Meriah Pagelaran Budaya dan Tradisi Khitanan di Kunyi Polman
Penulis / Redaksi:
admin
Minggu, 11 Januari 2026 17:56 WITA
216 tayangan
2 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Warga Desa Kunyi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), menggelar pagelaran budaya dan tradisi khitanan. Tujuannya, untuk mempertahankan dan memperkenalkan tradisi leluhur kepada generasi masa kini.
“Ini bagian dari acara massunna (khitanan). Dilaksanakan ketika anak mau disunnat (khitan),” kata Kepala Desa Kunyi, Anri kepada wartawan, Sabtu (10/01/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan warga ini berlangsung di Desa Kunyi, Kecamatan Anreapi, Sabtu kemarin (10/01) sekira pukul 09.00 WITA. Dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat dan unsur pemerintah.
Kegiatan diawali ritual pembersihan belasan anak yang akan dikhitan. Mereka diajak menuju bantaran sungai kunyi lalu menggelar doa bersama dipimpin tokoh masyarakat setempat.
Setelah itu, para orang tua mencuci kaki dan wajah anak yang akan dikhitan, menggunakan air dari pertemuan arus dua sungai yang oleh warga setempat dikenal dengan nama wai sitammu.
“Mengawali acara, anak yang akan disunat dibawa ke sungai untuk dibersihkan, penyucian,” ungkap Anri.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan di kawasan wisata puncak kunyi. Di tempat ini, anak-anak yang akan dikhitan mengikuti tradisi mappacci.
Pukulan gendang adat dilanjutkan dengan tarian penyambutan, mengawali tradisi mappacci sebagai simbol penghormatan serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Satu persatu orang tua anak, tokoh masyarakat, tokoh adat hingga perwakilan pemerintah naik ke atas panggung untuk memberi doa kepada anak yang akan dikhitan.
Prosesi adat Mapacci merupakan simbol pensucian diri, doa keselamatan, serta harapan akan masa depan yang baik bagi anak yang menjalani khitanan adat.
Rangkaian prosesi mapacci diakhiri dengan doa dan shalawat khusus untuk kedua orang tua, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan dalam mendidik putra tercinta.
Menurut Anri, pelaksanaan kegiatan ini juga bertujuan mempererat tali silaturahmi antar warga. Dia berharap, tradisi dapat terus dipertahankan tanpa bertentangan dengan norma agama.
“Bagaimana tradisi itu dipertahankan dan tidak bertentangan dengan syariat islam. Kemudian, dengan adanya tradisi itu bagaimana menguatkan ukhuwa islamiyah, bagaimana hubungan silaturahmi antara keluarga yang satu dengan yang lain terjalin dengan bagus,” pungkasnya.
Acara dirangkaian dengan penyerahan penghargaan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada para tokoh, pengisi acara, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.