Senin, 3 Juni 2019 18:56 WITA
4,871 tayangan
3 menit baca
TAPANGO,- Hidup dan tinggal di daerah yang kaya akan sumber daya alam, bukan jaminan memberikan kemakmuran bagi warganya. Sebaliknya, tidak sedikit warga yang harus hidup dalam kemiskinan di tengah sumber daya yang belum bisa memberi kesejahteraan.
Seperti yang dialami pasangan suami istri Baso (60 Tahun) dan Miradi (50 Tahun), warga Dusun 1 Tammalandre, Desa Riso, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar.
Sudah belasan tahun lamanya pasutri yang tidak memiliki anak ini harus hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat belitan kemiskinan. Selama bulan suci Ramadhan, keduanya hanya mampu mengkomsumsi nasi sayur dan garam, lantaran ketiadaan uang untuk membeli kebutuhan pokok lainnya.
“ Mau bagaimana lagi, uangnya cuman bisa untuk beras dan garam itupun kadang tidak cukup, sedangkan sayur mayur terkadang diberi orang “ kata Miradi kepada wartawan yang berkunjung di rumahnya, Senin (03/06/19).

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Miradi mengaku hanya mengandalkan penghasilan sang suami yang berprofesi sebagai buruh kebun serta pengumpul sisa buah kakao yang rusak dimakan tikus.
“ Uang yang terkumpul dari hasil bekerja sebagai buruh kebun biasanya hanya 100 ribu perbulan, begitupula dari hasil mengumpulkan buah kakao sisa makanan tikus, hanya dapat 5 kilo perbulan, yang dijual seharga 20 ribu rupiah perkilonya “ ungkap Miradi dengan sedikit menghela nafas.
Kendati pemerintah desa setempat rutin memberi mereka jatah beras miskin, namun lantaran jumlahnya yang terbatas, membuat pasutri miskin ini masih kerap harus berutang kepada para tetangga, asalkan bisa membeli sedikit beras untuk menyambung hidup.

Sehari-hari keduanya tinggal pada sebuah rumah semi permanen tanpa listrik, berukuran 4 kali 6 meter. Rumah yang dibangun oleh para kerabat. Rumah ini beratap daun rumbia yang sudah lapuk dengan sebahagian dinding menggunakan batu bata dan papan serta lainnya masih dibiarkan bolong.
Diakui, kondisi tersebut acap kali membuat keduanya harus tidur dengan basah kuyup akibat rembesan air hujan, khususnya di malam hari. “ Sebenarnya mau diperbaiki, tapi mau bagaimana uangnya belum ada, syukur Alhamdulillah karena masih ada tempat untuk bernaung, dinikmati saja lagipula kami berdua sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini “ lanjut Miradi dengan sedikit tersenyum.
Berdasarkan pantauan wartawan, bagian dalam rumah semi permanen pasutri miskin ini diberi sedikit sekat sebagai pembatas ruangan. Ruangan bagian depan berfungsi sebagai kamar yang dilengkapi sebuah bale-bale sebagai tempat tidur, sedangkan bagian belakang difungsikan sebagai dapur.

Di dalam rumah tak satupun terlihat harta benda atau barang yang bernilai ekonimi, hanya ada beberapa pakaian usang yang dibiarkan menumpuk lantaran ketiadaan lemari, serta sedikit buah kakao sisa makanan tikus yang belum sempat dijual.

Lantaran rumah pasutri miskin ini berada di tengah areal perkebunan warga, yang berjarak sekitar 200 meter dari jalan kampung, tidak mengherankan jika keduanya seakan luput dari perhatian.
Keberadaan keduanya mendadak viral setelah diposting pada media sosial oleh salah seorang warga. (Thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
