Menangis Massal
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 5 September 2022 16:07 WITA
867 tayangan
3 menit baca
M Danial
SABTU siang jelang dhuhur. Seorang pria beranjak dari kerumunan teman -teman seprofesinya pengemudi pete-pete di Wonomulyo, Polewali Mandar. Sejenak, pria itu terlihat membaca pesan di HP-nya, lalu menelepon entah siapa. Percakapannya soal harga BBM yang diumumkan naik mulai pukul 14,30.
"Jangan bercanda, bro. Sudah naik betulmikah? Berapa naiknya? Harga pastinya berapa satu liter?" pertanyaannya beruntun kepada lawan bicaranya di seberang telepon. Ia seolah tidak percaya. Teman-temannya pun tidak langsung percaya.
"Kasih speaker HP-mu, kawan," desak seorang di antara mereka, penasaran. Mereka tidak percaya harga BBM naik, karena Presiden Joko Widodo pernah berjanji tidak akan ada kenaikan harga BBM hingga akhir tahun ini.
Dikutip dari medcom.co.id (13/7/2022), Presiden Joko Widodo menjamin harga BBM bersubsidi tidak akan ada kenaikan hingga akhir tahun. Presiden menjanjikan hal yang sama untuk listrik dan gas LPG tiga kilogram. Janji Presiden tersebut, disampaikan pada pertemuan dengan anggota Dewan Penasehat Forum Pemred di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 13 Juli.
Diketahui, pemerintah memutuskan penyesuaian harga BBM, Sabtu 3 September mulai pukul 14,30. Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato mengenai kenaikan harga tersebut, di Istana Negara, satu jam sebelum harga baru BBM diberlakukan.
Harga baru Pertalite Rp10.000 per-liter, Solar Rp6.800, dan Pertamax nonsubsidi Rp14.500.
"Tambah tersiksami kita ini rakyat kecil," keluh seorang sopir, penuh kedongkolan.
"Kita ini rakyat kecil selalu jadi korban, termasuk korban janji," tukas yang lain, seraya membuang sebatang rokok yang baru beberapa kali dihisap, lalu diinjak-injak ke tanah sebagai ekspresi kedongkolan. Para sopir angkutan umum merasa kesulitan juga karena penetapan tarif baru selalu terlambat dilakukan pemerintah. Tidak heran, mereka harus berdebat dengan penumpang yang kerap tidak mau mengerti sewa angkutan naik. Penumpang berdalih belum ada keputusan tarif baru dikeluarkan pemerintah. Lagi-lagi pemerintah juga.
Obrolan para sopir bubar. Mereka bergegas menuju ke SPBU. Berharap bisa mengisi BBM dengan harga lama Pertalite Rp7.650 per-liter. Harapannya buyar. Antrean sudah panjang seperti hari-hari sebelumnya. Para pengguna kendaraan bermotor harus rela berjam-jam, bahkan sampai tengah malam menunggu pelayanan di SPBU, jauh sebelum wacana kenaikan harga BBM.
Dalam kondisi yang sudah serba sulit, dimatikan makin sulit lagi karena kenaikan harga BBM. Rakyat kecil hanya bisa pasrah menjalani kesulitan. Mereka tidak bisa berbuat banyak, selain mengenang janji yang ramai pada masa pemilu. Hanya bisa membayangkan penghasilan untuk hidup yang lebih baik, seperti mimpi yang lenyap saat bangun tidur. Orasi dan teriakan di jalan, pun sampai ke ruangan di gedung wakil rakyat, selalu berlalu seperti angin menghembus onggokan ban yang terbakar di jalan raya.
Saat membuat tulisan ini, saya teringat beberapa elit politik yang sampai meneteskan air mata menolak kenaikan harga BBM, beberapa tahun lalu. Kala itu, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sokarnoputri seolah tidak bisa membendung air matanya karena sakit hati melihat kemiskinan di Indonesia, yang diakibatkan kenaikan harga BBM.
"Banyak rakyat lapar karena tingginya angka kemiskinan, tidak mendapat pendidikan yang bagus, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik," ujar Megawati dengan suara parau menahan tangis, pada Rakernas PDI Perjuangan di Makassar, Sulawesi Selatan, 27 Mei 2008.
Dikutip dari suara.com, bukan cuma Megawati yang menangis. Puan Maharani yang saat itu sebagai Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR-RI, menangis di ruang sidang, memprotes kenaikan harga BBM. Beberapa politikus PDI Perjuangan juga menangis dengan alasan serupa.
Tidak ada lagi tangisan para elit politik merespon kenaikan harga BBM akhir pekan lalu, sebagaimana pada 2008. Yang tetap menangis adalah rakyat kecil, lantaran makin terhimpit kesulitan ekonomi. Tapi tangisannya tak terdengar ditelan gemuruh kepentingan kekuasaan. Kini, rakyat kecil hanya bisa bersabar, karena air matanya sudah kering dalam kepasrahan. Entah, suara dan keluhan mereka bisa terdengar dengan menangis massal, nangis bareng-bareng. Wallahu alam. (*)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
