
Kisah Mantan Penarik Becak Jadi Juragan Kerupuk Omset Jutaan di Polman
POLEWALI MANDAR,- Pria bernama Supardi (43) sukses menjadi pengusaha kerupuk dengan omset jutaan rupiah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Siapa menduga, Supardi merupakan mantan pengayuh becak yang berhasil merubah hidupnya berbekal tekad dan keyakinan.
“Hampir semua pekerjaan pernah saya jalani, pengayuh becak, buruh kasar, tukang tanam padi, semuanya yang penting halal,” kata Supardi saat dijumpai wartawan di rumahnya, Kamis (14/05/2026).
Supardi merupakan warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Wonomulyo. Usaha kerupuk ini dirintis bersama sang istri tercinta bernama Wiwin Ekawati (33) sejak tahun 2011.
“Awalnya istri yang ikut ke orang, bantu jualan sambil belajar (buat kerupuk). Sekitar satu tahunan ikut kerja, terus beranikan diri buka usaha sendiri,” ungkapnya.
Bisnis kerupuk ini dijalankan Supardi dari rumahnya. Awalnya dia hanya mampu memproduksi 2 sampai 3 kilo kerupuk dalam sehari mengandalkan modal hasil tabungan.
Seiring berjalannya waktu, produksi kerupuk Supardi terus bertambah hingga mencapai 50 kilogram sehari. Dia juga telah memiliki 15 karyawan untuk membantu proses produksi.
“Inilah yang berkembang sampai sekarang. Awalnya hanya produksi kecil-kecilan 2 sampai 3 kilo, sekarang produksi bisa sampai 50 kilo sehari,” ujarnya.
Meski telah memiliki karyawan, Supardi beserta istri dan anaknya tidak segan turun tangan untuk membantu para karyawan mempercepat proses produksi. Termasuk melakukan proses penggorengan serta mengemas kerupuk yang sudah siap di pasarkan.
Saat ini, Supardi telah memproduksi 15 jenis kerupuk. Beberapa jenis kerupuk masih didatangkan dari luar daerah dalam bentuk setengah jadi.
Supardi menuturkan, pemasaran kerupuk buatannya dimulai dini hari, sekira pukul 02.00 Wita. Kerupuk dititipkan kepada sejumlah langganan termasuk para pedagang keliling yang telah berkumpul di pasar sejak subuh.
“Jam dua malam sudah dibawa ke pasar, banyak pedagang keliling yang menunggu. Kita juga rencana mau titipkan di warung, kios, banyak juga teman yang berminat, Alhamdulillah,” terang ayah tiga anak itu.
Dia mengungkapkan, kerupuk buatannya diecer dengan harga bervariasi. Dari seribu hingga lima ribu rupiah tergantung ukuran. Diakui, omset yang diperoleh dari hasil berjualan kerupuk mencapai jutaan rupiah sebulan.
“Kalau beberapa bulan lalu omset tidak lari dari 7 sampai 8 juta bersih. Sekarang lagi terdampak harga minyak dan plastik kemasan yang semakin mahal, dapatnya paling sampai 5 juta bersih,” tandas Supardi.
Diakui, bisnis kerupuknya ini tidak serta merta besar seperti sekarang ini. Sejumlah tantangan menjadi pelecut semangat baginya untuk terus bertahan melewati cobaan.
“Tantangan pertama itu minim modal, terus pembeli minim karena kita belum dikenal, kadang barang gak habis,” pungkasnya meyakinkan.
Dia berharap perhatian dan dukungan dari pemerintah, agar bisnis kerupuknya yang diberi nama ‘Krupuk RAPAZUL Berkah Mandiri’ semakin maju dan berkembang. (thaya)







