Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Kisah Pria Lansia di Polman Menyabung Nyawa Berburu Sarang Lebah

Penulis / Redaksi: admin
Jumat, 2 Februari 2024 16:30 WITA 743 tayangan 3 menit baca
Kisah Pria Lansia di Polman Menyabung Nyawa Berburu Sarang Lebah
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
POLEWALI MANDAR,- Pria berusia lanjut bernama Hamma Nur (65) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, berjuang menyambung hidup dengan bekerja sebagai pencari sarang lebah untuk diambil madunya. Dalam sehari, dia  bisa mendapatkan 3 hingga 10 botol madu yang dijual seharga Rp 120 ribu per botol. "Biasa dapat tiga, biasa juga sampai 10 botol. Kadang juga tidak ada sama sekali," kata Hamma Nur kepada wartawan, Kamis (1/2/2024). Hamma merupakan warga Kelurahan Batupanga, Kecamatan Luyo. Profesi sebagai pencari sarang lebah untuk diambil madunya telah ditekuni ayah 8 anak ini sejak 35 tahun terakhir. Untuk mendapatkan sarang lebah bukanlah perkara mudah bagi Hamma karena usianya sudah tidak lagi muda. Apalagi untuk menjangkau sarang lebah, harus dipanjat karena kebanyakan menempel di atas pohon setinggi puluhan meter. "Rata-rata sarang lebah berada di atas pohon. Biasa ada sarang yang berada di atas pohon setinggi 40 meter," ungkap Hamma. Perjuangan Hamma memanjat pohon tinggi untuk mendapatkan sarang lebah yang akan diambil madunya, dilakukan tanpa menggunakan alat keselamatan ataupun pelindung diri dari sengatan lebah. Pohon tinggi tempat sarang lebah menempel, dipanjat dengan berbekal sebatang bambu dan tali sepanjang puluhan meter. Tidak jarang Hamma harus menyabung nyawa, karena saat berada di puncak kerap harus berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Perpindahan dari satu pohon ke pohon lain dilakukan dengan merayap pada seutas tali yang telah dihubungkan pada kedua pohon. Untuk menghindari sengatan, koloni lebah terlebih dahulu harus diusir menggunakan asap sebelum sarangnya diambil. Asap tersebut bersumber dari daun kelapa kering yang telah disiapkan dan ikut dibawa serta saat memanjat pohon. "Tapi biasa juga tidak pergi lebahnya biar sudah diasapi. Kalau sudah begitu, kita harus buru-buru turun agar tidak diserang, karena sangat berbahaya. Nanti lebahnya pergi baru kita kembali lagi," tutur Hamma. Lebih lanjut Hamma  mengungkapkan,  perjuangan memanjat sarang lebah di atas pohon tinggi tidak selalu berbuah hasil sesuai yang diharapkan. Sebab, terkadang ada sarang yang masih sangat muda ataupun sudah tua, sehingga tidak memiliki madu. "Biasa juga kita gagal. Apalagi kalau sarangnya masih muda atau sudah terlalu tua, jadi tidak ada madunya," ungkap Hamma sembari tersenyum. Dia mengaku, dalam sehari bisa memanjat tiga hingga lima pohon sarang lebah untuk diambil madunya. Sarang lebah itu kerap ditemukan di kawasan hutan ataupun di tengah areal perkebunan warga. "Biasa tiga sampai lima pohon dipanjat, tergantung juga tinggi dan kesulitannya. Kadang dapat di hutan kalau kita pergi mencari, biasa juga dapat di tengah kebunnya warga," jelas Hamma. Menurut Hamma, madu yang terkumpul dari sarang lebah yang ditemukan di hutan hasilnya diambil sendiri. Sedangkan madu yang diperoleh dari sarang di kebun warga hasilnya dibagi dua dengan pemilik kebun. "Kalau yang kita cari sendiri di hutan, biasanya madunya kita ambil semua. Tapi kalau yang ditemukan di kebunnya warga, harus dibagi dua berapapun hasilnya," pungkas Hamma. (thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman