Cerita Emak-emak di Polman, Suka Ngeteh lalu Produksi Teh Rimpang Hasilkan Cuan
Penulis / Redaksi:
admin
Kamis, 8 Januari 2026 07:59 WITA
179 tayangan
3 menit baca
SEORANG Emak-emak bernama Tis’ah Muharramah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), sukses memproduksi minuman teh rimpang yang menghasilkan cuan. Usaha ini dikembangkan dari kebiasaan mengonsumsi teh.
Usaha teh herbal ini dijalankan Tis’ah sejak dua tahun terakhir dari rumahnya yang terletak di Kelurahan Polewali, Kecamatan Polewali.
Untuk menjaga kualitas dan rasa, pemilihan bahan baku, seperti jahe, sereh, kunyit, temulawak dan lengkuas hingga proses produksi dilakukan Tis’ah seorang diri.
Proses pembuatan teh rimpang cukup sederhana. Pertama-tama, semua bahan digiling hingga halus lalu dicampur secara merata sesuai takaran yang telah ditentukan.
Setelah itu, bahan yang telah tercampur merata dikemas menggunakan pembungkus berbahan nilon. Tujuannya untuk memudahkan warga saat proses penyeduhan.
Teh rimpang diseduh menggunakan air panas. Agar terasa lebih nikmat, tambahkan perasan jeruk nipis dan juga madu dengan takaran sesuai selera.
Menurut Tis’ah, teh rimpang buatannya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, termasuk untuk mencegah penuaan dini.
“Kalau untuk manfaatnya yah, untuk menjaga imun, terus anti oksidan, juga mencegah penuaan dini,” ujar kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Tis’ah mengungkapkan, teh rimpang ini awalnya diproduksi untuk kebutuhan pribadi. Produksi dalam jumlah banyak untuk usaha mulai dilakukan berkat dorongan keluarga dan teman yang merasakan langsung manfaat dari teh rimpang buatannya.
“Awalnya itu saya produksi hanya untuk konsumsi pribadi..Kebetulan ada teman yang datang dia lihat saya minum, lalu mereka meminta untuk mencoba setelah itu mereka mengatakan kenapa saya tidak buat banyak karena rasanya bagus,” terangnya.
Setidaknya ada tiga macam teh rimpang siap seduh yang diproduksi Tis’ah. Selain dalam bentuk basah dan kering, ada juga teh rimpang dalam bentuk syrup yang dijual dengan harga bervariasi.
Teh rimpang syrup kemasan 300 mililiter dijual seharga Rp 35 ribu. Sedangkan teh rimpang kering dan basah masing-masing dijual seharga Rp 20 ribu dan Rp 15 ribu.
“Yang basah itu setelah (bahan) diolah langsung dikemas, sedangkan yang dikering dijemur dulu. Terus yang syurup itu diambil dari sarinya (bahan), disaring terus dimasak sampai mendidih lalu diberi gula aren bubuk dan sari jeruk nipis,” jelas ibu satu anak ini.
Diakui Tis’ah, setidaknya dalam seminggu dia dua kali memproduksi teh rimpang dengan omset ratusan ribu rupiah sekali produksi. Teh rimpang buatannya telah dipasarkan ke sejumlah daerah dengan sistem pemasaran menggunakan media sosial dan bantuan reseller.
“Saya coba pasarkan di facebook, story wa (whatsApp), alhamdulillah sekarang sudah berjalan dua tahun. Selain wilayah Polman, Majene, Mamuju juga Makassar,” tuturnya meyakinkan.
Untuk diketahui, teh rimpang merupakan suplemen alami untuk mendukung gaya hidup sehat. Dengan banyaknya manfaat, minuman tradisional ini layak untuk menjadi bagian dari rutinitas harian demi mencapai kesehatan tubuh.
Rimpang seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur, dikenal kaya akan senyawa bioaktif, antioksidan, serta minyak atsiri. Senyawa-senyawa inilah yang berperan untuk kesehatan tubuh. Manfaat ini semua dapat diperoleh lewat khasiat teh rimpang.
Sebagai negara Agraris, Indonesia memiliki kekayaan jenis rimpang yang melimpah. Masing-masing rimpang memiliki ciri khas dan manfaat bagi kesehatan. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
