WONOMULYO,- Malang nasib Nurhanifa, gadis cilik berusia 4 tahun 10 bulan, bungsu dari dua bersaudara pasangan Tamsil dan Jamila.
Sudah tiga tahun lamanya, gadis cilik asal Dusun Kebun Dalam, Desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, hidup dalam kondisi memprihatinkan, lantaran menderita tumor ganas.
Sang ayah yang berprofesi sebagai buruh serabutan mengaku, awalnya tumor ganas yang diderita Nurfanifa berada di bagian perut. Penyakit tersebut diketahui, setelah muncul benjolan seukuran telur ayam yang terus membesar, “ Waktu itu sempat menjalani perawatan di rumah, namun karena kondisinya yang sudah semakin parah, akhirnya dibawa ke rumah sakit Makassar, langsung dioperasi dilanjutkan dengan kemoterapi sebanyak 16 kali “ kata Tamsil kepada wartawan yang berkunjung, Kamis (12/03/20).
Menurut Tamsil, usai menjalani kemoterapi, Nurhanifa masih berulang kali melakukan pemeriksaan ke dokter, hingga kembali ditemukan adanya gejala tumor di tubuhnya, “ Dulu kontrol setiap enam bulan sekali, pas yang ketiga kali, tiba-tiba ditemukan ada kelainan di bagian limpa, dokter meminta agar kembali dilakukan kemoterapi sebanyak 8 kali “ ujarnya sambil mengusap air mata.
Saat itu, Tamsil mengaku enggan melanjutkan pengobatan anaknya dengan jalan kemoterapi. Nurhanifa akhirnya dibawa pulang ke kampung halaman, dan melajutkan pengobatan secara herbal, “ Apalagi waktu itu Nurhanifa mengaku tidak mau lagi dirawat di rumah sakit, dia menolak melanjutkan pengobatan dengan cara kemoterapi, dia terus meminta pulang ke rumah “ ungkapnya.
Kendati kondisi Nurhanifa diakui sempat membaik, namun sejak beberapa bulan terakhir kembali memburuk. Bahkan, sudah beberapa hari , Nurhanifa hanya dapat terbaring lemah, lantaran lengan kirinya mengalami pembengkakan yang terus membesar, akibat tumor ganas, “ Pembengkakan pada bagian lengan mulai terlihat sejak bulan November tahun lalu, sekarang kondisinya sudah semakin membesar dan membuat kondisi Nurhanifa semakin drop, awalnya dia masih bisa duduk, namun sudah enam hari ini dia hanya bisa terbaring “ tandas Tamsir lirih.
Walau sedih dan prihatin, Tamsil mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk kesembuhan anaknya. Penghasilannya sebagai buruh tani diakui sangat pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, “ Sekarang saya hanya bisa berdoa agar diberi kekuatan dan ketabahan, sembari berharap ada yang peduli dan mau memberikan bantuan untuk biaya pengobatan anak saya “ pintanya. (Thaya)