Cerita Pria di Alu Berdayakan Warga melalui Tanaman Aren
Penulis / Redaksi:
admin
Minggu, 2 Oktober 2022 08:36 WITA
544 tayangan
3 menit baca
ALU,- Pria bernama Rusni Hasri (55 tahun) warga Desa Mombi, Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, berupaya mendorong peningkatan perekonomian warga, melalui pengembangan tanaman aren yang airnya diolah menjadi gula cair dan gula semut.
Ide mendorong pengembangan tanaman aren berawal dari keprihatinan, melihat banyak warga di kampung halamannya yang terlunta-lunta mencari kerja, hingga harus merantau.
“Awalnya saya prihatin melihat banyak perantau yang dipulangkan karena tidak ada kerjaan jelas, saya sedih melihat mereka pergi mencari sesuap nasi, sedangkan di kampung banyak potensi yang tidak mendapat perhatian,” kata Rusni Hasri, saat dijumpai wartawan di lokasi pameran UMKM kawasan Taman Budaya Buttu Ciping, Selasa (27/9/2022).
Sejak itu, Rusni mengaku mulai mengajak satu persatu warga untuk membudidayakan tanaman aren. Hingga tujuh tahun berjalan, dirinya berhasil menggalang puluhan warga untuk mengembangkan tanaman aren.
“Sudah ada sepuluh kelompok yang terbentuk, masing-masing kelompok anggotanya dua puluh lima orang, semuanya petani aren yang juga saya ajak untuk membuat gula,”terang bapak satu anak ini.
Diauki Rusni, upayanya mengajak warga ikut membudidayakan tanaman aren tidak berjalan mulus. Selain dicemooh, tidak sedikit yang menganggapnya gila. Apalagi, banyak warga yang menganggap tanaman aren tidak bernilai, sehingga tidak layak untuk dikembangkan.
“Sempat (warga) mengatakan saya gila, mereka katanya kasihan mendengar saya bercerita soal aren, yang selama ini dianggap tidak punya nilai,”tuturnya.
Meski begitu, Rusni tidak menyerah. Seiring berjalannya waktu, dirinya sukses menjawab kerahuan warga, yang akhirnya ikut membudidayakan tanaman aren.
“Sekarang warga sudah mulai bersemangat menanam aren, sejak proses budidaya dilakukan secara berkelompok, sudah ada peningkatan sekira 25 hektar lahan untuk aren,”bebernya.
Salah satu cara yang dilakukan Rusni untuk meyakinkan warga bahwa aren memiliki potensi untuk peningkatan ekonomi, dengan memperkenalkan pengolahan air aren menjadi gula cair dan gula semut.
“Idenya itu berawal ketika ibu di rumah kesulitan menghaluskan gula merah batok untuk membuat kue, saya akhirnya terpikir untuk membuat gula cair dan gula semut, kemudian dimasukkan ke dalam wadah,”imbuhnya.
Tanpa diduga, produksi gula cair dan gula semut yang awalnya dibuat untuk kebutuhan sendiri, ternyata mendapat respon setelah diperkenalkan kepada warga, termasuk para pembuat gula batok. Terlebih, gula cair dan gula semut memiliki nilai ekonomis lebih tinggi, dan mendapat permintaan banyak warga dari berbagai daerah.
“Ternyata mendapat respon bagus dari pasar, akhirnya saya mulai dimintai untuk melatih dan memberikan penyuluhan kepada warga, termasuk produksi gula cair dan gula semut,”tandas Rusni.
Diakui Rusni, ilmu budidaya serta mengolah aren menjadi gula cair dan gula semut, awalnya diperoleh secara otodidak. Setelah itu, dirinya kerap mengeluarkan biaya dari kantong sendiri untuk mengikuti sejumlah pelatihan.
Upayanya memperkenalkan tanaman aren yang disebut-sebut sebagai emas hijau, tidak hanya dilakukan di sekitar tempat tinggalnya, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah.
“Bahkan saya pernah naik motor pulang balik hingga Mando selama delapan hari, hanya untuk mengajak para kepala dinas untuk membudidayakan aren, karena tanaman ini memiliki potensi menjadi tanaman konservasi serta peningkatan ekonomi rakyat,”imbuhnya meyakinkan.
Karena tanaman aren terancam habis, lantaran tergantikan tanaman lain yang dianggap lebih produktif, Rusni mengaku, pada setiap kesempatan dirinya aktif membawa bibit tanaman aren. Selain untuk diperkenalkan kepada warga, juga untuk ditanam di lahan milik orang lain.
“Arena kita terancam habis, semakin sedikit setelah ditebang warga untuk digantikan tanaman kakao dan dijadikan pakan kambing, makanya, kemana-mana pasti saya bawa bibit untuk diperkenalkan kepada warga, lalu saya tanam di mana seja meski lahan orang lain, walau pernah ada yang marah, setelah saya jelaskan manfaatnya, akhirnya dipersilahkan,”tutupnya sambil tersenyum. (Thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
