Warga Laliko Polman Gelar Pesta Nelayan Wujud Syukur pada Tuhan
Penulis / Redaksi:
admin
Minggu, 7 Desember 2025 17:12 WITA
283 tayangan
2 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Warga pesisir menggelar pesta nelayan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Kegiatan ini digelar sebagai salah satu wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rezeki dan memberi keselamatan
Pesta nelayan ini berlangsung di Dusun Gonda, Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Minggu pagi (07/12). Merupakan tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun temurun.
“Masyarakat pesisir berkumpul untuk menggelar rangkaian kegiatan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki laut, keselamatan selama melaut, serta kebersamaan antar warga yang terus terjaga,” kata tokoh pemuda laliko, Ashari Sarmedi kepada wartawan, Minggu (07/12/2025).
Lebih lanjut Ashari mengungkap pesta nelayan ditandai dengan acara doa bersama dipimpin tokoh masyarakat. Setelah itu, warga bersama-sama menikamati hidangan makanan yang telah mereka siapkan dari rumah rumah masing-masing.
“Acara ini dimulai dengan doa bersama yang dipimpin para tetua kampung, memohon keberkahan dan perlindungan untuk tahun yang akan datang. Nelayan, keluarga, serta seluruh masyarakat duduk bersilah dalam suasana penuh khidmat, menyatukan harapan agar laut tetap menjadi sumber penghidupan yang aman dan melimpah,” terangnya.
“Setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama. Semua masyarakat bawa makanan dari rumah masing-masing, berdoa bersama lalu makan bersama,” sambungnya.
Menurut Ashari, pesta nelayan ini bukan sekedar tradisi yang digelar setiap tahun. Namun juga momentum untuk memperkuat ikatan sosial, memperkenalkan nilai-nilai adat kepada generasi muda, serta mengingatkan semua orang bahwa menjaga laut berarti menjaga masa depan.
“Masyarakat setiap tahun merayakan tradisi ini sebagai wujud terima kasih kepada Allah atas rezeki dan keselamatan yang selalu mengiringi langkah mereka sebagai penjaga laut,” jelasnya.
Ashari mengatakan, pesta nelayan yang oleh warga setempat kenal dengan nama Marroma Sasi ini digelar setiap bulan Desember. Awalnya direncanakan dengan acara arak-arakan perahu nelayan, namun tidak dapat dilakukan karena kondisi air laut cepat surut.
“Dulu disebut marroma sasi, dilaksanakan setiap akhir tahun, bulan desember tapi tanggalnya tidak menentu. Rencana ada arak-arakan petahu, tapi karena tadi air surut lebih awal jadi perahu sulit keluar,” pungkasnya. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.