Nestapa Perempuan Lansia di Polman, Rawat 2 Anak ODGJ - 1 Dipasung
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 28 Februari 2022 22:27 WITA
636 tayangan
4 menit baca
POLEWALI,- Seorang perempuan lanjut usia (lansia) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harus berjuang menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan. Selain karena belitan kemiskinan, ia juga harus merawat dua anaknya yang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Ironis, salah satu anaknya terpaksa dipasung, lantaran kerap mengamuk.
Kisah menyedihkan ini dijalani Andi Saya (70 tahun), warga Desa Riso, Kecamatan Tapango. Kedua anaknya yang divonis ODGJ masing-masing berinisial AG (45 tahun) dan AN (40 tahun).
Andi Saya mengaku hanya dapat pasrah memberikan perawatan seadanya untuk kedua anaknya itu. Apalagi, ia sudah kehabisan uang untuk membawa kedua anaknya ke rumah sakit.
“Mau bagaimana lagi, uang saya juga sudah habis untuk biaya pengobatan keduanya,”ujar Andi Saya kepada wartawan, Senin (28/02/2022).
Karena harus merawat dan mengawasi kedua anaknya yang menderita gangguan jiwa, membuat Andi Saya kesulitan bepergian. Sebab, ia tidak boleh terlambat menyiapkan segala kebutuhan kedua anaknya, agar tidak mengamuk.
“Semuanya harus disiapkan, mulai dari makanan, mengangkat air untuk kebutuhan mandi, termasuk membersihkan ruangan tempat salah satu anak yang dipasung. Kalau terlambat dia biasa merah sampai mengamuk, ”tuturnya lirih.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Andi Saya mengandalkan sepetak lahan yang dikelolanya, serta bantuan sosial dari pemerintah. Lahan berjarak sekira dua kilometer dari tempat tinggalnya itu, ditempuh dengan berjalan kaki. Seiring berjalannya waktu, lahan tersebut semakin tidak produktif.
“Hasilnya sudah tidak seberapa, terkadang tidak cukup untuk untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, karena keluarga biasa berkunjung beri bantuan, ada juga bantuan dari pemerintah,”ungkapnya.
Perempuan kelahiran 1952 ini menyebut, kondisi kedua anaknya yang ODGJ, sedikit lebih baik jika rutin mengkomsumsi obat dari yang diberikan pihak Puskesmas. Hanya saja obat tersebut tidak lagi bisa didapatkan, karena kedua anaknya yang ODGJ tidak memiliki dokumen kependudukan. Harapan mendapat obat dengan cara membeli di apotik juga ditolak, karena tidak disertai resep dokter.
“Kalau rutin minum obat, kondisinya lebih baik. Tapi sudah lama obatnya habis. Katanya sudah tidak gratis karena anak saya tidak ada ktp (kartu tanda penduduk). Keluarga berupaya membeli di apotik juga tidak bisa, karena tidak ada resep dari dokter,”imbuh Andi.
Lanjut kata Andi Saya, kedua anaknya yakni AG dan AN sudah berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit, namun kondisinya tidak kunjung membaik. Selain pengobatan medis, ia juga berupaya memberikan kesembuhan untuk kedua anaknya dengan bantuan obat tradisional.
Salah satu keluarga, Andi Amma menyebut, penyakit kejiwaan yang diderita AG dan AN sudah berlangsung lama. AG juga pernah berulang kali menjalani pemasungan, namun akhirnya dilepas karena kondisinya sudah semakin membaik. Berbeda dengan AN yang hingga saat ini masih menjalani pemasungan, dalam ruangan berukuran 3 x 3 meter. AN dipasung menggunakan kayu berukuran besar, yang membelenggu salah satu kakinya hingga sulit bergerak.
Diketahui, AG awalnya hanya menderita sakit biasa, kondisinya menjadi parah setelah ditinggal pergi sang istri yang telah memberinya dua orang anak. Sejak saat itu, perilaku AG menjadi berubah, benci dengan keluarga hingga kerap mengamuk.
“Sementara AN diduga depresi, soalnya dia pernah merantau ke Jakarta bersama istri, dia bawa modal usaha 50 juta hasil gadai kebun dan jual motor. Setelah di Jakarta, usahanya gagal, uang habis, akhirnya pisah dengan istrinya,”pungkasnya.
Kepala Desa Riso H Onang menyebut, sebelumnya AG dan AN telah memiliki kartu identitas kependudukan dan biasa mendapat kunjungan petugas kesehatan. Ia menduga kartu tanda penduduk kedua warganya itu hilang sebelum berpisah dengan istri masing-masing.
“Setau saya dulu keduanya ada ktp. Kemungkinan hilang. Insya Allah kita akan upayakan agar keduanya bisa memiliki ktp baru. Soalnya tidak pernah dilaporkan,”ungkap Onang.
Onang mengatakan, pihaknya tetap akan memberikan perhatian, untuk meringankan beban hidup yang harus dijalani Andi Saya bersama kedua anaknya AG dan AN.
“Insya Allah akan selalu kita perhatikan, semoga ada jalannya agar kondisi keduanya (AG dan AN) bisa lebih baik. Sebenarnya AG dan AN masih memiliki saudara lain, kondisinya sehat dan sudah berkeluarga. Dia sering kesini untuk memantau kondisi ibu dan saudaranya,”pungkas pria yang baru dilantik menjadi Kepala Desa Riso, pada awal Januari lalu. (Thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
