Enam Kecamatan Terdampak Banjir di Polman, Lalin di Trans Sulawesi Masih Tersendat
Penulis / Redaksi:
admin
Jumat, 5 Mei 2023 13:21 WITA
451 tayangan
2 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Enam kecamatan terdampak banjir akibat curah hujan tinggi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Selain merendam pemukiman, sampai saat ini banjir masih menggenangi jalan Trans Sulawesi hingga membuat arus lalu lintas (lalin) tersendat.
Pantauan wartawan sekira pukul 10:30 WITA, Jumat (5/5), banjir yang merendam jalan Trans Sulawesi berada di Desa Tonrolima, Kecamatan Matakali. Banyaknya pengendara yang memilih berhenti di sisi jalan sempat menimbulkan kemacetan arus lalu lintas.
Sejumlah kendaraan juga tampak mati mesin saat berupaya menerobos jalan sepanjang 100 meter, yang terendam banjir dengan ketinggian mencapai 30 centimeter.
“Yang terdampak ada enam kecamatan, sementara masih terendam satu di wilayah Matakali,” kata Kepala BPBD Polman, Andi Affandi kepada wartawan melalui pesan singkat, Jumat (05/05/2023).
Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Polewali Mandar, akibat curah hujan tinggi yang terjadi Kamis sore (04/05) kemarin. Enam wilayah terdampak, diantaranya Kecamatan Binuang, Polewali, Matakali, Tapango, Mapilli dan Matangnga.
Andi Affandi belum menyebut jumlah rumah ataupun dampak lain akibat banjir. Diakui, pihaknya masih di lapangan untuk melakukan pendataan.
“Saat ini tim masih di lapangan melakukan assessment termasuk menyisir dan memantau warga yang mau dievakuasi,” ujarnya singkat.
Sementara Camat Matakali Rahmat Razak mengungkapan, ada sedikitnya 200 rumah warga di wilayahnya yang terendam banjir.
“Perkiraan sementara ada dua ratus rumah yang terendam. Tersebar pada lima desa dan satu kelurahan,” ungkap Rahmat di tempat terpisah.
Dia mengatakan, wilayah terdampak banjir paling parah berada di Desa Pasiang dan Desa Tonro Lima. Ketinggian banjir yang merendam kedua desa ini mencapai satu meter.
“Di desa pasiang ada sejumlah rumah warga yang juga sempat terendam lumpur, jumlahnya belasan yang berada di bantaran sungai. Sedangkan di desa Tonro lima hingga saat ini masih terendam banjir,” jelas Rahmat.
Meski ketinggian banjir yang merendam pemukiman warga di Desa Tonro Lima masih mencapai satu meter, Rahmat menyebut jika warga menolak dievakuasi.
“Tadi kami masuk sama basarnas, mereka (warga) tidak mau dievakuasi keluar, katanya masih aman, jadi kami tidak bisa memaksa,” tandasnya.
Lebih lanjut Rahmat mengungkapkan, banjir yang melanda daerah ini tidak hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga karena terjadinya penyempitan dan pendangkalan sungai Matakali.
“Penyebabnya hujan, kedua aliran sungai di Matakali ada penyempitan dan juga pendangkalan. Itu yang terjadi sehingga begini keadaan saat ini (banjir),” tegasnya.
Rahmat mengatakan, juga merendam fasilitas umum seperti gedung sekolah dasar. Sejumlah sawah dan tambak diakui juga ikut terdampak.
“Ada tiga sekolah dasar yang terpaksa diliburkan karena gedungnya terendam banjir, lalu juga beberapa hektar sawah yang terendam termasuk tambak,” tutupnya. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.