Kamis, 31 Januari 2019 18:31 WITA
2,370 tayangan
4 menit baca
TINAMBUNG ,- Berbagai cara dilakukan warga di Polewali Mandar, untuk bertahan hidup. Mengambil resiko menempuh bahaya tidak jarang menjadi pilihan asal dapur dapat terus mengepul.
Seperti yang dilakukan sejumlah wanita asal Desa Tangnga-Tangnga, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, yang sehari-hari bekerja sebagai penambang air, yang oleh warga setempat disebut dengan istilah
pa’ala wai sau’.

Setiap hari, para wanita yang umumnya sudah berkeluarga ini, menyusuri Sungai Mandar yang kerap tidak bersahabat, menuju hulu mencari sumber air bersih.
Asyiri (39 tahun) salah satunya. Jauh sebelum matahari memancarkan sinarnya, bersama wanita lain di daerah asalnya Asri sapaannya, telah meninggalkan rumah sambil memikul ratusan jerigen kosong.
Berjalan kaki menyusuri sungai hingga sekurangya sejauh 3 kilometer dari tempat tinggalnya, adalah rutinitas wajib dilakukan ibu tiga anak ini, demi menopang ekonomi keluarga.

Mereka harus bergerak lebih pagi dan jauh ke hulu sungai , agar kualitas air yang ditambang lebih bersih, tidak terkontaminasi oleh limbah manusia yang juga banyak melakukan aktifitas pagi di sungai ini, seperti mandi, mencuci hingga kakus.
Sesampainya di lokasi tujuan, Asri langsung membuat sumur kecil sedalam 50 centimeter yang disisinya telah dilapisi tong plastik yang bagian bawahnya telah diberi lubang , bertujuan agar reruntuhan pasir tidak menutup kembali galian tersebut.

Tidak lupa, bagian dasar galian menyerupai sumur tersebut diberi lapisan berupa jaring dan kain tipis, agar air yang keluar dari sumur lebih jenih dan bersih saat ditimba untuk dimasukkan ke dalam jerigen yang telah mereka siapkan.
“ sudah lumayan lama pak saya kerja begini, mungkin sudah lebih dari 10 tahun, bahkan ada yang sudah puluhan tahun “ ujar Asyiri.
Saat kondisi air sungai meninggi, Asyiri harus mengambil resiko, tetap bertahan di sungai untuk menambang air yang nantinya akan dijual kepada warga di daerah ini “ mau bagaimana lagi, itu sudah resiko, walau kadang saat menambang air seperti ini , sungai tiba-tiba meluap, syukur karena kami semua masih bisa selamat ‘ ungkap wanita tiga anak ini.

Aktifitas menambang air ini diakhiri saat matahari sudah meninggi. Setelah perlengkapan menambang dirapikan, satu demi satu jerigen berisi air diikatkan satu dengan yang lainnya, untuk dibawa pulang.
Untuk membawa ratusan jerigen berisi air ini, bukan persoalan yang sulit, tetapi butuh keberanian. Berbekal sebuah ban bekas dilingkarkan di perut yang berfungsi sebagai pelampung , Asyiri menarik ratusan jerigen ini mengikuti aliran sungai, kemudian menghanyutkan diri hingga tiba di daerah asal.
Tidak jarang Asyiri terbawa arus sungai yang tiba-tiba meluap, meski berhasil selamat, kejadian tersebut tentu membuatnya harus merugi karena kehilangan ratusan jerigen berisi air yang telah ditambangnya dengan susah payah akibat terbawa arus “ saya pernah terbawa arus sungai hingga nyaris sampai dilaut, saya tidak bisa lagi berbuat apa-apa karena air sungai tiba-tiba meluap, hampir tak satupun jerigen air yang bisa diselamatkan karena semuanya bergerak cepat dan hilang “ kenang Asyiri.

Walau sudah sering kali pekerjaan sebagai penambang air ini nyaris merenggut nyawanya, Asyiri dan wanita lain yang berprofesi sama di daerah ini mengaku tidak jera, karena ini merupakan satu-satunya pekerjaan yang dapat mereka lakukan untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

Biasanya satu jerigen air ukuran lima liter, dihargai 500 rupiah. Semakin jauh jarak mereka menjajakan air bersih ini, semakin tingga pula harga yang ditawarkan kepada warga. Setidaknya dalam sehari, setiap penambang air di daerah ini mampu mengantongi uang 50 hingga 70 ribu rupiah, “ lumayanlah hasilnya, bisa buat beli ikan dan jajan anak, apalagi pekerjaan suami sebagai nelayan tidak selalu pulang membawa ikan hasil tangkapan di laut “ ungkap Asyiri sembari tertawa.

Untuk menjajakan air bersih ini, Asyiri dan wanita lainnya biasanya menggunakan gerobak yang di dorong sambil berkeliling kampung. Biasanya mereka sudah memiliki langganan tersendiri . Tidak jarang, jerigen di simpan di depan rumah, menunggu warga yang datang sendiri untuk membeli.

Persoalan air bersih, merupakan salah satu masalah yang dirasakan hampir semua warga di daerah ini. Keberadaan penambang air mempunyai peran penting dalam kehidupan warga setempat, untuk mengatasi masalah ketersediaan air bersih yang sudah lama dialami warga di daerah ini. (Thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
