Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Unik Tradisi Membakar Sulong Menyambut Awal Ramadhan

Penulis / Redaksi: admin
Minggu, 5 Mei 2019 20:32 WITA 1,544 tayangan 2 menit baca
Unik Tradisi Membakar Sulong Menyambut Awal Ramadhan
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
LUYO ,- Beragam tradisi unik dilakukan warga menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, seperti yang dilakukan warga lingkungan Sekka-Sekka, Kelurahan Batupanga, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Minggu petang (05/05/19). Beramai-ramai mereka membakar pelita yang dibuat secara tradisional, yang oleh warga setempat dikenal dengan nama Sulong, namun pada tempat berbeda,  pelita ini juga kerap disebut dengan istilah Palla-pallang. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME, yang telah memberikan umur panjang sehingga warga dapat kembali menjalankan ibadah puasa, tradisi ini juga diyakini dapat memberikan keberkahan keberkahan pada warga khususnya di bulan suci Ramadhan. “ Ini merupakan tradisi, sebagai wujud sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan umur panjang, sehingga kita dapat kembali menunaikan ibadah puasa, cahaya api dari sulong juga kerap dianggap sebagai symbol keberkahan “ tutur salah seorang warga, Idawati, kepada wartawan. Berdasarkan pantauan wartawan, Sulong atau Palla-pallang tidak hanya dibakar di dalam rumah, tetapi pada seluruh penjuru ruangan, dapur, kamar mandi, setiap kamar, teras, semua anak tangga, pot bunga hingga halaman. Banyaknya jumlah Solong atau Palla-pallang yang dibakar, membuat suasana kampung tampak indah oleh cahaya api yang terpancar dari Solong atau Palla-pallang yang terbakar. Solong atau Palla-pallang ini terbuat dari buah kemiri yang ditumbuk bersama kapas hingga menyatu, kemudian dililitkan pada potongan bambu berukuran kecil, mirip membuat sate lilit. Buah kemiri dipilih, lantaran memiliki kandungan minyak yang cukup banyak, sehingga bisa menghasilkan nyala api yang terang dan bertahan cukup kama saat dibakar. “ Namanya sulong, ini sudah menjadi tradisi turun temurun dari leluhur yang rutin digelar setiap awal Ramadhan, ini harapannya supaya kita semua diberkahi dan diberi keselamatan “ harap warga lainnya, Becce dalam bahasa Mandar. Namun sayang, seiring berjalannya waktu, sudah banyak warga yang meninggalkan Solong atau Palla-pallang saat menggelar tradisi ini, mereka lebih memilih menggunakan lilin, yang dianggap lebih praktis dan efektif. (Thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman