Miris, Wanita Lumpuh Tinggal di Gubuk Reyot Polman Terhenti Dapat Bansos gegara Masuk Desil 5
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 14 September 2026 08:37 WITA
171 tayangan
3 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Seorang wanita bernama Uni (41) yang mengalami kelumpuhan dan tinggal di gubuk reyot di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), tak lagi menerima bantuan sosial (bansos) beras gegara masuk kategori Desil 5. Dia pun terpaksa mengandalkan belas kasih warga hingga berhutang agar mendapatkan sedikit beras untuk kebutuhan sehari-hari.
Uni merupakan warga Dusun Pangalo, Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian. Dia sehari-hari tinggal bersama anaknya, Sulfa (14). Gubuk tempat tinggal ibu dan anak itu hanya berukuran 5x6 meter.
Gubuk tersebut jauh dari kata layak sebagai tempat tinggal. Hanya beratapkan daun rumbia, sementara bagian dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang telah lapuk dan berlubang di sejumlah bagian.
Lantainya pun masih seadanya. Permukaannya hanya dipadatkan menggunakan semen kasar dan sebagian dilapisi plastik usang.
"Biasa kalau tidak ada keluarga yang beri beras, terpaksa berhutang karena sudah lama tidak pernah dapat bantuan," kata Uni kepada wartawan, Minggu (13/09/2026).
Sudah bertahun-tahun Uni tidak dapat bekerja karena mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kondisi tersebut membuatnya lebih banyak terbaring dan bergantung pada orang lain untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi tersebut, Uni hanya mengandalkan anaknya, Sulfa, untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Meski usianya masih sangat belia, tugas merawat sang ibu dipikul Sulfa seorang diri. Sebab, Sulfa tidak memiliki saudara. Sementara ayahnya sudah lama meninggal dunia.
Uni mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan dirinya tidak lagi menerima bansos beras seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia hanya mendapat informasi bahwa dirinya kini masuk dalam kategori Desil 5.
"Saya juga tidak tahu apa masalahnya, padahal tahun lalu selalu dapat bantuan beras. Tapi katanya saya masuk desil 5," ujarnya lirih.
Sementara Sulfa mengaku sempat berjualan untuk mendapatkan penghasilan tambahan guna membantu memenuhi kebutuhan hidup bersama ibunya. Namun, usaha itu akhirnya terhenti karena modal yang dimiliki telah habis.
"Dulu pernah jualan. Tapi sudah lama berhenti karena modalnya sudah habis," bebernya.
Sulfa pun berharap pemerintah dapat kembali memberikan bantuan beras kepada keluarganya. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti untuk meringankan beban ekonomi mereka.
“Semoga bisa lagi mendapat bantuan beras secara rutin seperti dulu. Supaya tidak perlu lagi berhutang untuk dapat beras,” ucapnya.
Kepala Desa Katumbangan, Nuranda Tato, membenarkan bahwa warganya tersebut tidak lagi menerima bansos berupa beras. Namun, dia menyebut Uni masih tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa.
Nuranda juga mengaku kerap berupaya menyisihkan bantuan beras untuk diberikan kepada Uni.
“Tidak ada memang datang namanya, berarti tidak ada undangan untuk dapat bansos. Tapi dia dapat BLT desa, tahun ini juga masih dapat,” terangnya melalui sambungan telepon.
“Biasa kita upayakan ada bantuan-bantuan lain yang bisa diberikan termasuk beras,” sambungnya.
Dia mengaku heran dengan data Uni yang masuk dalam kategori Desil 5. Dia menilai Uni sangat layak masuk dalam kategori Desil 1.
Apalagi, pihak dinas sosial setempat sudah berulang kali berkunjung untuk melihat kondisi Uni dan Sulfa yang kerap viral di media sosial.
“Saya juga tidak tahu kenapa bisa masuk desil 5, karena sepertinya sudah pernah diurus orang dinsos. Padahal sangat layak masuk Desil ,” ungkapnya.
Menurut Nuranda, status Desil 5 tersebut tidak hanya berdampak pada pemberian bantuan beras, juga menyulitkan pemerintah desa dalam mengusulkan bantuan bedah rumah untuk Uni.
Nuranda menjelaskan, program bedah rumah yang dapat diusulkan saat ini diprioritaskan bagi warga yang masuk dalam kategori Desil 1 dan Desil 2.
“Makin parah memang kondisi rumahnya. Pernah diusul (dapat bedah rumah), cuman sampai desil 1 dan 2 saja, dia tidak masuk jadi tidak bisa diusul,” tandasnya.
Meski demikian, pemerintah desa berencana mengupayakan perbaikan data desil Uni melalui mekanisme sanggah yang akan dilakukan operator desa.
“Kita akan berupaya lakukan perbaikan data desil, itu akan kita perbaiki, Kita akan bermohon, kita akan sanggah kalau memang tidak layak di desil yang sekarang ini,” pungkasnya. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
