Pemprov Sulbar Perkuat Hilirisasi Kakao dan Kopi untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Penulis / Redaksi:
admin
Selasa, 3 November 2026 17:32 WITA
23 tayangan
2 menit baca
MAMUJU,- Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) terus mendorong pengembangan kakao dan kopi sebagai komoditas unggulan daerah. Melalui strategi hilirisasi, kedua komoditas tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rekomendasi Core Competence Sulbar yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulbar di Ruang RPJMD Kantor Bapperida Sulbar, Selasa (28/07). Dalam forum tersebut, Bapperida menyoroti pentingnya optimalisasi potensi kakao dan kopi. Pasalnya, besarnya produksi kedua komoditas unggulan itu dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi petani maupun perekonomian daerah.
Kepala Bapperida Sulbar, Amujib, mengatakan penyusunan core competence daerah harus mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pembangunan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, kajian yang disusun tidak boleh berhenti sebatas dokumen, tetapi harus menjadi landasan dalam menentukan arah pembangunan daerah.
Sulbar, kata dia, memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis komoditas unggulan, terutama kakao dan kopi.
Berdasarkan data tahun 2025, produksi kakao Sulbar mencapai sekitar 66,1 ribu ton dengan luas areal perkebunan 140,9 ribu hektare. Sementara itu, produksi kopi tercatat sekitar 5,2 ribu ton dari lahan seluas 17,1 ribu hektare.
Potensi tersebut semakin strategis mengingat sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian daerah dengan kontribusi sekitar 47,73 persen terhadap struktur ekonomi Sulbar. Adapun pertumbuhan ekonomi Sulbar tercatat mencapai 5,36 persen.
Meski memiliki potensi produksi yang besar, Amujib menilai kondisi tersebut belum otomatis berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana mengubah keunggulan komparatif daerah menjadi keunggulan kompetitif melalui hilirisasi, inovasi, serta penguatan rantai nilai komoditas.
"Kita tidak cukup hanya meningkatkan produksi kakao dan kopi. Tantangan kita adalah bagaimana mengubah produksi tersebut menjadi produktivitas, nilai tambah industri, investasi, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan petani, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat Sulawesi Barat," ujar Amujib dalam keterangannya, Selasa (28/07/2026).
Lebih jauh, transformasi ekonomi berbasis komoditas unggulan diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Hal itu dapat diwujudkan melalui peningkatan pendapatan petani, berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terbukanya lapangan kerja baru, hingga percepatan pengentasan kemiskinan. (Rls)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
