Minggu, 8 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Kisah Penderita Tuna Netra di  Campalagian, Berjuang Hidupi Keluarga dari Hasil Memijat

Penulis / Redaksi: admin
Jumat, 19 Juli 2019 09:17 WITA 899 tayangan 2 menit baca
Kisah Penderita Tuna Netra di  Campalagian, Berjuang Hidupi Keluarga dari Hasil Memijat
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
CAMPALAGIAN,- Kisah hidup ini dijalani Irfan (46 tahun), Warga Dusun 5, Desa Bonde, Kecamatan Campalagian , Kabupaten Polewali Mandar. Dengan kondisi kedua mata yang tidak dapat melihat, Irfan harus berjuang menghidupi sang istri Masrida (26 tahun), serta kedua buah hatinya Masrullah (7 tahun) dan Nahda Alsida (1 tahun). Sehari-hari, Irfan yang beprofesi sebagai tukang pijat panggilan ini, tinggal di gubuk reot berukuran 2 x 4 meter yang dibangun secara swadaya oleh warga setempat.  Gubuk yang berada di tengah areal perkebunan yang jauh dari pemukiman warga ini, tidak memiliki sambungan listrik. “ Sebenarnya pihak keluarga pernah menawarkan untuk tinggal bersama mereka, namun saya tolak karena ingin hidup mandiri bersama istri dan anak “ kata Irfan kepada wartawan yang berkunjung ke rumahnya beberpa waktu lalu. Selain menjadi hunian bagi keluarga kecilnya, gubuk tersebut kerap dimanfaatkan Irfan sebagai tempat melayani warga yang ingin memanfaatkan jasanya sebagai tukang pijat.  Upahnya tidak seberapa, bahkan tidak jarang Irfan hanya diberi ucapan terima kasih dari warga yang memanfaatkan jasanya. “ Seikhlasnya saja pak, kadang diberi 20 ribu sampai 50 ribu, kadang juga hanya diberi ucapan terima kasih “ cerita Irfan sembari tertawa. Irfan juga mengaku, tidak jarang dirinya harus meninggalkan istri dan kedua buah hati yang dicintainya lantaran dijemput warga yang ingin dipijat “ Biasanya dibawa ke daerah Mamuju, menginap disana untuk memijat setelah itu diantar kembali ke sini “ katanya. Kendati pendapatan yang diperoleh dari hasil memijat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Irfan mengaku  tetap bersyukur karena Tuhan masih senantiasa memberi kesehatan baginya untuk terus berusaha, “ Alhamdulillah pak, walau penghasilan tidak pernah cukup apalagi pekerjaan sebagai tukang pijit juga tidak rutin dilakukan tiap hari, selalu saja ada jalan setiap kali saya merasa ada kesulitan, biasanya ada warga berkunjung dan memberi sedikit bantuan, termasuk bantuan beras raskin dari pemerintah desa  “ ungkapnya haru. Untuk membantu menopang ekonomi keluarga, sang istri mengaku pernah bekerja sebagai penenun kain sarung. Untuk satu sarung yang ditenun selama seminggu, dijual seharga 80 hingga 100 ribu rupiah.” Namun sejak beberapa tahun terakhir, pekerjaan itu tidak saya lakukan lagi lantaran harus mengurusi anak “  kenang Marsida. Kebuataan pada kedua mata Ifran diakui telah terjadi saat usianya baru 6 tahun. Berawal dari penyakit cacar yang dideritanya dan tak kunjung terobati. Walau sempat merasakan kesedihan, Irfan mengaku tidak ingin larut, hingga ketika usianya memasuki 20 tahun, tidak jarang ada warga yang memintanya untuk memijat yang menjadi profesinya sampai saat ini. Semangat Irfan untuk terus bekerja menjalani hidup kian menggelora usai menikah dan dikaruniai dua orang anak. (Thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman