Novrianti menyebut, kain sambu' buatannya dijual dari kisaran harga Rp 300 ribu perlembar - Rp 850 ribu perlembar. Pemasarannya secara daring menjangkau sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk ke Jakarta hingga Papua.
Adapun omset yang diperoleh dari hasil menjual kain sambu' ditaksir mencapai Rp 5 juta perbulan.
"Kalau omset sekira 4 sampai 5 juta perbulan. Paling murah dihargai 300, paling mahal di harga 850 ribu rupiah, tergantung ukuran dan model," ucapnya meyakinkan.
Novrianti berharap, pemerintah memberi perhatian untuk melatih dan memberdayakan para penenun kain sambu' di daerah ini. Baginya, kain sambu' bukan hanya warisan budaya namun identitas identitas warga Mamasa yang harus diwariskan secara turun temurun.
"Kain sambu' itu identitas kami sebagai warga Mamasa. Tantangan kita sekarang ini terletak pada sumber daya manusia, tidak semua orang bisa menenun dengan kualitas bagus, padahal kita menawarkan kuliatas, orang taunya tenun Mamasa itu berkualitas," pungkasnya. (thaya) Cerita Gadis Muda di Mamasa Tekuni Tenun Sambu' Cuan Jutaan
Penulis / Redaksi:
admin
Sabtu, 6 September 2025 17:55 WITA
1,205 tayangan
3 menit baca
MAMASA,- Gadis muda bernama Novrianti (23) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, meraup cuan jutaan rupiah perbulan berkat usaha tenun kain sambu'. Ketertarikannya menekuni usaha ini berawal dari niat untuk melestarikan kain sambu' sebagai warisan budaya leluhur.
"Tertarik karena ingin melestarikan warisan budaya," kata Novriati kepada wartawan, Sabtu (06/09/2025).
Novrianti merupakan warga Desa Rantepuang, Kecamatan Sesenapadang, Kabupaten Mamasa. Usaha tenun sambu' yang ditekuni sejak akhir tahun 2024 ini dijalankan dari rumahnya di Desa Rantepuang.
Ruang tamu rumahnya berukuran sekira 4x5 meter disulap sebagai tempat menenun, sekaligus menampilkan puluhan lembar kain hasil karyanya.
Tidak sekedar memasarkan, gadis kelahiran 1 November 2001 itu juga terjun langsung dalam setiap proses menenun kain yang masih dilakukan secara tradisional. Termasuk proses penyusunan setiap helai benang sebelum ditenun yang dikenal dengan nama Ma'sampang.
Diakui Novrianti, kemampuan menenun kain sambu' telah dikuasai sejak kecil, saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Kemampuan menenun dipelajari dari orang tuanya.
"Sejak kecil, mulai kelas 1 SD (sekolah dasar) sudah bisa menenun, karena sering lihat mama, nenek (menenun). Kalau ada pesanan (kain sambu') saya biasa membantu dan tidak pernah dilarang," ungkap gadis yang akrab disapa Anti itu.
Menurutnya, untuk menghasilkan selembar kain sambu' biasanya membutuhkan waktu paling cepat satu setengah hari. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan corak kain.
Dia juga mengaku usaha kain sambu' yang dijalankannya melibatkan warga setempat khususnya emak-emak untuk membantu penuhi permintaan pasar.
"Rata-rata dalam seminggu itu saya bisa buat lima sampai enam lembar kain sambu'. Karena pesanan selalu ada setiap harinya, saya dibantu warga," ungkap Novrianti.
"Saya senang, karena usaha ini bisa membantu masyarakat di sini terutama ibu-ibu. Bisa memberikan pekerjaan karena dengan mengambil pesanan dari luar," sambung gadis berkulit hitam manis itu.
Lebih lanjut Novrianti mengungkapkan, kain sambu' yang ditenunnya tidak melulu menggunakan warna dasar seperti hitam, merah dan putih. Dia berkreasi dengan memadukan warna lain sehingga kain sambu' hasil tenunnya terlihat lebih menarik.
"Selama ini yang orang pesan cuman motif-motif lama. Karena saya suka memadukan warna, jadi saya berkreasi dengan bermacam warna sehingga lebih menarik," tutur alumni Universitas Negeri Manado itu.
Agar lebih cepat menarik perhatian warga, Novrianti mencoba menayangkan secara live melalui aplikasi media sosial setiap proses memenun kain sambu' yang dilakukannya. Belakangan, banyak warga yang meminta agar proses penenunan kain pesanannya didokumentasikan dalam bentuk video.
"Karena setiap proses menenun selalu saya tampilkan secara live di aplikasi, sekarang banyak warga yang pesan kain sambu' minta agar dibuatkan dokumentasi proses penenunan kain pesananannya," terang Novrianti sambil tertawa.
Novrianti menyebut, kain sambu' buatannya dijual dari kisaran harga Rp 300 ribu perlembar - Rp 850 ribu perlembar. Pemasarannya secara daring menjangkau sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk ke Jakarta hingga Papua.
Adapun omset yang diperoleh dari hasil menjual kain sambu' ditaksir mencapai Rp 5 juta perbulan.
"Kalau omset sekira 4 sampai 5 juta perbulan. Paling murah dihargai 300, paling mahal di harga 850 ribu rupiah, tergantung ukuran dan model," ucapnya meyakinkan.
Novrianti berharap, pemerintah memberi perhatian untuk melatih dan memberdayakan para penenun kain sambu' di daerah ini. Baginya, kain sambu' bukan hanya warisan budaya namun identitas identitas warga Mamasa yang harus diwariskan secara turun temurun.
"Kain sambu' itu identitas kami sebagai warga Mamasa. Tantangan kita sekarang ini terletak pada sumber daya manusia, tidak semua orang bisa menenun dengan kualitas bagus, padahal kita menawarkan kuliatas, orang taunya tenun Mamasa itu berkualitas," pungkasnya. (thaya)
Novrianti menyebut, kain sambu' buatannya dijual dari kisaran harga Rp 300 ribu perlembar - Rp 850 ribu perlembar. Pemasarannya secara daring menjangkau sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk ke Jakarta hingga Papua.
Adapun omset yang diperoleh dari hasil menjual kain sambu' ditaksir mencapai Rp 5 juta perbulan.
"Kalau omset sekira 4 sampai 5 juta perbulan. Paling murah dihargai 300, paling mahal di harga 850 ribu rupiah, tergantung ukuran dan model," ucapnya meyakinkan.
Novrianti berharap, pemerintah memberi perhatian untuk melatih dan memberdayakan para penenun kain sambu' di daerah ini. Baginya, kain sambu' bukan hanya warisan budaya namun identitas identitas warga Mamasa yang harus diwariskan secara turun temurun.
"Kain sambu' itu identitas kami sebagai warga Mamasa. Tantangan kita sekarang ini terletak pada sumber daya manusia, tidak semua orang bisa menenun dengan kualitas bagus, padahal kita menawarkan kuliatas, orang taunya tenun Mamasa itu berkualitas," pungkasnya. (thaya) admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
