Aktivitas Saada berjualan hanya berlangsung pada hari Selasa dan Jumat, mengikuti jadwal pasar rakyat. Setiap kali berjualan, Saada selalu menggratiskan sedikitnya dua puluh gelas kopi untuk siapa saja, baik yang sudah kerap berkunjung maupun yang baru pertama kali.
“ Biasa setiap jualan, siapkan satu sampai dua termos kopi. Satu termos biasanya berisi 10 gelas kopi, itu semuanya gratis, “ terang Saada.
Kendati segelas kopi di warungnya diberikan cuma-cuma kepada setiap pengunjung, Saada mengaku tidak pernah merasa rugi. Apalagi, sebungkus gogos yang disajikan kepada pengunjung, dijual dengan harga sangat murah, antara seribu hingga dua ribu rupiah per bungkus, tergantung ukuran.
“ Alhamdulillah tidak rugi, biasanya setiap jualan saya siapkan 100 bungkus gogos. Rata-rata setiap jualan buat empet liter gogos, selalu habis, “ tutur Saada meyakinkan.
Warga yang baru pertama kali berkunjung awalnya mengaku tidak percaya, dengan keberadaan warung yang menyiapkan kopi gratis untuk pengunjung.
“ Saya sempat heran dan tidak percaya kalau kopinya digratiskan. Setelah saya hendak membayar, pemilik warung enggan menerima uang, warga sekitar menyampaikan kalau memang kopi di warung ini digratiskan, “ kata salah satu pengunjung Sangnging.
Warga bersyukur, pasalnya di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, masih ada orang yang gemar berbuat baik terhadap sesama, walau hanya dengan berbagi secangkir kopi gratis. (Thaya) Wow, Warung Milik Lansia di Luyo Sajikan Kopi Gratis untuk Pengunjung
Penulis / Redaksi:
admin
Selasa, 7 September 2021 17:07 WITA
602 tayangan
2 menit baca
LUYO,- Jika umumnya warung didirikan untuk menambah pemasukan, lain halnya dengan salah satu warung di pedalaman Kabupaten Polewali Mandar, yang justru menyajikan kopi gratis untuk pengunjungnya.
Pemilik warung adalah wanita berusia lanjut bernama Hj Saada (80 tahun), warga Dusun Karoke, Desa Sabaliwali, Kecamatan Luyo.
Saat wartawan berkunjung, Saada tampak sibuk menyeduh beberapa gelas kopi, untuk disajikan bersama beberapa bungkus gogos, salah satu jenis makanan khas warga di daerah ini. Saada berjualan pada sepetak kios berukuran sekira tiga kali tiga meter, di Kompleks Pasar Rakyat Karoke. Selain gogos, Saada juga berjualan barang pecah belah.
Menurut Saada, usaha warung miliknya telah dirintis sejak tiga puluh tahun lalu. Dia mengaku, sejak saat itu telah menggratiskan segelas kopi untuk setiap pengunjung di warungnya.
“ Sudah lamami, sekira tiga puluh tahunan, semasa muda sudah mulai jualan gogos, “ ujar Saada kepada wartawan, Selasa siang (07/09/2021).
Dia mengaku, menjamu pengunjung dengan segelas kopi, sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan leluhurnya secara turun temurun. Hal tersebut diakui juga menjadi salah satu cara, untuk mempererat tali silaturahmi antar warga.
“ Begini memang orang di sini, kopi tidak dijual, digratiskan, “ ungkap Saada sambil tertawa.
Aktivitas Saada berjualan hanya berlangsung pada hari Selasa dan Jumat, mengikuti jadwal pasar rakyat. Setiap kali berjualan, Saada selalu menggratiskan sedikitnya dua puluh gelas kopi untuk siapa saja, baik yang sudah kerap berkunjung maupun yang baru pertama kali.
“ Biasa setiap jualan, siapkan satu sampai dua termos kopi. Satu termos biasanya berisi 10 gelas kopi, itu semuanya gratis, “ terang Saada.
Kendati segelas kopi di warungnya diberikan cuma-cuma kepada setiap pengunjung, Saada mengaku tidak pernah merasa rugi. Apalagi, sebungkus gogos yang disajikan kepada pengunjung, dijual dengan harga sangat murah, antara seribu hingga dua ribu rupiah per bungkus, tergantung ukuran.
“ Alhamdulillah tidak rugi, biasanya setiap jualan saya siapkan 100 bungkus gogos. Rata-rata setiap jualan buat empet liter gogos, selalu habis, “ tutur Saada meyakinkan.
Warga yang baru pertama kali berkunjung awalnya mengaku tidak percaya, dengan keberadaan warung yang menyiapkan kopi gratis untuk pengunjung.
“ Saya sempat heran dan tidak percaya kalau kopinya digratiskan. Setelah saya hendak membayar, pemilik warung enggan menerima uang, warga sekitar menyampaikan kalau memang kopi di warung ini digratiskan, “ kata salah satu pengunjung Sangnging.
Warga bersyukur, pasalnya di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, masih ada orang yang gemar berbuat baik terhadap sesama, walau hanya dengan berbagi secangkir kopi gratis. (Thaya)
Aktivitas Saada berjualan hanya berlangsung pada hari Selasa dan Jumat, mengikuti jadwal pasar rakyat. Setiap kali berjualan, Saada selalu menggratiskan sedikitnya dua puluh gelas kopi untuk siapa saja, baik yang sudah kerap berkunjung maupun yang baru pertama kali.
“ Biasa setiap jualan, siapkan satu sampai dua termos kopi. Satu termos biasanya berisi 10 gelas kopi, itu semuanya gratis, “ terang Saada.
Kendati segelas kopi di warungnya diberikan cuma-cuma kepada setiap pengunjung, Saada mengaku tidak pernah merasa rugi. Apalagi, sebungkus gogos yang disajikan kepada pengunjung, dijual dengan harga sangat murah, antara seribu hingga dua ribu rupiah per bungkus, tergantung ukuran.
“ Alhamdulillah tidak rugi, biasanya setiap jualan saya siapkan 100 bungkus gogos. Rata-rata setiap jualan buat empet liter gogos, selalu habis, “ tutur Saada meyakinkan.
Warga yang baru pertama kali berkunjung awalnya mengaku tidak percaya, dengan keberadaan warung yang menyiapkan kopi gratis untuk pengunjung.
“ Saya sempat heran dan tidak percaya kalau kopinya digratiskan. Setelah saya hendak membayar, pemilik warung enggan menerima uang, warga sekitar menyampaikan kalau memang kopi di warung ini digratiskan, “ kata salah satu pengunjung Sangnging.
Warga bersyukur, pasalnya di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, masih ada orang yang gemar berbuat baik terhadap sesama, walau hanya dengan berbagi secangkir kopi gratis. (Thaya) admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
