MAMASA,- Malang nasib Pappa (74 tahun) dan Mariam (70 tahun), warga Desa Osango, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa.
Diusia yang tidak lagi muda, sehari-hari pasangan suami istri (pasutri) ini harus berjuang bertahan hidup, dalam gubuk reot berukuran 2 x 3 meter, dengan kondisi memprihatinkan.
Gubuk tersebut berada di bukit, terpisah dari pemukiman warga. Dibangun menggunakan bahan seadanya dan beratapkan alang-alang. Bagian dalam gubuk Pappa dan Mariam terlihat sangat kotor, tanpa barang berharga. Hanya ada sejumlah pakaian serta perlengkapan dapur, yang terlihat berantakan.

Tidak jarang, pasutri malang ini harus tidur dalam kondisi basah kuyup, lantaran gubuk yang mereka tempati ditembus hujan. Keduanya juga hanya dapat pasrah melihat gubuk yang ditopang menggunakan kayu seadanya, bergoyang ketika diterpa angin kencang.
Untuk bertahan hidup, setiap hari sang suami Pappa, membuat anyaman kurungan ayam yang dan penampi beras. , yang dijual seharga 60 ribu rupiah. Dengan penghasilan yang tidak menentu, tidak jarang membuat pasutri ini, terpaksa menahan lapar, jika tidak ada uang untuk membeli beras.
“ Sudah sepuluh tahun lebih kami berdua tinggal di sini, tinggal bersama cucu, untuk bertahan hidup mengandalkan uang hasil berjualan kurungan ayam “ ujar Mariam lirih kepada wartawan yang berkunjung, Rabu (15/01/20).

Ironis, kendati kondisi memprihatinkan yang dialami Pappa dan Mariam sudah berlangsung lama, keduanya mengaku belum pernah mendapat bantuan pemerintah, “ Tidak pernah ada dapat bantuan “ jelas Mariam.
Baik Pappa dan Mariam sangat berharap, kelak mendapat perhatian dari pemerintah, agar usia tuanya bisa dihabiskan dengan kondisi hidup yang lebih layak. Keduanya mengaku heran lantaran tidak tersentuh perhatian, padahal gubuk mereka hanya berjarak sekitar 500 meter dari Kantor Bupati Mamasa. (Thaya)