Memanas Unjuk Rasa Warga Desak Bawaslu Usut Dugaan Pelanggaran Pemilu di Polman
Penulis / Redaksi:
admin
Sabtu, 2 Maret 2024 18:16 WITA
1,393 tayangan
3 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Sejumlah warga menggelar aksi unjuk rasa menuntut Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) menindaklanjuti sejumlah dugaan pelanggaran yang dilakukan penyelenggara Pemilu di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Massa aksi sempat terlibat tarik menarik dan saling dorong dengan aparat keamanan.
Pantauan wartawan di depan Hotel Al Ikhlas, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Sabtu (02/3), sekira pukul 11.30 Wita, ketegangan bermula ketika sejumlah peserta aksi berupaya membuka barikade kawat berduri namun dihalangi polisi.
Lokasi tersebut merupakan tempat pelaksanaan rapat pleno rekapitulasi hasil perhitungan suara Pemilu 2024 tingkat kabupaten.
Peserta aksi yang kesal lalu terlibat tarik menarik dan saling dorong dengan polisi yang melakukan pengamanan. Beruntung situasi yang sempat memanas itu tidak berlangsung lama.
"Banyak pelanggaran yang terjadi, banyak kecurangan yang terjadi, kita mencurigai terjadi kongkalikong antara penyelenggara dengan partai politik," kata Jenderal Lapangan Muhammad Adi Wijaya kepada wartawan, Sabtu (02/03/2024).
Aksi unjuk rasa dilakukan warga yang tergabung dalam Mahasiswa dan Aliansi Masyarakat Sipil. Dalam aksinya, peserta aksi membentangkan spanduk dan poster serta membakar ban bekas.
Adi mengatakan, aksi yang digelar membawa sejumlah tuntutan kepada Bawaslu. Selain menindak lanjuti sejumlah dugaan pelanggaran yang dilakukan penyelenggara pemilu, mereka juga menuntut Bawaslu merekomendasikan penghitungan ulang surat suara pada sejumlah TPS (tempat pemungutan suara) di daerah ini.
"Kami turun untuk menuntut kebenaran itu, kami ingin Bawaslu merekomendasi untuk membuka ulang surat suara dan kami ingin menyaksikan secara seksama," ujarnya.
Dia mengaku memiliki sejumlah bukti terkait dugaan persekongkolan yang dilakukan penyelenggara pemilu dengan partai politik.
"Ada beberapa tempat yang diduga melakukan kecurangan dan itu tidak sesuai dalam aturan, dengan bukti-bukti yang ada kami mencurigai ada persekongkolan," ungkap Adi.
Bukti dimaksud berupa rekaman video menampilkan proses penghitungan suara di TPS yang dianggap tidak sesuai aturan.
"Seluruh teman sudah memiliki data, barang bukti rekaman. Video yang dimaksud tindak kecurangan pihak penyelenggara berupa video asal menyebut saja tanpa memperlihatkan surat suara, dan itu dibiarkan saja dari pihak pengawas pemilu," terang Adi.
Adi mengaku menyayangkan sikap Bawaslu Polman yang dianggap tutup mata dan tidak menindaklanjuti banyaknya dugaan pelanggaran pemilu di daerah ini. Pihaknya diakui akan terus menggelar aksi hingga tuntutannya dipenuhi.
"Janjinya akan menyampaikan tindak lanjut dugaan pelanggaran tersebut, namun sampai sekarang belum diindahkan. Padahal semakin banyak barang bukti yang ditemukan mahasiswa dan warga yang bisa memperkuat tuntutan. Kami akan tetap berada di sini, menuntut apa yang telah kami sampaikan," pungkasnya.
Sementara Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran Pemilu Bawaslu Polman, Usman belum memberi tanggapan ketika dikonfirmasi terkait tudingan massa aksi. Nomor kontak dan pesan singkat yang dikirim wartawan tidak direspon. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
