Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Perkenalkan Budaya, 100 Penenun Tampil Serentak Meriahkan Acara Banua Kaeyyang di Polman

Penulis / Redaksi: admin
Kamis, 24 Juli 2025 07:09 WITA 590 tayangan 2 menit baca
Perkenalkan Budaya, 100 Penenun Tampil Serentak Meriahkan Acara Banua Kaeyyang di Polman
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
POLEWALI MANDAR,- Sebanyak 100 penenun tradisional tampil serentak dalam acara Banua Kaeyyang di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Tujuannya untuk memperkenalkan dan mewariskan budaya menenun kepada generasi masa kini. Banua Kaeyyang Multicultural Attraction berlangsung di Lapangan Gas Pambusuang, Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Rabu (23/07). Kegiatan ini diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII. Selain menghadirkan 100 penenun yang serentak mempraktekkan proses menenun menggunakan alat tradisional, kegiatan juga dimeriahkan pertunjukkan teater menceritakan kegiatan warga di masa lampau. Ada juga penampilan puluhan gadis cantik dalam balutan busana adat yang menari kolosal serta atraksi 30 kuda menari atau saeyyang pattudu yang menarik perhatian warga. "Dalam kegiatan ini kita mencoba mengangkat objek-objek kebudayan yang ada di masa silam hingga saat ini. Contohnya kita mencoba menghadirkan 100 penenun sebagai bentuk pelestarian dan pewarisan kebudayaan pada generasi muda," kata panitia kegiatan, Adil Tambono kepada wartawan, Rabu (23/07/2025). Menurut Adil, kegiatan ini penting untuk dilaksanakan. Sebab, dari tahun ke tahun budaya menenun terancam mengalami kepunahan. "Karena kita ketahui bersama bahwa penenun di Polewali Mandar ini dari tahun ke tahun, dari masa ke masa sudah hampir mengalami kepunahan. Karena generasi kita saat ini sangat jarang yang mau belajar menenun," ungkapnya. Adil berharap, kegiatan ini bisa menjadi pemantik khususnya bagi pemerintah untuk terus mendukung upaya pelestarian budaya menenun di daerah ini. "Ini akan menjadi kajian dan kegiatan ini menjadi pemantik pemerintah agar bagaimana kehadiran pemerintah dalam pelestarian kebudayaan itu sangat dibutuhkan," ujarnya. Dalam kegiatan ini, Adil mengaku mencoba menghadirkan semua unsur budaya tenun yang ada di Sulawesi Barat. Mulai dari tenun Sa’be Mandar yang umumnya ada di Kabupaten Polewali Mandar, tenun Sekomandi dari Kabupaten Mamuju serta tenun Sambu Mamasa dari Kabupaten Mamasa. "Karena kita satu Sulawesi Barat, maka kita menghadirkan Sekomandi dari Mamuju, Sambu dari Mamasa, Sabbe dari Mandar. Kita menghadirkan semua unsur-unsur kebudayaan sebagai warisan budaya yang ada di Sulawesi Barat, jadi tenunan ini kita mengkolaborasi," jelasnya. Bahkan, penari kolosal dalam kegiatan ini menampilkan gerakan yang diilhami gerak dalam setiap proses menenun. "Jadi tenunan ini kita mengkolaborasi, di dalam tari kolosal tadi ini kita memang coba menghadirkan gerak yang berangkat dari spirit penenun itu sendiri," jelas Adil. Adil juga menjelaskan, bahwa pemilihan nama Banua Kaeyyang dalam kegiatan ini merujuk pada empat wilayah besar yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Balanipa. "Berbicara Banua Kaeyyang berangkat dari history dari cikal bakal pembentukan kerajaan Balanipa, itulah kenapa kegiatan ini ditempatkan di Balanipa," pungkas Adil. (thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman