Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Perjuangan Bidan Desa di Riso Jangkau Wilayah Terisolir Terdampak Bencana

Penulis / Redaksi: admin
Kamis, 20 Oktober 2022 18:15 WITA 539 tayangan 3 menit baca
Perjuangan Bidan Desa di Riso Jangkau Wilayah Terisolir Terdampak Bencana
Foto ilustrasi / Dokumentasi kesehatan - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
TAPANGO,- Seorang perempuan bernama Meli (30 tahun) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harus melewati medan berat demi memberikan pelayanan kesehatan di wilayah terisolir terdampak bencana alam. Selain melintasi material tanah longsor hingga menapaki tebing curam, perempuan yang berprofesi sebagai bidan desa ini juga harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai berarus deras. “Suka duka dalam menjalankan tugas termasuk dalam bencana itu sangat banyak, tapi saat bertugas kita harus mengutamakan kemanusiaan, jadi apapun rintangannya harus kita hadapi,”ujar Meli kepada wartawan, usai melakukan pelayanan kesehatan kepada warga, Selasa (18/10/2022). Sehari-hari, Meli bertugas sebagai Bidan di Desa Riso, Kecamatan Tapango. Karirnya sebagai pelayan kesehatan dimulai pada tahun 2013 lalu sebagai bidan pembantu dengan status tenaga sukarela. Pada awal bulan Oktober tahun ini, Meli diangkat menjadi bidan utama di Desa Riso, menggantikan bidan sebelumnya yang cuti melahirkan hingga akhirnya berpindah tugas ke tempat lain. Selama bertugas, hampir semua wilayah di Desa Riso, telah Meli jangkau. Medan berat yang harus dilalui seolah sudah menjadi rute sehari-hari.

Meli memberi pelayanan kesehatan kepada warga terdampak bencana di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Selasa (18/10/2022).

Meski kadang merasa lelah, Meli mengaku enggan berhenti dari profesi sebagai bidan. Semangat untuk saling tolong menolong menjadi pelecut semangat baginya, hingga terus bertahan sampai saat ini. “Kita bertugas di sini untuk kemanusiaan, mudah-mudahan bisa bekerja maksimal dan menolong sesama, tanpa berpikir akan resiko melainkan tanggung jawab, untuk saling tolong menolong karena kemanusiaan,”imbuhnya. Peristiwa banjir bandang yang melanda Desa Riso, Kecamatan Tapango, Sabtu (15/10), menjadi cobaan berat bagi Meli. Betapa tidak, Meli dan keluarga yang tinggal di Dusun Rakasang, Desa Tapango, ikut terdampak peristiwa banjir akibat luapan Sungai Alapan. Putusnya akses jalan usai diterjang banjir, memaksa Meli berjalan kaki sejauh satu kilometer untuk menjangkau Pustu Desa Riso yang berada di pusat desa. Perjuangan lebih berat harus dijalani Meli, lantaran ada ratusan warga korban banjir bandang yang terisolir di Dusun Tondo Pata mengeluh terserang berbagai penyakit. Dusun tersebut hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer, melewati medan berat, termasuk menerobos sungai berarus deras. “Perjalanannya itu kita menyeberang sungai,  kemudian banyak jalanan yang tidak bisa kita lewati, tapi Puji Tuhan kia bisa lewati dengan baik dan bisa sampai di tempat terkena dampak bencana,”tuturnya bersemangat. Setibanya di lokasi bencana yang masih terisolir, Meli langsung disambut warga yang sudah menanti kehadirannya. Puluhan warga dari anak-anak hingga lansia, mengeluh merasakan sakit perut hingga diare, pasca bencana banjir melanda daerah ini. Meli menduga, gangguan kesehatan yang dialami warga akibat mengkonsumsi air tidak jernih. Peristiwa banjir membuat sumber air bersih warga setempat yang berasal dari pegunungan menjadi tercemar. “Kalau diare, dari air minum yang mereka konsumsi dalam keadaan tidak jernih, atau tidak layak dikonsumsi, tercemar gegara banjir, makanya mereka banyak yang mengalami diare,”tuturnya. Sementara banyaknya warga yang mengalami pusing, diduga karena kurang istirahat akibat trauma pasca banjir bandang yang menerjang kampung halamannya. “Mungkin karena mereka kurang istirahat, makanya mereka banyak yang tekanan darahnya rendah, sehingga pusing, mungkin karena masih trauma akan bencana dihadapi, sehingga kalau malam banyak yang begadang karena merasa khawatir,”terangnya. Bagi Meli, memberi pelayanan maksimal kepada warga merupakan bentuk tanggung jawab moril dan dedikasi sebagai petugas kemanusiaan, meski dirinya juga terdampak bencana alam. “Bertugas saat bencana apalagi saya dan keluarga juga ikut terdampak, menjadi cobaan besar yang saya rasakan, tetapi karena ini tugas kemanusiaan jadi kita harus tolong menolong, apalagi di sini itu (warga) semua sudah seperti keluarga saya,”pungkasnya. (Thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman