Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Setahun Pasca Diguncang Gempa, 117 KK di Majene Masih Bertahan di Pengungsian

Penulis / Redaksi: admin
Jumat, 14 Januari 2022 17:19 WITA 483 tayangan 3 menit baca
Setahun Pasca Diguncang Gempa, 117 KK di Majene Masih Bertahan di Pengungsian
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
MAJENE,- Sudah setahun lamanya, 117 Kepala Keluarga (KK) dari Dusun Aholeang dan Dusun Rui di Desa Mekatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, harus bertahan hidup di pengungsian. Rumah dan kawasan pemukiman mereka porak-poranda diguncang gempa bumi berkekuatan 6,2 Magnitudo yang terjadi pada 15 Januari 2021 lalu. Para pengungsi itu harus bertahan hidup di bawah tenda darurat dengan kondisi memprihatinkan. Pasalnya, tenda yang mereka manfaatkan sebagai tempat bernaung dari sengatan terik matahari hingga terpaan hujan, sudah mulai lapuk dan robek. Tidak jarang tenda tersebut terbongkar akibat tiupan angin kencang. Lokasi tempat para warga ini mengungsi, berada di tengah kawasan perkebunan sawit, jauh dari lokasi pemukiman mereka yang dulu. Para pengungsi sangat berharap, pemerintah segera memberikan tempat tinggal  layak berupa hunian permanen. Apalagi, tenda yang sejak setahun terakhir menjadi rumah sementara bagi para pengungsi sudah tidak layak. "Biar sederhana yang penting ada, dari pada tinggal di tenda pengungsian seperti ini, kalau hujan kehujanan, ada angin kedinginan, kalau siang kepanasan,"ujar Adiat kepada wartawan, Jumat (14/01/2022). Selain itu, Adiat dan pengungsi lainnya juga masih mengharapkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, jarak tempat pengungsian dengan kebun yang selama ini menjadi tumpuan utama mereka untuk hidup sangat jauh. "Kalau tidak ada bantuan logistik, mau tidak mau kami harus ke kebun mengambil hasil bumi seperti singkong, meski jaraknya jauh kami kesana untuk mengambilnya," kata Adiat sambil meneteskan air mata. Harapan serupa disampaikan Kepala Dusun Aholeang, Lukman. Menurutnya, kebutuhan yang saat ini sangat mendesak bagi para pengungsi adalah hunian permanen. "Saya selalu ditanya masalah itu, saya tidak tahu menjawab karena belum ada  kejelasan dari pemerintah. Olehnya itu, kami berharap pemerintah segera merealisasikan hunian permanen ini, karena kasihan sudah satu tahun tinggal di tenda pengungsian," ungkapnya. Sementara itu, Kepala Desa Mekatta Haeruddin menyebut, sedikitnya 117 Kepala Keluarga (KK) dari desanya yang masih bertahan hidup di pengungsian dan membutuhkan hunian permanen. Dari Dusun Aholeang sebanyak 76 KK, sedangkan dari Dusun Rui sebanyak 41 KK. "Kami berharap pemerintah segera merealisasikan hunian permanen untuk para pengungsi. Karena itu yang sangat mendesak sekarang ini,”terang Haeruddin. Kepala BPBD Majene Ilhamsyah mengungkapkan, jika pemerintah setempat telah menyediakan lahan sebagai tempat relokasi untuk warga Dusun Aholeang dan Dusun Rui. Menurutnya, saat ini sedang dilakukan pembangunan 10 unit rumah hunian untuk pengungsi. Pada tahap berikutnya akan dibangun 40 unit hunian. “Jadi pembangunan huntapnya sementara dilakukan," beber Ilhamsyah terpisah.. Wakil Bupati Majene Arismunandar menambahkan, pemerintah Kabupaten Majene telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, untuk membantu percepatan pembangunan sarana dan prasarana pada kedua dusun tersebut. "Kami sudah meminta data kepada pak desa, terkait kebutuhan sandang pangan, seperti beras, pakaian, alat masak, dan mandi. Kami usahakan lewat Kementerian sosial agar kebutuhan tersebut bisa terpenuhi,"pungkasnya. (Thaya)  
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman