Senin, 9 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Gelar Haji bagi Umat Islam Indonesia Pemberian Belanda ?

Penulis / Redaksi: admin
Rabu, 13 Juli 2022 14:18 WITA 441 tayangan 2 menit baca
Gelar Haji bagi Umat Islam Indonesia Pemberian Belanda ?
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
UMAT Islam dari berbagai penjuru dunia yang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci tahun ini, sudah melaksanakan rangkaian ibadah rukun Islam kelima itu. Seluruhnya satu juta orang. Paling banyak dari Indonesia. Seluruh jamaah akan kembali ke negara masing-masing dalam beberapa hari mendatang. Para jamaah haji Indonesia akan mendapat gelar haji atau hajjah di depan namanya. Tradisi penyematan gelar itu hanya di Indonesia. Konon merupakan warisan dari penjajah Belanda. Benarkah ? Disadur dari beberapa sumber, gelar haji atau hajjah merupakan khas Indonesia. Meski ada di negara lain, dalam sejarah gelar haji / hajjah hanya ada di Indonesia. Gelar tersebut tidak ada di negara-negara Timur Tengah, walau warganya sudah menunaikan rukun Islam kelima. "Itu (gelar haji/hajjah) khas Indonesia, tidak ada di negara lain. Di Timur Tengah tidak ada gelar haji, orang Barat juga tidak bergelar haji walau sudah berhaji," kata Guru Besar Ilmu Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Syamsul Bakri (Kompas.com 10/6/2022). Syansul Bakri membenarkan awal mula gelar haji dari pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu, katanya, orang-orang pribumi yang telah melaksanakan ibadah haji diduga terpapar paham Pan-Islamisme, salah satu paham pemberontak kolonialisme selain komunis. Pan-Islamisme mengajarkan bahwa umat Islam di seluruh dunia harus bersatu untuk dapat terbebas dari kolonialisme dan imperialisme bangsa Barat. Nah, pemerintah kolonial kala itu menyematkan gelar haji sebagai penanda bagi yang pulang dari Tanah Suci. Karena pemerintah kolonial takut akan menguatnya paham Pan-Islamisme. Gelar haji / hajjah dari pemerintah kolonial itu bukanlah sebagai penghormatan. Melainkan untuk berjaga-jaga jika mereka memengaruhi masyarakat untuk mengeritik dan memberontak terhadap pemerintah kolonial. Pemberian gelar  Haji menyatu dengan nama orang yang pulang ibadah haji. Penjelasan senada dikemukakan sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali. Dikatakan, gelar Haji merupakan salah satu upaya pemerintah kolonial mengendalikan penyebaran paham Pan-Islamisme yang merebak pada awal abad ke-20. "Salah satunya sejak 1916, pemerintah Belanda menyematkan gelar Haji di depan nama setiap penduduk muslim yang ada di Hindi Belanda dengan maksud agar mudah diawasi," jelas Asep. Kala itu, semangat kemerdekaan terus digaungkan oleh tokoh Islam, terutama mereka yang telah kembali dari ibadah haji. Maka dapat disimpulkan, kata Asep, gelar Haji adalah gelar pemberontak yang diberikan penjajah kepada penduduk Indonesia saat itu. Asep mencontohkan beberapa tokoh yang sukses menyuarakan perlawanan kolonialisme usai beribadah haji. Antara lain KH Ahmad Dahlan (pendiri  Muhammadiyah pada 1912), KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, KH Samanhudi pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905, dan HOS Cokroaminoto pendiri Sarekat Islam (SI) tahun 1912. (M Danial)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman