai jenis dedaunan dan rerumputan yang berasal dari limbah masyarakat. Bahan-bahan tersebut kemudian digiling dan difermentasi agar lebih tahan lama serta dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif. “Alhamdulillah, meski kemarau kita surplus pakan, karena kita manfaatkan semua jenis dedaunan, hasil limbah masyarakat kita kumpul, kita giling, kita fermentasi biar tahan lama. Karena pakan itu bagus kalau berbagai jenis,” terang penyuluh Keluarga Berencana (KB) itu. Juliadi mengatakan, pengelolaan pakan secara fermentasi tidak hanya membantu menjaga ketersediaan kebutuhan ternak, tetapi juga menciptakan peternakan yang ramah lingkungan. Apalagi, pakan hasil fermentasi diklaim bisa mengurangi bau kotoran ternak sehingga tidak mengganggu warga sekitar. “Makanan yang difermentasi juga bisa mengurangi bau pada kotoran. Di samping itu, manajemen pengelolaan kandang juga harus kita perhatian, seperti kebersihannya agar tidak tidak mengganggu masyarakat,” ucapnya. [caption id="" align="alignnone" width="1000"] Foto : Juliadi memperlihatkan pakan hasil fermentasi untuk ternak kambing miliknya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman.[/caption] Rata-rata peternakan Juliadi menghasilkan 4 sampai 5 ekor anakan kambing. Dari hasil pengembangbiakan tersebut, dia menjual enam 6 hingga 7 anakan kambing berusia sekitar tiga bulan setiap bulan. Harga jualnya bervariasi berdasarkan jenis kelamin, yakni Rp 1,5 juta per ekor untuk kambing jantan dan Rp 1 juta per ekor untuk kambing betina. “Rata-rata kelahiran kambing bisa 4 sampai 5 ekor per bulan. Kalau penjualannya bisa 6 sampai 7 ekor untuk yang sudah lepas susu. Yang Jantan kita jual 1,5 juta per ekor sedangkan betina kita jual 1 juta per ekor,” imbuhnya. Tak berhenti pada penambahan populasi, Juliadi juga berupaya meningkatkan kualitas kambing melalui persilangan. Dia menyilangkan kambing jenis Boer dan kambing lokal Jawa Randu yang dinilai memiliki potensi menghasilkan ternak dengan kualitas daging lebih baik dan pertumbuhan lebih cepat. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai jual kambing sekaligus menghasilkan ternak yang mampu memenuhi kebutuhan pasar. “Kita juga coba melakukan persilangan untuk meningkatkan kualitas kambing sehingga harga jualnya lebih tinggi. Kita kawinkan kambing jenis bour dan kambing lokal jenis jawa randu. Selain memiliki kualitas daging yang lebih baik, pertumbuhannya juga cepat,” tegasnya. Berkat pengelolaan yang terus dikembangkan, kambing hasil peternakan Juliadi kini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di luar Polewali Mandar. Jangkauan pemasarannya bahkan telah menembus Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, hingga Kota Palu, Sulawesi Tengah. “Pemasaran kambing saya sudah kemana-mana, bukan hanya memenuhi pasar lokal saja. Ada yang ke Sidrap bahkan Palu,” tandasnya. Selain menjadi sumber penghasilan tambahan, peternakan milik Juliadi juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Para siswa datang untuk menjalani praktik lapangan sekaligus mempelajari pengelolaan peternakan kambing secara langsung. Bagi Juliadi, keberhasilan mengembangkan peternakan kambing bukan semata-mata untuk memperoleh cuan. Dia berharap usahanya dapat menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk memulai usaha produktif, selama pengelolaannya dilakukan dengan baik. “Saya berharap gini, bagaimana kita bisa memberi sumbangsih untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Bahwasanya kita bisa beternak dengan skala besar meski tempatnya minimalis, tidak terlalu luas, berada di tengah pemukiman penduduk, tapi kita bisa dengan populasi yang banyak tidak mengganggu tetangga, yang penting di manajemen pakannya dan manajemen kandangnya,” pungkasnya. (thaya)  
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman