Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Tradisi Mangngaro di Mamasa, Ritual Memindahkan Jenazah untuk Hormati Leluhur

Penulis / Redaksi: admin
Rabu, 5 Agustus 2026 19:26 WITA 239 tayangan 3 menit baca
Tradisi Mangngaro di Mamasa, Ritual Memindahkan Jenazah untuk Hormati Leluhur
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
MAMASA,- Sebanyak 48 jenazah yang telah disemayamkan dipindahkan ke tempat baru dalam Tradisi Mangngaro di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar). Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan warga kepada leluhur dan keluarga yang telah mendahului atau meninggal dunia. Tradisi yang diwariskan secara turun temurun ini dilaksanakan masyarakat selama dua hari di Desa Rippung, Kecamatan Messawa, Senin – Selasa (3-4/8). Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam liang, warga terlebih dahulu melakukan ibadah singkat dipimpin seorang pendeta. “Ini adalah tradisi budaya yang turun temurun dari orang tua, mengumpulkan jenazah para keluarga yang telah mendahului,” ujar salah satu tokoh pemuda setempat, Viktor kepada wartawan, Selasa (04/08/2026). Viktor menjelaskan, pelaksanaan Mangngaro memiliki sejumlah rangkaian. Prosesi diawali dengan pembangunan tempat pemakaman baru yang oleh masyarakat setempat disebut liang. Selanjutnya, jenazah nenek Baru’ Buangan dan anak cucunya dikeluarkan dari tempat pemakaman lama untuk disatukan di tempat yang baru. “Rangkaian acaranya itu dimulai dari pembuatan tempat yang baru. Kemudian menggali jenazah para leluhur di berbagai tempat kemudian disatukan kembali di tempat baru,” ungkapnya. Sebelum dimasukkan ke dalam liang, pembungkus jenazah diperbarui dan dirapikan menggunakan kain baru. Pembungkus lama tidak dilepas, melainkan diperbaiki dan dilapisi kembali agar kondisinya lebih rapi. “Kemudian diperbaharui pembungkusnya tanpa melepas pembungkus yang lama, diperbaiki sehingga terlihat lebih rapi kembali,” ujarnya. Menurut Viktor, Mangngaro bukan hanya bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarkeluarga. "Selain penghormatan kepada leluhur, ini juga bagian dari rasa syukur keluarga karena mereka bisa mengumpulkan dan lebih gampang melakukan penghormatan kepada leluhur karena sudah satu tempat. Serta menjadi wujud silaturahmi antar keluarga," jelasnya. [caption id="" align="alignnone" width="698"] Foto : Sejumlah jenazah yang telah dikeluarkan dari tempat persemayaman dikumpulkan dalam tradisi Mangngaro di Desa Rippung, Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa, Senin (03/08/2026).[/caption] Sementara salah seorang warga, Osmond Ompori Allo, mengatakan sebanyak 48 jenazah dipindahkan ke sebuah bangunan permanen berukuran 4,5 x 5 meter. Sebagian jenazah tersebut telah puluhan tahun disemayamkan di tempat sebelumnya. Bahkan, ada jenazah yang diperkirakan telah berada di tempat pemakaman lama selama sekitar 60 tahun. “Tercatat ada 48 jenazah yang dipindahkan ke tempat baru. Ada jenazah yang perkiraan sudah enam puluh tahun disemayamkan, ada juga yang baru beberapa bulan,” ucapnya. Dalam prosesi tersebut, jenazah pasangan suami istri dari nenek Baru’ Buangan menjadi yang pertama dimasukkan ke dalam liang. Selanjutnya, jenazah kerabat lainnya dimasukkan sesuai urutan yang telah ditentukan keluarga. “Yang pertama dimasukkan ke dalam liang adalah jenazah pasangan suami istri nenek Baru’ Buangan. Setelah itu menyusul jenazah kerabat lainnya sesuai dengan urutan yang telah ditentukan,” ungkapnya. Osmond mengatakan, pelaksanaan Mangngaro dihadiri anak cucu dan kerabat nenek Baru’ Buangan yang kini tersebar di sejumlah daerah. Mereka secara bersama-sama membiayai seluruh kebutuhan pelaksanaan tradisi, termasuk pembangunan liang baru. “Kalau biayanya dari semua keluarga rumpung nenek Baru’ Buangan, tidak ditentukan nilainya tetapi semua berkontribusi. Semua keluarga yang tersebar pada sejumlah daerah sengaja datang dan berkumpul di sini untuk melaksanakan tradisi Mangngaro,” tandasnya. Bagi Osmond, Mangngaro bukan sekadar ritual untuk memindahkan jenazah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali mengenang leluhur sekaligus menjaga hubungan antargenerasi. Melalui tradisi ini, generasi muda diperkenalkan kembali pada akar keluarganya. Mereka belajar bahwa ikatan keluarga tidak hanya berkaitan dengan orang-orang yang masih hidup, tetapi juga dengan mereka yang telah lebih dahulu meninggal dunia dan mewariskan nilai-nilai kehidupan. “Mangngaro bukan sekadar memindahkan jenazah. Melalui tradisi ini, generasi muda kembali diperkenalkan pada akar keluarganya, mereka belajar bahwa keluarga bukan hanya tentang orang-orang yang masih hidup, tetapi juga tentang mereka yang telah mendahului dan meninggalkan nilai-nilai kehidupan,” pungkasnya.
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman