Sebut Massa Aksi “Bodoh”, HMI Tuntut Bupati Polewali Mandar Minta Maaf
Penulis / Redaksi:
admin
Kamis, 13 Agustus 2020 18:59 WITA
746 tayangan
2 menit baca
POLEWALI,- Puluhan massa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polewali Mandar, berunjuk rasa di Depan Kantor Bupati Polewali Mandar, Jalan Manunggal, Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali, Kamis siang (13/08/20).
Selain menuntut perbaikan pelayanan dan pencopotan pelaksana tugas direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat, massa aksi menuntut Bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar, meminta maaf lantaran telah melontarkan kata bodoh kepada massa aksi, dalam unjuk rasa berakhir ricuh, yang digelar HMI, kamis lalu (06/08).
“ Karena pada tanggal 6 agustus saat kami melakukan aksi, ada kalimat pernyataan yang dilontarkan bupati kami nilai tidak etis, di mana bapak bupati sebagai kepala daerah pimpinan tertinggi, mengeluarkan diksi bodoh kepada massa aksi “ tegas Koordinator Aksi, Muhammad Ridwan.
Selain itu, Bupati Andi Ibrahim Masdar, didesak mencopot oknum kepala dinas, yang dinilai arogan hingga melakukan tindakan represif pada salah seorang mahasiswi yang ikut menggelar aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu, “ dan juga ada tindakan represif salah satu oknum kepala dinas, melakuan tindakan represif terhadap massa aksi yang notabene adalah perempuan, kami meminta oknum kepala dinas itu dicopot saja “ kecam Ridwan.
Ridwan juga meminta, Bupati Polewali Mandar, mengevaluasi kinerja Satgas Covid-19, dan mempercepat penyediaan ruangan, alat kesehatan dan tenaga medis di rumah sakit setempat, “ Kami pihak HMI mendorong agar segera ada pejabat definitif di rumah sakit, kami meminta juga ada evaluasi kinerja Satgas Covid-19, termasuk meminta pengadaan alat kesehatan, ruangan dan paramedis, termasuk pembayaran insentif paramedis di rumah sakit “ bebernya.
Aksi yang dikawal ketat petugas keamanan dari Satpol PP dan Polisi, berlangsung aman dan lancar. Hingga membubarkan diri, tak satupun pejabat setempat yang menemui massa aksi, “ Kami akan memberikan ultimatum kepada pihak pemerintah, untuk menjawab tuntutan kami, kalau tidak, kami akan kembali untuk melakukan gugatan dengan aksi yang lebih besar “, pungkas Ridwan.
Berdasarkan pantauan wartawan, aksi unjuk rasa ini diawali dengan long march menuju Kantor Bupati. Mahasiswa juga membawa poster berisi tuntutan dan membakar ban bekas hingga mengundang perhatian warga. (Thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.