Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Ratusan Guru di Mamasa Mogok Mengajar Tuntut Tunjangan Sertifikasi dan Tamsil

Penulis / Redaksi: admin
Selasa, 16 Januari 2024 14:03 WITA 1,761 tayangan 3 menit baca
Ratusan Guru di Mamasa Mogok Mengajar Tuntut Tunjangan Sertifikasi dan Tamsil
Foto ilustrasi / Dokumentasi Pendidikan - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
MAMASA,- Ratusan guru di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menggelar aksi mogok mengajar. Mereka kesal lantaran pemerintah belum melunasi tunjangan sertifikasi dan tamsil (tambahan penghasilan) pada tahun 2023. Seperti yang terpantau di SMPN 1 Mamasa, Jalan Pendidikan, Lingkungan Tatoa, Kecamatan Mamasa, Selasa (16/01).  Tampak tidak ada murid datang ke sekolah ini, selain beberapa guru yang membuat spanduk bertuliskan ‘Mogok Mengajar Sampai Hak Guru di Bayar ‘ dan ‘Forum Guru Bersatu, Bayarkan Sertifikasi dan Tamsil Tahun 2023’. Kedua spanduk tuntutan tersebut lalu dibentangkan di tembok depan sekolah. “Ini peyebabnya sudah lama berlarut-larut dari tahun 2022 bermasalah ke tahun 2023 sampai ke tahun 2024,” kata salah satu guru, Jemi kepada wartawan, Selasa (16/01/2024). “Ini hak kami, tunjangan profesi, tamsil dan segala hak yang harus dibayarkan karena kami sangat butuh untuk menyekolahkan anak kami, kuliah, itu digeser-geser atau tidak diberikan dengan baik sesuai aturan,” sambungnya. Diketahui, ada sebanyak 700 guru di daerah ini yang belum menerima tunjangan sertifikasi dan tamsil pada triwulan empat tahun 2023. Mereka yang melakukan aksi mogok terdiri dari guru SD dan SMP. Diakui Jemi, berbagai macam upaya telah dilakukan para guru di daerah ini untuk memperjuangkan haknya yang kerap ditunda. Namun upaya tersebut selalu menemui jalan buntu. “Kami sudah berbuat dari awal secara persuasif, berdiskusi dengan oknum pejabat itu, tolong kami dibayarkan tepat waktu, tapi ternyata tidak bisa secara persuasif. Kami melapor, kami demonstrasi, kami melapor ke polisi, melapor kejaksaan, sampai saat ini tidak ada bukti realisasi,” ujarnya kesal. Dia mengaku aksi mogok yang mereka lakukan adalah jalan terakhir dengan harapan tuntutannya segera dipenuhi. “Kami sebenarnya tidak ingin mogok, tapi ini sudah jalan terakhir. Kami harus mogok, bukan untuk mengorbankan anak-anak, tetapi untuk mendapat perhatian,” jelas Jemi. Jemi menyebut aksi mogok mengajar direncanakan berlangsung hingga Sabtu (20/1). Jika seluruh tuntutan tidak dipenuhi pemerintah, aksi mogok akan terus berlanjut hingga pekan mendatang. “Kami tidak ada tawar menawar, harga mati tuntutan kami. Kami akan evaluasi saja dihari Sabtu, kalau dihari Sabtu masih kami punya tuntutan tidak dipenuhi kami lanjut pada minggu berikutnya. Ini satu minggu kita (mogok mengajar). Jangan salahkan kami jika panjang perjalanan mogok ini,” tandasnya. Guru lain bernama Rima menegaskan jika aksi mogok ini akan terus dilakukan, meski pemerintah telah mencairkan tunjangan sertifikasi mereka selama satu bulan pada triwulan keempat. “Kami sama sekali tidak pernah membangun komitmen dengan Pemda kami terima satu bulan. Yang kami tuntut itu hari triwulan empat dan triwulan tiga. Triwulan tiga itu sudah ada, artinya sudah selesai, murni tuntutan ini adalah triwulan empat tiga bulan, triwulan empat harus dituntaskan sesuai apa yang telah disepakati,” terangnya. Menanggapi aksi mogok mengajar ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa, Rusli meminta para guru memahami kondisi keuangan di Kabupaten Mamasa yang menurutnya alami defisit. “Diharapkan para guru bisa memahami, karena kondisi Mamasa defisit, beda kabupaten lain, banyak yang dibiayai, kita terbatas,” jelasnya terpisah. Rusli menyebut telah ada kesepakatan antara pihak pemerintah dengan guru sertifikasi yang melakukan aksi mogok mengajar. “Menyangkut hak-haknya, sejak tadi sudah masuk semua ke rekening tunggakan triwulan ketiga, kemudian untuk triwulan keempat sudah ada kesepakatan dengan pak Sekda, sudah ada schedule mekanisme pembayarannya,” tuturnya. Rusli berharap aksi mogok mengajar para guru di daerah ini segera diakhiri. Dia juga meminta para guru yang tidak termasuk penerima sertifikasi, agar tetap melangsungkan proses belajar mengajar seperti sedia kala. “Kita harapkan besok tidak ada lagi aksi mogok, kasihan anak-anak kita korbankan. Walaupun misalnya guru-guru sertifikasi kalau tidak mengajar apa boleh buat kalau tidak mau, tapi kalau guru-guru yang tidak sertifikasi, baik PPPK maupun honorer diharap tetap masuk,” pungkasnya. (thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman