WONOMULYO ,- Malang nasib Nur Magfira (7 tahun), anak semata wayang pasangan Muliadi dan Marwayani, warga Dusun Panre-Panreng, Desa Tumpiling, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, yang diduga menderita lumpuh layu.
Kondisi tersebut mengakibatan fisik Nur Magfira terlihat lebih kecil bahkan kaku. Magfira juga belum bisa duduk apalagi berjalan. Sehari-hari Nur Magfira hanya bisa berbaring dan menangis jika membutuhkan sesuatu. Seluruh aktifitasnya hanya dapat dilakukan dengan bantuan orang lain.
Diakui sang ayah Muliadi, kondisi memprihatinkan yang dialami buah hatinya tersebut, telah terjadi saat usianya baru menginjak tujuh bulan.
“ Waktu itu dia tiba-tiba demam tinggi, tidak pernah diperiksakan ke dokter untuk diberi obat, selain karena persoalan biaya, saya fikirnya itu hanya demam biasa “ ungkap Muliadi, kepada wartawan yang berkunjung, Sabtu (02/11/19).
Sejak saat itu, pertumbuhan fisik dan kondisi Nur Magfira diketahui tidak normal lagi. Diusianya sekarang ini, berat badan Nur Magfira hanya 10 kilogram saja. Tubuhnyapun terlihat kurus, menampakkan tulang yang terbungkus kulit.

Muliadi mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk menyembuhkan penyakit yang diderita anaknya. Penghasilannya yang pas-pasan, diakui tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Itu sebabnya, kondisi yang dialami Nur Magfira nyaris tidak pernah dilaporkan apalagi diperiksakan pada medis.
“ Jangankan untuk berobat di dokter, penghasilan saya sangat sering tidak cukup untuk memberinya susu, itu sebabnya dengan kondisi sekarang ini, saya lebih banyak memberinya kopi, dia pernah mendapat kunjungan dari bidan, seingat saya baru sekali dan memberinya biskuit sebagai makanan tambahan “ beber Muliadi yang mengaku hanya berprofesi sebagai buruh serabutan.
Ironis, dengan kondisinya yang memprihatinkan, Nur Magfira justru kehilangan kasih sayang dari sang ibu yang pergi meninggalkannya, “ Sudah dua bulan ibunya pergi, entah kemana, sebelum pergi dia sempat mengaku lelah mengurus anaknya yang sakit-sakitan “ ungkap Muliadi lirih.
Sehari-hari, Nur Magfira tinggal bersama sang ayah dan kakenya yang sudah berusia lanjut. Terkadang sang ayah terpaksa tidak pergi bekerja jika Nur Magfira terus menangis menolak untuk ditinggalkan. Tidak jarang pula, Nur Magfira terpaksa dititipkan di rumah tetangga, jika sang ayah dan kakeknya harus pergi mencari nafkah.
Muliadi sangat berharap, bisa mendapat perhatian dari pemerintah agar kelak Nur Magfira bisa hidup dengan kondisi yang lebih baik. (Thaya)