Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

20 Tahun Mengabdi, Penjaga Sekolah Nyambi Bawa Bentor Diangkat PPPK PW di Polman

Penulis / Redaksi: admin
Jumat, 16 Januari 2026 19:24 WITA 203 tayangan 5 menit baca
20 Tahun Mengabdi, Penjaga Sekolah Nyambi Bawa Bentor Diangkat PPPK PW di Polman
Foto ilustrasi / Dokumentasi Pendidikan - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
BAHAGIA menyelimuti pria bernama Abdul Muttalib (56) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Setelah 20 tahun mengabdi sebagai caraka atau penjaga sekolah, dia akhirnya terangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu (PW). Kisah ayah enam anak ini akhirnya viral, setelah dirinya terekam kamera mengendarai becak motor (bentor) menuju lokasi penerimaan surat keputusan (SK) pengangkatan sebagai PPPK PW. Dalam potongan video yang telah beredar luas sejak Kamis kemarin (15/01), tampak Abdul Muttalib berjalan meninggalkan halaman sekolah menuju bentor miliknya. Meski usianya tak lagi muda, dia tampak gagah mengenakan seragam Korpri berwarna biru serta memakai kopiah. Diketahui, Abdul Muttalib merupakan warga Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo. Sehari-hari, dia bersama keluarga menempati salah satu perumahan guru di SDN 017 Sidorejo, tempatnya bekerja sebagai caraka. Saat dijumpai, Abdul Muttalib menceritakan awal mula dirinya diminta oleh salah seorang kerabatnya untuk menjadi caraka pada tahun 2005 silam. Dia mengaku menggantikan caraka lama yang telah pensiun. “Dulu ada tante yang menawarkan profesi ini (caraka), karena caraka sebelumnya sudah pensiun. Saya sempat pikir-pikir selama dua minggu, setelah mendengar nasihat tante, akhirnya saya terima, apalagi saya bisa tinggal di sini,” kata Abdul Muttalib kepada wartawan, Jumat (16/01/2026). Lebih lanjut Abdul Muttalib mengatakan, kabar kelulusan dirinya sebagai PPPK PW diperoleh dari kerabatnya. Dia mengaku tidak pernah menduga terangkat PPPK PW, terlebih dirinya hanya menamatkan pendidikan hingga di bangku SMP, lalu mengikuti ujian penyetaraan paket C. “Saya itu tidak pernah kepikiran bisa sampai seperti sekarang, apalagi waktu itu saya hanya tamatan SMP kemudian ikut paket C. Pas keluar nama langsung saya peluk istri, saya sangat bersyukur, kemarin saya tidak pernah menyangka, sudah pasrah dan ikhlas,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Setelah mengetahui dirinya lulus PPPK PW, Abdul Muttalib dibantu istri dan anaknya mulai mempersiapkan segala kebutuhan. Termasuk membeli seragam Korpri dan sepatu baru yang dipakai mengikuti upacara penerimaan SK. Menurut Abdul Muttalib, dirinya masih sempat menyelesaikan sejumlah tugas sebelum berangkat menuju lokasi penerimaan SK di halaman kantor Bupati Polman, Jalan Manungal, Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali, Kamis kemarin (15/01). Hanya saja, dia sempat nyasar ke tempat lain lantaran kurang teliti membaca surat undangan. “Sempat nyasar ke gedung gadis. Saya sempat duduk-duduk di depan masjid, untung ketemu ibu-ibu pakaian dinas juga menyampaikan kalau lokasi penyerahan SK itu di kantor bupati,” terang pria yang akrab disapa bapak Fajar itu. Diakui Abdul Muttalib, sejumlah rekan di sekolah sempat memintanya meminjam motor untuk dikendarai menuju lokasi. Dia menolak dengan alasan dirinya yang sudah tua lebih aman mengendarai bentor karena memiliki tiga roda. “Teman-teman juga sempat menyampaikan kenapa saya tidak pinjam motor, tapi saya berpikir lebih aman kalau pakai bentor karena rodanya tiga, apalagi kita ini sudah tua. Ini juga bentor merupakan kendaraan saya untuk mencari nafkah setelah jam sekolah,” tuturnya. Sebelum berangkat menuju Kantor Bupati Polman, Abdul Muttalib mengaku masih sempat menyelesaikan sejumlah tugas di sekolah. Dia berangkat