Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Tolong ! Bocah Kakak - Adik Lumpuh Derita Tulang Rapuh Tinggal dalam Gubuk di Polman

Penulis / Redaksi: admin
Jumat, 5 Juli 2024 08:32 WITA 1,406 tayangan 3 menit baca
Tolong ! Bocah Kakak - Adik Lumpuh Derita Tulang Rapuh Tinggal dalam Gubuk di Polman
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
POLEWALI MANDAR,- Kakak adik bernama Nur Azizah (12) dan Sri Wulandari (4) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, hidup memprihatinkan karena menderita tulang rapuh membuat keduanya lumpuh. Ironis, keduanya kini harus bertahan hidup dalam gubuk ukuran 3x3 meter karena rumah yang pernah dimiliki orang tuanya telah  dijual untuk biaya pengobatan. "Dokter bilang tulang rapuh," kata sang ibu, Lilis kepada wartawan, Kamis (04/07/2024) kemarin. Nur Azizah dan Sri Wulandari merupakan anak pertama dan ketiga pasangan suami istri bernama Munir (41) dan Lilis (27). Meski dalam administrasi kependudukan keluarga kurang mampu ini tercatat sebagai warga Desa Kuajang, Kecamatan Binuang, namun sejak dua tahun terakhir mereka tinggal di Desa Banato Rejo, Kecamatan Tapango. Menurut Lilis, penyakit yang diderita kedua buah hatinya itu telah pernah diperiksakan ke dokter.  Berbagai pengobatan alternatif juga pernah dicoba namun belum membuahkan hasil. "Sudah pernah ke dokter, bahkan sampai ke Makassar kita berobat. Obat alternatif juga pernah, tapi kondisinya masih seperti sekarang," ungkapnya. Dia mengungkapkan, kondisi kedua buah hatinya itu sangat memprihatinkan. Bahkan kerap terdengar suara retakan pada tulang mereka ketika akan digendong. "Kalau anak pertama baru belajar jalan sudah kena, anak ketiga sejak lahir. Langsung menghitam kaki, bengkak, selalu nangis-nangis, kalau digendong ada suara retak pada tulang," ujar Lilis. Akibat penyakit yang dideritanya, membuat Nur Azizah dan Sri Wulandari hanya dapat terbaring. Dia tidak dapat beraktifitas tanpa bantuan. Bahkan pergelangan tangan dan kaki mereka tampak mengecil dan alami pembengkokan. "Jadi seperti ini saja, tidak bisa bikin apa kalau tidak dibantu. Tangan dan kakinya juga membengkok," tutur Lilis lirih. Sementara sang ayah Munir mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk membiayai pengobatan kedua buah hatinya itu. Diakui, upah yang diperoleh sebagai buruh pembuat batu merah juga terkadang tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. "Kami sudah tidak punya biaya. Saya hanya bekerja sebagai pembuat bata merah dengan upah pas-pasan," ucapnya. Bahkan menurutnya, sebuah rumah layak yang pernah dimiliki juga telah dijual untuk membiayai pengobatan kedua anaknya itu. "Uangnya hasil jual rumah juga sudah habis untuk biaya pengobatan. Sebagian disisihkan untuk membeli sepetak lahan dan belum lunas sampai sekarang ini," jelas Munir. Dia mengungkapkan, jika gubuk tempat tinggalnya saat ini didirikan di atas lahan milik warga. Gubuk berukuran sekira 3x3 meter itu hanya beratapkan rumbia dan menggunakan terpal sebagai dinding. Lantainya terdiri dari batu merah yang disusun kemudian diberi pengalas dari terpal. Tidak ada barang berharga yang terlihat dalam gubuk keluarga kurang mampu ini. Bahkan sekedar untuk alas tidur mereka hanya menggunakan karpet usang.  Tidak jarang mereka harus mengungsi, apalagi saat diterpa angin kencang maupun ketika hujan deras mengguyur. Munir mengaku memilih bertahan di gubuk tersebut bersama keluarganya karena sudah tidak memiliki rumah. Dia juga mengatakan jika lokasi gubuk yang menjadi istana keluarga kecilnya itu, berdekatan dengan tempatnya bekerja saat ini. "Sekarang sudah tidak punya rumah jadi tinggal di sini, biar lebih dekat juga dengan tempat bekerja," ucapnya. Lebih lanjut Munir menambahkan jika dirinya sengaja belum memindahkan status kependudukannya dari Desa Kuajang ke Desa Banato Rejo, karena khawatir kehilangan bantuan sosial jika status kependudukannya dipindahkan. "Itu alasannya, jangan sampai kalau saya pindah kartu tanda penduduk (Ktp), saya tidak dapat lagi bantuan sosial," jelasnya. Baik Munir maupun istrinya Lilis, sangat mengharapkan bantuan biaya pengobatan agar penyakit yang diderita kedua buah hatinya itu bisa sembuh. Sehingga kelak keduanya tumbuh normal seperti anak lainnya. "Harapan kami hanya itu, semoga pengobatan Nur Azizah dan Sri Wulandari bisa dilanjutkan sehingga keduanya bisa sembuh," pungkasnya.
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman