Banyak ODGJ Berkeliaran-Dipasung di Sulbar, WCCC Desak Pemerintah Bangun RS Jiwa
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 5 Januari 2026 20:24 WITA
119 tayangan
3 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Direktur lembaga Women Chlild Crisis Center (WCCC) Sulawesi Barat (Sulbar) Mimit Pakasi mendesak pemerintah segera membangun Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di daerah ini. Dia mengaku prihatin melihat banyak ODGJ (Orang Dengan Ganguaan Jiwa) hidup dalam pasungan dan dibiarkan berkeliaran hingga kerap menimbulkan masalah sosial baru.
“Ini salah satu alasan yang kuat untuk pemerintah provinsi (Sulbar) untuk cepat mengambil langkah mendirikan rumah sakit jiwa,” kata Mimit Pakasi kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Mimit mengatakan, selama ini masyarakat Sulbar yang mengalami gangguan jiwa harus berat dirujuk ke RS Dadi Makassar untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Diakui, jarak tempuh yang cukup jauh dapat menambah beban ekonomi keluarga hingga menghambat penanganan ODGJ pada fase kiritis (acute care).
“Jadi point yang ingin saya sampaikan bahwa adanya desentralisasi layanan untuk memutus rantai rujukan yang terlalu jauh agar intervensi krisis bisa dilakukan lebih cepat,” tuturnya.
“Selain itu, sebagai RSJ harus berfungsi sebagai pusat rehabilitasi yang menyiapkan pasien untuk kembali produktif di masyarakat (social reintegration). serta menjadi ruang edukasi yang menjadikan RSJ menjadi pusat edukasi publik untuk menghapus stigma negatif terhadap gangguan jiwa di wilayah Sulbar,” sambung akademisi Universitas Islam DDI itu.
Mimit juga melihat korelasi kuat antara kesehatan mental yang tidak tertangani dengan tingginya angka kekerasan. Banyak korban kekerasan mengalami trauma psikis mendalam (PTSD) atau depresi berat yang membutuhkan perawatan klinis intensif, bukan sekadar konseling rawat jalan.
Apalagi sepanjang tahun 2025 kemarin, angka kasus bunuh diri cukup tinggi khususnya di Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Bahkan ada dua kasus kematian disebabkan ODGJ.
“Ini merupakan fenomena gunung es, ke depan akan semakin meningkat kasus kasus bunuh diri.. khususnya di Polman telah terjadi 6 kasus bunuh diri tahun 2025, ini salah satu alasan yang kuat untuk pemerintah propinsi untuk cepat mengambil langkah untuk mendirikan rumah sakit jiwa di Sulbar,” bebernya.
Dia menyebut peningkatan kasus-kasus psikis, mulai dari kecemasan akut, depresi, hingga skizofrenia yang seringkali berakhir pada tindakan pemasungan akibat ketiadaan fasilitas medis yang memadai.
“RSJ bukan sekadar tempat pengobatan, melainkan simbol kemanusiaan untuk memanusiakan kembali para penyintas gangguan jiwa,” tandas Mimit.
Mimit mengemukakan, pendirian RSJ di Sulbar akan memudahkan integrasi pendekatan medis modern dengan pendekatan psikospiritual yang sesuai dengan karakteristik budaya religius masyarakat Mandar dan suku lainnya di Sulbar. Menurutnya, kesehatan adalah hak fundamental yang mencakup aspek lahiriah dan batiniah.
“Pesan yang ingin saya sampaikan bahwa kesehatan mental bukan hanya ketiadaan gangguan jiwa, tetapi tentang kesejahteraan (well-being) masyarakat kita. Sudah saatnya Sulbar memiliki kedaulatan dalam pelayanan kesehatan jiwa demi melindungi masa depan seluruh lapisan masyarakatnya di Sulbar,” pungkasnya. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
