Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Warga Majene Lakukan Transplantasi Karang untuk Pulihkan Ekosistem Laut

Penulis / Redaksi: admin
Rabu, 14 Oktober 2026 16:26 WITA 118 tayangan 4 menit baca
Warga Majene Lakukan Transplantasi Karang untuk Pulihkan Ekosistem Laut
Foto ilustrasi / Dokumentasi Pendidikan - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
MAJENE,- Ratusan warga di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), beramai-ramai mengikuti kegiatan transplantasi karang sebagai upaya memulihkan dan menyelamatkan ekosistem laut. Selain mengancam keberlangsungan biota laut, kerusakan terumbu karang di wilayah pesisir daerah ini meningkatkan risiko abrasi yang mengancam pemukiman warga. “Tujuan kami melakukan ini karena rasa prihatin kami melihat kondisi ekosistem terumbu karang sekarang ini yang semakin lama semakin berkurang. Kebanyakan wilayah pesisir itu rusak terumbu karangnya, sehingga hal tersebut menyebabkan banyak sepanjang pesisir pantai khususnya di Pamboang terabrasi,” kata panitia kegiatan, Dr. Nurjirana kepada wartawan, Selasa (13/10/2026). Kegiatan restorasi ekosistem pesisir melalui transplantasi karang ini berlangsung di pesisir Pantai Kelurahan Lalampanua, Kecamatan Pamboang, Selasa (13/10), sekitar pukul 10.00 Wita. Dihadiri Wakil Bupati Majene Dr. Hj. Andi Ritamariani Basharoe, dinas terkait, komunitas peduli lingkungan, mahasiswa, pelajar, serta masyarakat termasuk warga yang berprofesi sebagai nelayan. Pelaksanaan kegiatan ini berkat dukungan LSM Eustoria Indonesia dan Telkom Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, para peserta bersama-sama menempelkan fragmen karang pada rangka baja berbentuk jaring laba-laba. Rangka yang telah dipasangi fragmen karang itu kemudian ditempatkan di sejumlah titik di perairan laut untuk mendukung proses rehabilitasi terumbu karang. Nurjirana mengungkapkan, kerusakan terumbu karang di wilayah tersebut disebabkan beberapa faktor. Selain aktivitas penarikan jangkar perahu nelayan, kerusakan juga dipicu praktek penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan pembiusan. “Penyebab utamanya lempar tarik jangkar nelayan yang merusak terumbu karang, mereka juga melakukan pengeboman untuk menangkap ikan, tanpa disadari mereka juga merusak ekosistem, merusak rumah. Itu dampak yang sangat massif dan yang juga lagi marak yaitu aktivitas membius, sehingga yang mati bukan hanya ikan tetapi juga karangnya ikut mati,” terangnya. Menurut Nurjirana, kegiatan transplantasi karang tersebut telah dilaksanakan sejak 2023. Diakui, tahun ini adalah banyak fragmen karang yang disiapkan untuk mendukung proses tranplantasi. “Kegiatan ini kami lakukan tiap tahun sejak tiga tahun belakangan. Namun tahun ini dengan jumlah transplan terbanyak,” ujarnya. “Sudah ada sekitar 220 rangka spider kita buat, lebih 5000 fragmen karang kita siapkan untuk proses rehabilitasi ekosistem,” sambungnya meyakinkan. Dia berharap kegiatan transplantasi terumbu karang ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Sehingga dapat memulihkan habitat biota laut, meningkatkan hasil tangkapan nelayan dan perekonomian masyarakat pesisir, sekaligus mengurangi dampak abrasi akibat gelombang tinggi. “Kalau karangnya bagus, karangnya sehat, biota laut akan melimpah dan masyarakat pesisir itu itu bisa lebih dekat dalam melakukan penangkapan ikan, tentunya itu akan menunjang nilai ekonomi masyarakat setempat dan juga bisa mengurangi dampak dari gelombang besar yang sampai ke pantai,” pungkasnya. Sementara nelayan setempat bernama Samsuddin mengungkapkan, kerusakan terumbu karang berdampak langsung terhadap hasil tangkapan ikan saat melaut. Bahkan, dia mengaku semakin sulit mendapatkan ikan di perairan dekat pantai sehingga harus melaut lebih jauh untuk memperoleh hasil yang memadai. “Dulu kita tidak perlu jauh-jauh untuk tangkap ikan, sekarang sudah susah. Biasanya satu dua jam saja kita melaut sudah dapat banyak ikan, sekarang biar seharian kadang tidak dapat,” tuturnya. Samsuddin menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari aktivitas penangkapan ikan menggunakan bahan pembius oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Diakui, praktik tersebut merusak terumbu karang yang menjadi habitat sekaligus tempat berlindung bagi berbagai jenis ikan. “Sekarang karang sudah tidak subur bahkan mati. Gara-gara bius, banyak karang mati, ikan juga sudah tidak ada,” tandasnya. Wakil Bupati Majene, Dr. Hj. Andi Ritamariani Basharoe, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan transplantasi karang tersebut. Dia menilai upaya pemulihan ekosistem laut perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, mengingat pertumbuhan terumbu karang membutuhkan waktu yang cukup lama. “Selaku pemerintah daerah tentu mengapresiasi kepada semua adek-adek, segenap panitia dan beberapa pemerhati karena membawa program ini ke Majene..Tentu ini harus berkelanjutan karena nanti dua tahun progresnya baru kelihatan,” ucapnya. Ritamariani juga menyoroti dampak kerusakan terumbu karang terhadap kehidupan masyarakat pesisir. Menurutnya, kerusakan tersebut tidak hanya mengurangi potensi hasil tangkapan nelayan, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem dan memperbesar risiko kerusakan lingkungan akibat abrasi. “Ini dampaknya luar biasa, kemarin orang dekat melaut karena ikan masih banyak, terumbu karang masih terjaga, sekarang susah. Artinya apa, terumbu karang kita yang ada di pantai Kabupaten Majene ini sudah banyak yang rusak karena tidak dijaga, tidak terpelihara, dibom akhirnya hancur, sehingga menyebabkan abrasi terjadi merusak lingkungan,” pungkasnya. (thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman