Pilu Salasiah, Lansia Penjual Sabut Kelapa di Tinambung
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 23 Mei 2022 06:39 WITA
588 tayangan
3 menit baca
TINAMBUNG,- Seorang wanita tua di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, berjuang bertahan hidup mengandalkan profesi sebagai penjual sabut kelapa. Setiap hari dia harus berjalan kaki sejauh dua kilometer, demi mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah.
Kisah memilukan ini dijalani Salasiah (65 tahun), warga Dusun Lambe, Desa Karama, Kecamatan Tinambung. Diakui, profesi sebagai penjual sabut kelapa telah puluhan tahun dijalani.
“Sudah lama (menjual sabut kelapa), mungkin sudah puluhan tahun,”kata Salasiah kepada wartawan, Minggu (22/05/2022).
Menurut Salasiah, sabut kelapa yang dijual seharga 5000 rupiah per ikat, dikumpulkan dari kebun warga. Terkadang, dia menjual sabut kelapa orang lain dan hasil penjualannya harus dibagi dua. Rata-rata dalam sehari, penghasilan yang diperoleh dari hasil menjual sabut kelapa, hanya sebanyak 10 ribu rupuah.
“Biasa dapat dari kebun warga. Kadang juga sabutnya orang yang dijual, jadi hasilnya juga harus dibagi dua,”ujarnya sambil tersenyum.
Sebelum dijual, sabut yang terkumpul terlebih dahulu harus dijemur pada lahan kosong di sekitar tempat tinggalnya. Sabut kelapa ditawarkan dengan cara berjalan kaki menyusuri jalan kampung. Dua ikat sabut kelapa, dipikul di pundak menggunakan sepotong kayu.
Saat menyusuri jalan kampung, tidak jarang Salasiah harus berhenti sejenak, apalagi ketika melewati jalan menanjak. Ia harus beristirahat untuk mengatur nafas yang tersengal.
“Kalau melewati jalan menanjak, biasa lama di jalan, karena harus banyak istirahat karena capek,”imbuhya.
Diakui Salasiah, profesi sebagai penjual sabut tidak lagi mudah dijalani apalagi usianya sudah semakin senja. Meski kerap merasa lelah, ia mengaku tidak punya pilihan dan harus memaksakan diri, demi mendapat sedikit uang sebagai bekal hidup di rumah.
“Ya mau bagaimana lagi nak. Terkadang saya harus paksakan diri, apalagi kalau sudah tidak ada ikan di rumah,”ujarnya lirih.
Sehari-hari Salasiah tinggal bersama suaminya bernama Kunnung (65 tahun). Malang, tanggung jawab mencari nafkah terpaksa dipikul Salasiah, lantaran Kunnung yang dulunya berprofesi sebagai nelayan, kini kerap sakit-sakitan dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Salasiah bersyukur, lantaran banyak warga peduli dengan kondisinya. Tidak jarang dalam perjalanan menjual sabut kelapa, ia mendapat bantuan warga yang bersimpati terhadapnya.
Demikian pula pemerintah setempat yang diakui telah memberikan bantuan bedah rumah, dan bantuan sosial lain setiap bulannya.
“Alhamdulillah, biasa ada warga yang bantu, mereka kasih beras atau ikan. Setiap bulan juga dapat bantuan dari pemerintah,”tandasnya.
Walau menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan, Salasiah enggan mengeluh. Dalam setiap sujudnya teriring doa dan harapan, agar Tuhan senantiasa memberi kesehatan dan kekuatan untuk melewati beratnya cobaan hidup yang dilalui saat ini.
“Saya selalu berdoa, berharap Tuhan selalu memberi kekuatan dan kesehatan agar dapat terus bekerja,”tutup Salasiah. (Thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.