Berdayakan Masyarakat, Desa Binaan Imigrasi Jadi Inspirasi di Forum Internasional DGICM 2025
Penulis / Redaksi:
admin
Rabu, 20 Agustus 2025 10:44 WITA
367 tayangan
2 menit baca
BANDAR SERI BEGAWAN,- Indonesia memaparkan inisiatif Desa Binaan Imigrasi di Forum Intelejen Keimigrasian yang berlangsung di Bandar Sri Begawan, Brunai Darussalam. Desa Binaan Imigrasi merupakan langkah preemtif untuk mengedukasi masyarakat sekaligus mencegah praktik penyelundupan manusia dan tindak pidana perdagangan orang.
Hal itu disampaikan dalam Forum The 28th ASEAN Directors-General of Immigration Departments and Heads of Consular Affairs Divisions of the Ministries of Foreign Affairs (DGICM) 2025 yang berlangsung di Rizqun International Hotel, Bandar Seri Begawan, Selasa (12/08).
Pertemuan itu dihadiri Kepala Imigrasi negara anggota ASEAN, Timor Leste, dan Sekretariat ASEAN. Plt Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman, memimpin langsung delegasi Indonesia yang terdiri dari perwakilan Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Luar Negeri, dan KBRI Bandar Seri Begawan.
"Langkah ini mendapat perhatian positif dari peserta forum karena memadukan pendekatan teknologi dengan pemberdayaan masyarakat," kata Yudi Yusman dalam keterangannya, Rabu (20/08/2025).
Pada kesempatan itu, Indonesia juga menegaskan perannya dalam upaya pencegahan penyelundupan manusia di kawasan ASEAN. Termasuk keberhasilan mengungkap rute penyelundupan manusia melalui kerja sama efektif antara aparat penegak hukum nasional dan internasional.
"Keberhasilan itu menjadi salah satu best practice yang diharapkan dapat direplikasi di negara-negara anggota lainnya," ungkap Yudi.
Selain membahas penanganan penyelundupan manusia, forum ini juga menyoroti pentingnya peningkatan keamanan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi utama.
Indonesia menawarkan model transformasi strategis melalui pemanfaatan teknologi canggih seperti autogate dan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat pemeriksaan sekaligus memperkuat pengawasan.
Usulan kerja sama yang diajukan mencakup Border Crossing Agreement, operasi maritim bersama, serta program pelatihan terpadu bagi petugas keimigrasian.
Menurut Yudi, pertemuan hari pertama DGICM 2025 menggarisbawahi komitmen bersama seluruh negara anggota ASEAN dan Timor Leste untuk memperkuat kerja sama lintas batas, memerangi penyelundupan manusia, dan meningkatkan keamanan kawasan.
“DGICM merupakan forum strategis untuk membangun sinergi antarnegara dalam menjaga keamanan perbatasan, mencegah kejahatan lintas negara, serta meningkatkan kualitas pelayanan keimigrasian,” tuturnya.
Yudi menegaskan komitmen Indonesia mendorong kerja sama yang lebih erat di kawasan, baik melalui pertukaran informasi, peningkatan kapasitas, maupun pemanfaatan teknologi mutakhir.
"Kami percaya, dengan kolaborasi yang solid, kawasan ASEAN dapat menjadi lebih aman dan tangguh dalam menghadapi tantangan keimigrasian," pungkasnya. (rls/thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