setelah meminta ijin kepada sejumlah rekannya karena harus meninggalkan tugas di sekolah. “Sempat saya buatkan air panas Kepsek, naikkan bendera di sekolah, lalu minta maaf ijin meninggalkan tugas di sekolah, berharap doa agar selamat sampai di Polewali,” ucapnya. Meski penerimaan SK ini merupakan momen yang sangat berarti, sayangnya istri dan anak Abdu Muttalib tidak bisa hadir untuk menyaksikan acara ini. Bukan tanpa sebab, anak sulungnya kini masih harus jalani perawatan usai mengalami kecelakan lalu lintas, sementara sang istri harus menggantikan tugasnya membagikan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak di sekolah. “Keluarga tidak bisa hadir, soalnya anak yang pertama habis kecelakaan, sedangkan istri gantikan tugas saya atur distribusi MBG di sekolah. Daripada lepas tanggung jawab, istri yang ambil alih tugas saya,” imbuhnya. Itu sebabnya, Muttalib buru-buru pulang setelah mengikuti upacara penerimaan SK. Dia enggan bersukacita lebih lama layaknya penerima SK lainnya lantaran ada tanggung jawab di sekolah yang harus segera diselesaikan “Makanya buru-buru pulang karena mikirin MBG juga, karena anak-anak biasanya dihamburkan saja ompreng setelah makan, makanya harus betul-betul dicek jangan sampai ada yang rusak apalagi sampai kurang,” jelasnya. Abdul Muttalib mengaku tidak pernah menduga, perjalannya menggunakan bentor menuju kantor Bupati Polman akan viral di media sosial. Kabar itu ketahui dari sejumlah kerabatnya setelah pulang ke rumah. “Saya tidak menduga akan viral. Nanti setelah pulang ke rumah, keluarga berdatangan dengan mata berkaca-kaca karena terharu, menyampaikan kalau saya ada di dalam handphone,” ungkap Muttalib sambil tertawa. Meski hanya berstatus sebagai PPPK PW, Abdul Muttalib tetap merasa bangga. Dia pun mengimbau semua rekan-rekannya untuk selalu menjalankan tugas dengan tulus dan ikhlas. “Alhamdulillah tetap bangga meski paruh waktu, karena tidak semua bisa seperti ini, bisa pakai seragam ini sebagai abdi negara. Alangkah bagusnya kalau kita mencintai pekerjaan, karena dari situ kita bisa melihat berkahnya, yang penting kita ikhlas melaksanakan pekerjaan, enjoy sajalah,” pungkasnya. Menjalani Profesi Lain Selain bekerja sebagai caraka atau penjaga sekolah, Abdul Muttalib mengaku sempat menjalani sejumlah profesi lain untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarganya. Mulai dari tukang parkir, pengayuh becak dan penarik bentor hingga saat ini. “Pernah bawa becak, waktu itu saya rental empat ribu rupiah perhari. Meski pemasukan tidak menentu, alhamdulillah tetap bisa menutupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya sambil tersenyum. Seiring berjalannya waktu, Abdul Muttalib beralih menjadi penarik bentor karena becak mulai tidak diminati warga.  Karena keterbatasan dana, Abdul Muttalib sempat membeli bentor tanpa mesin hingga menjadi tertawaan orang lain. Diakui, profesi sebagai penarik bentor hanya dijalankan setelah jam sekolah usai. Dia mengaku, enggan mencari muatan apabila tugas di sekolah belum selesai. “Aktivitas bawa bentor setelah pulang sekolah. Dulu awalnya bisa dapat 200 ribu sehari, sekarng sudah susah, dapat 50 ribu saja sudah lumayan,” kenangnya. Meski sudah tidak normal dan sering masuk bengkel, Abdul Muttalib mengaku jika bentor miliknya itu sangat berarti. Selain untuk mencari tambahan rezeki, juga karena bentor itu menyimpan banyak kenangan perjalanan hidupnya bersama keluarga. “Bentor ini ibaratnya teman seperjuangan. Waktu istri habis melahirkan saya antar pakai bentor ini pulang ke rumah, anak habis kecelakaan saya bawa pakai bentor ini bolak balik ke rumah sakit untuk periksa, antar anak ke sekolah, antar istri ke pasar, semuanya pakai bentor ini,” tuturnya bangga. (thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman