Kisah Sedih Wanita di Binuang Polman, Kehilangan Suami dalam Tragedi Kapal Tenggelam
Foto : Triana bersama kedua anaknya warga Desa Rea Timur, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman.

Kisah Sedih Wanita di Binuang Polman, Kehilangan Suami dalam Tragedi Kapal Tenggelam

Di beranda rumah sederhananya yang menghadap langsung ke laut, seorang wanita tampak duduk termenung. Angin sepoi-sepoi yang berhembus dari pesisir tak mampu mengusir kesedihan yang membekap hatinya.

Tatapannya kosong, seolah menyimpan rindu dan luka yang tak sanggup lagi diucapkan dengan kata-kata.

Wanita itu bernama Triana, warga Dusun Bajoe, Desa Rea Timur, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Sudah lebih dari setahun, wanita berusia 39 tahun itu memendam kerinduan mendalam kepada sang suami tercinta, Muh Safri Pammu (40), yang dilaporkan hilang dalam tragedi tenggelamnya kapal LCT SJP 168 di perairan Batang Dua, Maluku Utara, pada 13 Maret 2025 lalu.

Safri, yang bekerja sebagai juru masak di kapal tersebut, dinyatakan hilang bersama tiga rekannya. Sementara empat awak kapal lainnya berhasil selamat setelah ditemukan oleh kapal nelayan sehari setelah kejadian.

Menurut Triana, operasi pencarian korban telah dilakukan Tim Sar Gabungan. Selain menyisir permukaan laut, Tim Sar juga melakukan penyelaman di sekitar lokasi kapal yang tenggelam akibat dihantam ombak.

Namun, hingga operasi Sar dinyatakan ditutup, takdir berkata lain. Sapri Mammu dan 3 rekannya tak kunjung ditemukan sampai sekarang ini.

Kabar Duka Itu Datang Melalui Sambungan Telepon

Tragedi kecelakaan laut ini diketahui Triana setelah menerima kabar dari sang Bos pemilik kapal tempat suaminya bekerja. Dia menyampaikan, kapal yang ditumpangi Safri Pammu mengalami insiden.

Sejak kabar duka itu datang, hari-hari Triana seakan berhenti berjalan. Harapan demi harapan terus ia gantungkan dalam doa, berharap sang suami ditemukan dalam kondisi selamat.

Triana seolah tidak percaya dengan kabar tersebut. Apalagi sebelum kejadian, dia bersama kedua anaknya masih sempat berkomunikasi dengan korban melalui sambungan video call whatsapp.

“Setengah jam sebelum kejadian kami masih sempat video call. Dia bilang cuaca sedang buruk, tapi tidak ada firasat apa-apa,” tutur Triana lirih.

Video call yang berlangsung hampir dua jam itu ternyata menjadi percakapan terakhir mereka.

Tak ada pesan khusus yang disampaikan Safri malam itu. Ia hanya berpesan kepada kedua anak mereka, Safira (14) dan Muhammad Al Fatih (5), agar rajin salat, mengaji, dan belajar.

“Dia cuma titip pesan supaya anak-anak rajin salat, mengaji, dan belajar,” kenang Triana dengan mata berkaca-kaca.

Meski waktu telah berlalu lebih dari setahun, luka kehilangan itu masih terasa begitu nyata. Terlebih bagi si bungsu, Al Fatih, yang hingga kini masih setia menunggu kepulangan sang ayah.

Anak kecil itu itu kerap menangis ketika rindu menyeruak. Bahkan setiap ada suara ketukan di pintu rumah, ia selalu berharap ayahnya yang pulang.

“Masih selalu menunggu bapaknya, sering bertanya, jadi saya bilang (ayah) masih pergi kerja.

Sering menangis kalau ingat (ayahnya). Biasa kalau ada yang ketuk-ketuk pintu dia pikir ayahnya yang datang,” tutur Triana.

Demi menjaga hati anaknya, Triana terpaksa menyimpan luka seorang diri. Ia bahkan harus berbohong ketika Al Fatih ketika meminta menelepon ayahnya.

“Saya bilang bapaknya masih kerja di kapal dan tidak ada sinyal,” ucapnya sambil menahan tangis.

Berjuang Demi Kedua Anaknya

Di tengah duka yang belum usai, Triana kini harus memikul peran sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Santunan sebesar Rp20 juta yang diterima dari perusahaan tempat suaminya bekerja telah lama habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Dana itulah yang dipakai untuk biaya hidup selama beberapa bulan,” ucap Triana.

Triana mengaku sempat merasa bingung dan putus asa. Apalagi, sosok Sapri Pammu merupakan tempat Triana bersama kedua anaknya menggantungkan hidup.

Kini Triana bekerja sebagai juru masak di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Binuang. Dengan penghasilan pas-pasan, Triana berjuang memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan kedua anaknya.

Meski hidup terasa berat, Triana berusaha tetap tegar. Ia bersyukur putri sulungnya masuk dalam calon penerima Program Indonesia Pintar (PIP), dan dirinya masih mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

Namun di balik segala perjuangan itu, satu harapan masih terus tersimpan dalam setiap doa, semoga suatu hari nanti sang suami kembali pulang.

“Waktu itu dia sebenarnya sudah mau cepat pulang kampung setelah kapal sandar. Tapi Tuhan berkehendak lain,” tutupnya penuh haru. (thaya)

__Terbit pada
17/05/2026
__Kategori
Sosial