Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

1 Oktober, Hari Kopi Sedunia dan Sejarahnya

Penulis / Redaksi: admin
Sabtu, 1 Oktober 2022 08:01 WITA 609 tayangan 4 menit baca
1 Oktober, Hari Kopi Sedunia dan Sejarahnya
Foto ilustrasi / Dokumentasi Lifestyle - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
KOPI adalah minuman yang digemari banyak kalangan karena aroma dan rasanya yang nikmat. Kopi menjadi salah satu minuman paling disukai oleh masyarakat dunia. Di Indonesia, minuman kopi tidak saja menjadi sajian yang melengkapi sarapan pagi. Sajian kopi menjadi jualan yang menjanjikan di banyak tempat. Mulai kedai-kedai dan warung kaki lima sampai restoran-restoran ternama. Terlebih di tempat yang memang berlabel warung kopi (warkop) atau coffe shop. Kopi menjadi trend sebagai lambang pergaulan. Namun, tidak banyak yang tahu, termasuk para penggemarnya, bahwa tanggal 1 Oktober adalah Hari Kopi Sedunia. Pertamakali dirayakan pada acara Milan Expo 2015 yang digelar International Coffe Organization atau ICO di Milan, Italia pada 1 Oktober 2015. Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor kopi menetapkan tanggal 1 Maret sebagai Hari Kopi Nasional. Meski kopi bukan tanaman asli Indonesia, kondisi tanah di negeri kita menjadikan tanaman yang berasal dari benua Afrika itu tumbuh subur dan menghasilkan biji kopi berkualitas. Tidak ada catatan atau dokumen resmi kapan pertama kali manusia mengenal kopi. Satu-satunya catatan yang disepakati mengenai sejarah awal kopi, adalah legenda seorang penggembala kambing di Ethopia, Afrika Timur bernama Kaldi. Dikutip dari republika.co.id (1/10/2021)), menurut lagenda pada sekira abad ke-8 penggembala bernama Kaldi yang berasal dari Abbaiyah, Ethiopia heran melihat tingkah laku kambingnya yang energik setiap digembalakan. Kaldi pun mencari tahu penyebabnya. Apa yang telah dimakan kambingnya menjadi energik. Kaldi menemukan semacam buah ceri berwarna merah. Karena keingintahuan Kaldi mengenai buah itu, ia mencoba memakannya. Ia merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaldi pun membawa pulang buah aneh itu dan diperkenalkan kepada warga di tempat tinggalnya. Kisah kemudian berlanjut, dalam sebuah literasi menyebutkan pada abad ke-10 buah kopi sudah dimasukan kelompok makanan oleh beberapa suku di Ethopia, namun belum dinikmati seperti sekarang. Tapi, kisah Kaldi dan kambing-kambingnya dipercaya sebagai awal penemuan pertama biji kopi. Sejarah kopi di nusantara berawal pada 1696, ketika Belanda datang membawa benih kopi Arabua untuk ditanam di Pulau Jawa. Mereka berupaya membudidayakan benih tanaman itu di daerah Kedawung, perkebunan dekat Batavia. Melansir Kompas.com (13/8/2020), di Indonesia ada empat jenis tanaman kopi, yakni arabika, robusta, liberika, dan excelsa, sebagaimana dijelaskan Farhondu, seorang barista yang telah bertahan-tahun menggeluti dunia. Arabika, sebagai jenis kopi yang paling ringkih dan susah dibudidayakan. Sebab membutuhkan ketinggian tertentu untuk dapat tumbuh dan berbuah. Kopi arabika memiliki rasa yang cenderung asam buah-buatan dan rasa sedikit pahit. Kafein dalam kopi arabika cenderung lebuh rendah dibanding kopi jenis lain. Robusta, memiliki bentuk biji yang kecil dsn bulat. Penanamannya tidak begitu sulit karena tidak perlu lokasi yang terlalu tinggi. Waktu panen robusta pun lebih cepat ketimbang arabika. Sedangkan rasa kopi robusta cenderung rubbery, pahit serasa  seperti gandum. Farhondu mengungkapkan, setelah meminum kopi robusta, akan terasa kering di mulut. Kadar gula dalam kopi robusta nyaris tidak ada, sehingga kombinasi seduhan kopi robusta sangat cocok dinikmati dengan gula tambahan. Di Indonesia, terkenal robusta Lampung dan robusta Temanggung. Liberika, memiliki cita rasa yang mirip robusta, namun aromanya cenderung smokey atau berbau asap. Farhondu menyebut rasa kopi jenis liberika terkadang seperti tembakau. Kasar kafein dalam kopi liberika cenderung rendah, berbanding terbalik dengan robusta yang memiliki kadar kafein tinggi. Excelsa adalah jenis kopi yang sulit ditemukan di Indonesia. Rasa kopi excelsa masam layaknya buah masam. Meski mirip dengan arabika, kopi excelsa memiliki daya tarik karena memiliki rasa gurih saat diminum. Delapan provinsi di Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi terbaik yang terkenal hingga mancanegara. Yaitu Aceh (kopi Gayo), Sulawesi Selatan (kopi Toraja), Bali (kopi Kintamani), dan Lampung (kopi Lampung). Selain itu, Sumatera Selatan (kopi Gerudag), Sumatera Utara (kopi arabika Mandailing), Jawa Timur, dan Bengkulu (kopi Bengkulu). Sulawesi Barat juga penghasil kopi. Sejak lama dikenal kopi Mamasa, dan beberapa tahun belakangan ada kopi Kurra (Polewali Mandar). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi kopi di Indonesia mencapai 774,6 ribu ton pada 2021 yang lalu. Jumlah produksi tersebut, naik 2,75 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 753,9 ribu ton. Untuk para penggemar kopi, Selamat Hari Kopi Sedunia. (emdanial)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman